Kita Luka
di dadamu matahari terbit tenggelam sepanjang hari
memanasi dapur. kibaran dasi menusuk hati
pabrik-pabrik tak berhati. hari ini yang tertembak
senapan phk antre. sama panjang pencari kerja
belati di pabrik tak milik kita lagi. tajamnya
tlah tergadaikan. kami tak boleh miliki belati lain
seperti nyamuk dituduh mengganggu dan ditangkapi
luka ribut dalam dada. rumput-rumput ditindih debu
burung pingsan teronggok di got. bulu indahnya berpelangi
bau napasnya limbah. di Tangerang ini aku njelma jadi batu
teronggok di got-got. bersama rumput
dijajah debu saat dasi berkibar lalu
ketika batu tak lagi diam ia juga dijaga ketat
seperti penjahat perang. aku memilih pecah meskipun dapurku
berantakan. yang putih telah dihitamkan hitam diputihkan
kantor-kantor mengobral angin surga. tak pernah berbunga
aku masih teronggok di got pabrik lain. kau sedang apa Narti?
diperiksa satpam saat datang bulan, diawasi saat salat
atau tanganmu masih luka saat tergencet mould? oh, aku sungguh
ingin membalutnya meski aku sendiri luka
kemarin aku lihat tanganmu terkepal luka di layar kaca
apakah kau juga membaca koran ketika aku pecah? barangkali
kita harus menggenggam matahari bersama-sama.
agar nurani terjaga.
Tangerang, 95/96
Sumber: Trotoar (Roda-Roda Budaya, 1996)
Analisis Puisi:
Puisi “Kita Luka” karya Wowok Hesti Prabowo merupakan potret keras kehidupan kelas pekerja di tengah industrialisasi yang tidak manusiawi. Dengan bahasa yang penuh luka sosial, penyair menghadirkan kritik terhadap sistem kerja, ketidakadilan, dan hilangnya martabat manusia di ruang pabrik dan birokrasi modern.
Tema
Tema puisi ini adalah penderitaan kelas pekerja, ketidakadilan industri, dan dehumanisasi manusia dalam sistem kapitalisme modern. Puisi ini juga mengangkat tema solidaritas dan luka kolektif yang dialami para pekerja.
Puisi ini bercerita tentang kehidupan buruh di kawasan industri (Tangerang), yang mengalami tekanan kerja, PHK, pengawasan ketat, serta kehilangan kemanusiaan akibat sistem kerja yang eksploitatif.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini mencakup:
- Sistem industri modern sering mengorbankan manusia demi produktivitas.
- Buruh diperlakukan seperti objek, bukan manusia.
- Luka sosial tidak hanya fisik, tetapi juga psikologis dan eksistensial.
- Ada harapan solidaritas di antara sesama pekerja sebagai bentuk perlawanan.
Frasa seperti “aku njelma jadi batu” menyiratkan kebekuan emosi akibat tekanan hidup yang berat.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan utama puisi ini:
- Kemanusiaan tidak boleh dikorbankan demi industri dan profit.
- Buruh membutuhkan perlindungan, bukan eksploitasi.
- Luka sosial harus disadari dan diperjuangkan bersama.
- Solidaritas antarpekerja adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan.
- Nurani harus tetap dijaga di tengah sistem yang merusak.
Puisi “Kita Luka” adalah kritik sosial yang tajam terhadap dunia industri yang tidak manusiawi. Wowok Hesti Prabowo berhasil menggambarkan penderitaan buruh dengan citraan yang kuat dan emosional, sekaligus menyelipkan harapan akan solidaritas dan kesadaran kolektif. Puisi ini menegaskan bahwa di balik mesin produksi, selalu ada manusia yang terluka.
Karya: Wowok Hesti Prabowo
Biodata Wowok Hesti Prabowo:
- Wowok Hesti Prabowo lahir pada tanggal 16 April 1963 di Purwodadi Grobogan, Jawa Tengah.