Kepada Anak
Sebelum berangkat sekolah
periksa dulu semua buku
semua pensil
atau sebutir nasi pada bibir
Sebelum meninggalkan rumah
Ciumlah
tangan Ayah
Ciumlah selalu
tangan Ibu
Dan ucapkan
Salam sejahtera
Baca bismillah
Sebelum melangkah
Adalah kewajibanku mengingatkan
Selagi kalbumu belum tercemar
Selagi telingamu masih sudi mendengar
Karena
di sana
menghadang lumat nikmat dunia
yang siap menerkam kita semua
Sumber: Aura Para Aulia (1990)
Analisis Puisi:
Puisi "Kepada Anak" karya Motinggo Boesje merupakan puisi nasihat yang sarat dengan nilai pendidikan, moral, dan spiritual. Melalui bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, penyair menyampaikan pesan seorang orang tua kepada anaknya agar menjalani kehidupan dengan disiplin, hormat kepada orang tua, serta selalu mengingat Tuhan dalam setiap langkah kehidupan.
Puisi ini tidak hanya berbicara tentang rutinitas seorang anak sebelum berangkat ke sekolah, tetapi juga mengandung ajaran yang lebih luas mengenai pembentukan karakter. Penyair mengingatkan bahwa dunia di luar rumah penuh dengan godaan yang dapat menyesatkan manusia jika tidak memiliki pegangan moral dan spiritual yang kuat.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pendidikan karakter dan nasihat orang tua kepada anak. Tema pendukung yang terdapat dalam puisi ini meliputi:
- Kasih sayang orang tua.
- Pendidikan moral.
- Penghormatan kepada orang tua.
- Nilai keagamaan.
- Kewaspadaan terhadap godaan dunia.
Puisi ini bercerita tentang seorang orang tua yang memberikan pesan kepada anaknya sebelum berangkat ke sekolah.
Orang tua tersebut mengingatkan anak agar mempersiapkan segala keperluan sekolah dengan baik, seperti memeriksa buku dan pensil. Bahkan hal kecil seperti memastikan tidak ada sisa nasi di bibir pun menjadi bagian dari pembelajaran kedisiplinan dan kerapian.
Selain itu, anak diajarkan untuk mencium tangan ayah dan ibu sebagai bentuk penghormatan serta memohon restu sebelum meninggalkan rumah. Anak juga diingatkan untuk mengucapkan salam dan membaca bismillah sebelum melangkah.
Pada bagian akhir, penyair menjelaskan alasan di balik nasihat tersebut. Orang tua merasa memiliki kewajiban untuk membimbing anak selama hati dan pikirannya masih terbuka terhadap kebaikan, karena dunia di luar sana menyimpan berbagai godaan yang dapat menjerumuskan manusia.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa pendidikan yang sesungguhnya tidak hanya diperoleh di sekolah, tetapi juga berasal dari keluarga.
Penyair menekankan pentingnya membangun karakter anak sejak dini melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana, seperti disiplin, menghormati orang tua, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa masa kanak-kanak merupakan periode penting untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan. Ketika hati masih bersih dan pikiran masih mudah menerima nasihat, orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk membentuk kepribadian anak.
Selain itu, puisi ini mengingatkan bahwa dunia menawarkan berbagai kenikmatan yang dapat membuat manusia lupa pada nilai-nilai moral jika tidak memiliki pegangan yang kuat.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang terkandung dalam puisi ini adalah:
- Biasakan hidup disiplin dan teratur sejak usia dini.
- Hormatilah ayah dan ibu serta mintalah restu mereka.
- Awali setiap kegiatan dengan mengingat Tuhan.
- Dengarkan nasihat orang tua selama masih memiliki kesempatan.
- Waspadalah terhadap godaan dunia yang dapat menjauhkan manusia dari kebaikan.
- Pendidikan karakter sama pentingnya dengan pendidikan akademis.
Puisi "Kepada Anak" karya Motinggo Boesje merupakan puisi nasihat yang mengandung nilai pendidikan, moral, dan religius yang kuat. Melalui petunjuk-petunjuk sederhana sebelum seorang anak berangkat ke sekolah, penyair menyampaikan pesan penting tentang disiplin, penghormatan kepada orang tua, dan kedekatan kepada Tuhan. Di balik kesederhanaannya, puisi ini mengingatkan bahwa pembentukan karakter harus dimulai sejak dini agar anak memiliki bekal yang kuat dalam menghadapi berbagai godaan kehidupan. Dengan suasana hangat, edukatif, dan religius, puisi ini menjadi refleksi tentang pentingnya peran keluarga dalam membentuk pribadi yang berakhlak baik.
Karya: Motinggo Boesje
Biodata Motinggo Boesje:
- Motinggo Boesje (Motinggo Busye) lahir di Kupang Kota, pada tanggal 21 November 1937.
- Motinggo Boesje meninggal dunia di Jakarta, pada tanggal 18 Juni 1999 (pada usia 61 tahun).
- Nama lahir Motinggo Boesje adalah Bustami Djalid.
