Puisi: Kita Masih Menunggu (Karya Ariffin Noor Hasby)

Puisi "Kita Masih Menunggu" karya Ariffin Noor Hasby menunjukkan bahwa meskipun waktu terus berjalan, tidak semua luka dapat segera sembuh.

Kita Masih Menunggu

lihatlah, batu-batu telah dilipat oleh waktu
tapi mengapa kita masih menunggu
jejak mengembalikan langkah
dari seluruh kisah yang pernah
kau basuh di arus air mata

lihatlah, batu-batu telah disimpan oleh waktu
tapi mengapa kita masih menunggu
suara mengembalikan kata
dari seluruh duka yang pernah
kau rasakan
dalam ziarah kematian

2001

Sumber: Salawat Laut (Pustaka Banua, 2013)

Analisis Puisi:

Puisi "Kita Masih Menunggu" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi reflektif yang berbicara tentang penantian, kenangan, dan duka yang belum benar-benar selesai. Dengan bahasa yang sederhana tetapi sarat simbol, penyair mengajak pembaca merenungkan bagaimana waktu terus berjalan, sementara manusia sering kali masih terikat pada kehilangan dan harapan yang belum terwujud.

Melalui simbol batu, waktu, air mata, dan ziarah kematian, puisi ini memperlihatkan bahwa luka masa lalu tidak selalu hilang seiring berjalannya waktu. Ada penantian yang terus hidup dalam hati, meskipun kehidupan telah berubah.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penantian dan pergulatan batin terhadap kenangan serta kehilangan. Tema-tema pendukung yang muncul dalam puisi ini antara lain:
  • Kesedihan akibat kehilangan.
  • Perjalanan waktu.
  • Kenangan masa lalu.
  • Kematian.
  • Harapan untuk memperoleh ketenangan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang atau sekelompok orang yang masih menunggu pulihnya kenangan, luka, dan kehilangan, meskipun waktu terus berlalu.

Pada bait pertama, penyair menyatakan bahwa waktu telah melipat batu-batu, sebuah gambaran bahwa alam maupun kehidupan telah mengalami perubahan. Namun, manusia masih menunggu jejak masa lalu kembali hadir melalui kenangan yang dahulu dibasuh oleh air mata.

Pada bait kedua, penyair kembali menggunakan simbol batu yang kini "disimpan oleh waktu". Meski demikian, penantian tetap berlangsung. Kali ini yang dinantikan bukan lagi jejak, melainkan suara yang mampu menghidupkan kembali kata-kata dari duka yang pernah dialami, terutama dalam pengalaman menghadapi kematian.

Puisi ini menunjukkan bahwa waktu memang bergerak maju, tetapi tidak semua luka dapat segera sembuh.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa waktu tidak selalu mampu menghapus kehilangan dan kesedihan yang mendalam.

Ungkapan:

"batu-batu telah dilipat oleh waktu"

menyiratkan bahwa segala sesuatu di dunia mengalami perubahan. Namun, perubahan itu tidak serta-merta menghilangkan bekas luka dalam hati manusia.

Sementara itu, frasa:

"menunggu jejak mengembalikan langkah"

mengandung makna harapan agar masa lalu yang indah atau bermakna dapat kembali hadir, meskipun kenyataannya hal itu hampir mustahil terjadi.

Pada bagian akhir, ziarah kematian menjadi simbol proses mengenang orang yang telah tiada sekaligus usaha berdamai dengan kehilangan.

Amanat atau Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Tidak semua luka dapat sembuh hanya karena waktu telah berlalu.
  • Kehilangan merupakan bagian dari perjalanan hidup yang harus diterima dengan lapang hati.
  • Kenangan patut dihargai, tetapi tidak seharusnya menghalangi seseorang untuk melanjutkan kehidupan.
  • Kesabaran dan ketabahan diperlukan dalam menghadapi duka.
  • Mengingat orang yang telah tiada merupakan bentuk kasih sayang, tetapi kehidupan tetap harus berjalan.
Puisi "Kita Masih Menunggu" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi reflektif yang menggambarkan hubungan erat antara waktu, kenangan, dan kehilangan. Penyair menunjukkan bahwa meskipun waktu terus berjalan, tidak semua luka dapat segera sembuh. Penantian menjadi simbol usaha manusia untuk menemukan kembali makna di balik duka dan kenangan.

Puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa kenangan akan selalu hidup, tetapi ketabahan menjadi kunci untuk melanjutkan perjalanan kehidupan.

Ariffin Noor Hasby
Puisi: Kita Masih Menunggu
Karya: Ariffin Noor Hasby

Biodata Ariffin Noor Hasby:
  • Ariffin Noor Hasby lahir pada tanggal 20 Februari 1964 di Marabahan, Kabupaten Batola, Kalimantan Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.