Puisi: Kesuma (Karya Maman S. Tawie)

Puisi "Kesuma" karya Maman S. Tawie menggambarkan perjalanan hidup yang diwarnai kehilangan, perpisahan, dan perjuangan untuk tetap bertahan.

Kesuma

Sampai di sini kita, Kesuma
Tiang layar patah dan tumbang
Sampai di sini kita
Di atas bulan tenggelam

Putus semua
Kita bentang lagi temali
Dengarlah, Kesuma
Kecup gelombang sunyi
Di atas bulan lantunkan lagu

Dengarlah, Kesuma
Matahari muram di atas bayang-bayang kita

Sampai di sini kita, Kesuma
Wahai, yang berlalu itu bulan
Di ujung jalan
malam hitam

1975

Sumber: Kebun di Belakang Rumah (1995)

Analisis Puisi:

Puisi "Kesuma" karya Maman S. Tawie merupakan puisi liris yang sarat dengan nuansa perpisahan, perjuangan, dan keteguhan dalam menghadapi kenyataan hidup. Melalui simbol-simbol seperti layar, temali, gelombang, bulan, matahari, dan malam, penyair menggambarkan perjalanan dua insan yang menghadapi masa sulit namun tetap berusaha bertahan.

Bahasa yang digunakan bersifat puitis dan simbolik, sehingga membuka ruang tafsir yang luas bagi pembaca. Nama "Kesuma" yang terus dipanggil dalam puisi ini memperkuat kesan dialog batin antara penyair dan sosok yang menjadi teman perjalanan hidupnya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjuangan menghadapi perpisahan dan perubahan dalam kehidupan. Tema pendukung yang tampak dalam puisi meliputi:
  • Kesetiaan dalam menghadapi cobaan.
  • Harapan di tengah keterpurukan.
  • Perjalanan hidup.
  • Kehilangan dan kenangan.
  • Keteguhan hati.
Puisi ini bercerita tentang dua sosok yang telah sampai pada suatu titik penting dalam perjalanan hidup mereka. Mereka menghadapi keadaan yang tidak mudah, yang digambarkan melalui larik:

"Tiang layar patah dan tumbang"

Gambaran tersebut menunjukkan adanya kegagalan, kehilangan arah, atau berakhirnya sebuah perjalanan.

Namun, di tengah kondisi yang sulit, penyair tidak sepenuhnya menyerah. Hal itu tampak pada larik:

"Putus semua
Kita bentang lagi temali"

Ungkapan ini menunjukkan semangat untuk memperbaiki keadaan dan melanjutkan perjalanan meskipun banyak hal telah hancur.

Pada bagian akhir, muncul kesadaran bahwa waktu terus berjalan. Bulan yang berlalu dan malam yang hitam menjadi simbol berakhirnya suatu masa dan datangnya ketidakpastian baru.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan selalu menghadirkan kehilangan, kegagalan, dan perubahan, tetapi manusia harus tetap berusaha bangkit dan melanjutkan perjalanan.

Patahnya tiang layar melambangkan runtuhnya harapan atau cita-cita. Namun, tindakan membentang kembali temali menunjukkan bahwa harapan tidak boleh berhenti hanya karena kegagalan.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa setiap hubungan, perjalanan hidup, atau fase kehidupan memiliki waktunya sendiri. Ada saat ketika seseorang harus menerima bahwa sesuatu telah berlalu, meskipun meninggalkan kesedihan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Jangan menyerah ketika menghadapi kegagalan atau kehilangan.
  • Teruslah membangun kembali harapan yang pernah runtuh.
  • Terimalah perubahan sebagai bagian dari kehidupan.
  • Hargailah setiap perjalanan dan kenangan yang pernah dilalui.
  • Keteguhan hati menjadi bekal penting untuk menghadapi masa depan yang belum pasti.
Puisi ini mengajarkan bahwa meskipun banyak hal berakhir, manusia tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan langkahnya.

Puisi "Kesuma" karya Maman S. Tawie menggambarkan perjalanan hidup yang diwarnai kehilangan, perpisahan, dan perjuangan untuk tetap bertahan. Melalui simbol-simbol laut, layar, bulan, dan malam, penyair menghadirkan refleksi mendalam tentang keteguhan hati dalam menghadapi perubahan. Suasana melankolis yang mendominasi puisi ini berpadu dengan pesan optimistis bahwa meskipun harapan pernah runtuh, manusia selalu memiliki kesempatan untuk membangun kembali perjalanan hidupnya.

Maman S. Tawie
Puisi: Kesuma
Karya: Maman S. Tawie

Biodata Maman S. Tawie:
  • Maman S. Tawie adalah salah satu sastrawan asal Kalimantan Selatan.
  • Maman S. Tawie lahir pada tanggal 25 September 1957 di dusun Sei Tirik, desa Lokpaikat, kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.
  • Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa seperti Horison, Pelita, Banjarmasin Post, Dinamika Berita, Radar Banjarmasin, Angkatan Bersenjata, Merdeka, Kompas, Suara Karya, Zaman, Eksponen, dan Berita Buana.
  • Maman S. Tawie  meninggal dunia pada tanggal 7 April 2014 (pada usia 56 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.