Kontempelasi Satu
Mari bernyanyi bagi padang terbuka
dan rumput sabana, adinda
Bayangkan bagaimana nurani menyerapnya
dan menempel di kanvas sang batara
Mari menembang bagi hampar samudera
dan riak gelombang pasang, adinda
Bayangkan bagaimana sanubari menyimpannya
dan menoreh dalam lembar gita sang pujangga
Mari lupakan sejenak
Kabel rumus angka dan analis
Ada saatnya kita jadi manusia
Bukit Nyatoh, 1999
Sumber: Dari Amerika ke Catatan Langit (2005)
Analisis Puisi:
Puisi “Kontempelasi Satu” karya Nurhayat Arif Permana menghadirkan ajakan untuk kembali pada kesadaran batin, kepekaan rasa, dan hubungan manusia dengan alam serta seni. Dengan gaya liris dan penuh seruan, puisi ini menolak dominasi rasionalitas modern dan mengajak pembaca untuk merasakan kembali sisi humanistik dalam diri.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kontemplasi manusia dalam menemukan kembali kepekaan batin melalui alam dan seni, serta kritik terhadap dominasi rasionalitas modern. Puisi ini juga mengangkat tema tentang kemanusiaan, spiritualitas, dan keseimbangan antara akal dan rasa.
Puisi ini bercerita tentang ajakan seorang penyair kepada “adinda” untuk bersama-sama menikmati keindahan alam dan seni sebagai bentuk perenungan hidup. Alam digambarkan melalui padang terbuka, sabana, samudera, dan gelombang, yang semuanya menjadi sumber inspirasi bagi jiwa manusia.
Penyair mengajak untuk bernyanyi dan menembang sebagai bentuk ekspresi batin yang menyatu dengan alam. Kemudian, terdapat penegasan bahwa manusia seharusnya tidak selalu terjebak dalam dunia rasional seperti angka, rumus, dan analisis, tetapi juga perlu kembali menjadi manusia yang utuh dengan rasa dan nurani.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa manusia modern sering kali terjebak dalam dunia rasional dan teknis sehingga melupakan sisi emosional dan spiritualnya.
Ajakan untuk “bernyanyi” dan “menembang” bukan hanya aktivitas seni, tetapi simbol dari kebebasan batin dan ekspresi jiwa. Alam menjadi media refleksi yang membantu manusia memahami dirinya sendiri.
Kalimat “ada saatnya kita jadi manusia” menyiratkan bahwa manusia tidak hanya makhluk berpikir, tetapi juga makhluk yang harus merasakan, mencintai, dan merenung.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini dapat digambarkan sebagai:
- Tenang dan reflektif, karena mengajak pembaca untuk kontemplasi.
- Liris dan puitis, melalui penggunaan bahasa yang halus dan musikal.
- Inspiratif, karena mengajak kembali pada alam dan seni.
- Humanistik, menekankan nilai kemanusiaan di atas rasionalitas.
- Sedikit kritis, terhadap dunia modern yang terlalu analitis.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa pesan yang dapat diambil dari puisi ini antara lain:
- Manusia perlu menyeimbangkan antara akal dan rasa.
- Alam dan seni adalah sarana penting untuk memahami diri sendiri.
- Jangan terlalu terjebak dalam dunia rasional hingga melupakan sisi kemanusiaan.
- Kontemplasi dan perenungan sangat penting dalam kehidupan modern.
- Menjadi manusia berarti juga mampu merasakan, bukan hanya berpikir.
Puisi “Kontempelasi Satu” karya Nurhayat Arif Permana merupakan ajakan untuk kembali pada keseimbangan antara logika dan rasa. Dengan menghadirkan alam sebagai ruang kontemplasi dan seni sebagai media ekspresi, puisi ini menegaskan bahwa manusia tidak boleh kehilangan sisi kemanusiaannya di tengah dunia modern yang serba rasional.
Puisi ini mengingatkan bahwa menjadi manusia berarti mampu merasakan, merenung, dan menyatu dengan keindahan hidup.
Karya: Nurhayat Arif Permana
Biodata Nurhayat Arif Permana:
- Nurhayat Arif Permana lahir pada tanggal 23 Oktober 1969 di Palembang.