Kisah Dukun Tua
Pebukitan Girilaya
Telah kusalami daun srigunggu, tapak liman
dan rumpun katu yang setia menunggu.
Ribuan catatan tertera di sana
serupa akar wangi yang tersimpan dalam almari
memelihara baju bekas dan kain panjang
yang tak dijamah lagi
Dengan jemari keriput, khasiat demi khasiat
dilepaskan ke setiap kiblat.
Dengan mata tak berkabut, diterima segala duka
yang disodorkan ke pangkuannya.
Dengan bersahaja ia mengajak bersaudara
siapapun mencecap daun sembukan
akar lalang, kulit ketapang
biji mahoni, bunga kemangi
menepati janji
mengawal sanak kerabat
yang hidupnya semakin gersang
seperti pebukitan ini
1998
Sumber: Dunia Semata Wayang (2005)
Analisis Puisi:
Puisi “Kisah Dukun Tua Pebukitan Girilaya” karya Iman Budhi Santosa menggambarkan sosok dukun tua yang hidup berdampingan dengan alam dan memanfaatkan kekayaan tumbuhan tradisional untuk membantu sesama. Melalui bahasa yang sederhana namun kaya makna, penyair menghadirkan gambaran tentang kebijaksanaan, pengabdian, serta nilai-nilai kemanusiaan yang mulai tergerus oleh perkembangan zaman.
Puisi ini tidak hanya berbicara mengenai seorang tabib tradisional, tetapi juga mengangkat hubungan harmonis antara manusia, alam, dan kehidupan sosial masyarakat.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kebijaksanaan hidup dan pengabdian kepada sesama melalui kearifan tradisional. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang pelestarian pengetahuan leluhur, hubungan manusia dengan alam, serta kepedulian terhadap kehidupan masyarakat yang semakin kehilangan keseimbangan batin dan sosial.
Puisi ini bercerita tentang seorang dukun tua yang tinggal di kawasan Pebukitan Girilaya. Ia memahami berbagai jenis tanaman obat dan memanfaatkan khasiatnya untuk membantu orang-orang yang datang membawa penderitaan dan kesedihan.
Dukun tua tersebut digambarkan sebagai sosok yang sederhana, bijaksana, dan penuh kepedulian. Dengan pengetahuan yang diwariskan oleh alam dan pengalaman hidup, ia terus mengabdi kepada masyarakat tanpa memandang siapa pun. Di tengah kondisi lingkungan dan kehidupan yang semakin “gersang”, ia tetap menjadi penjaga harapan bagi banyak orang.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah pentingnya menghargai warisan budaya dan pengetahuan tradisional yang dimiliki para sesepuh masyarakat.
Penyair seolah ingin menyampaikan bahwa modernisasi sering kali membuat manusia melupakan nilai-nilai lokal yang sesungguhnya sangat berharga. Sosok dukun tua menjadi simbol kebijaksanaan, ketulusan, dan kepedulian yang semakin langka ditemukan dalam kehidupan modern.
Selain itu, kondisi “hidup yang semakin gersang” tidak hanya merujuk pada keadaan alam, tetapi juga menggambarkan kekeringan nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan spiritualitas dalam kehidupan masyarakat.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Amanat yang terkandung dalam puisi ini adalah:
- Menghargai pengetahuan dan kearifan lokal yang diwariskan oleh generasi terdahulu.
- Menumbuhkan kepedulian terhadap sesama tanpa membedakan latar belakang mereka.
- Menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.
- Meneladani sikap rendah hati, tulus, dan penuh pengabdian dalam membantu orang lain.
- Tidak melupakan nilai-nilai kemanusiaan di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
Puisi “Kisah Dukun Tua Pebukitan Girilaya” karya Iman Budhi Santosa merupakan puisi yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal, kemanusiaan, dan kedekatan manusia dengan alam. Sosok dukun tua digambarkan sebagai penjaga pengetahuan tradisional yang dengan tulus membantu sesama. Melalui puisi ini, penyair mengajak pembaca untuk menghargai warisan leluhur sekaligus menjaga nilai-nilai kepedulian dan persaudaraan yang mulai memudar dalam kehidupan modern.
Biodata Iman Budhi Santosa:
- Iman Budhi Santosa pada tanggal 28 Maret 1948 di Kauman, Magetan, Jawa Timur, Indonesia.
- Iman Budhi Santosa meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2020 (pada usia 72 tahun) di Dipowinatan, Yogyakarta, Indonesia.
