Puisi: Kota Kami Dahulu (Karya Motinggo Boesje)

Puisi "Kota Kami Dahulu" karya Motinggo Boesje menegaskan bahwa meskipun manusia dapat pergi jauh dari tempat asalnya, kenangan dan cinta terhadap ...
Kota Kami Dahulu

tak kukira, kukira kaliku sudah tak di situ lagi
kita lama saling terendam sampai lumpurnya
jika kau belum lupa pada anakmu sebesar siapa ia kini
kuburan duka di sana, merambati hatinya

adalah kerna masih ingat padamu, aku pulang
melihat si manis menyanyikan nafas, yang tewas
dan jalan ke rumahmu runtuhnya dalam, sayang
ketika itu rebahlah si roni muda, matimu terlalu lekas

roni, bangunlah kau, daku kini di sini
rambutan lebat buahnya, kotamu kehilangan pencuri
kali kulihat ikannya, bersih putih airnya
si romlah sudah sekolah, geribik dindingnya

alangkah pendeknya nafas, o, begitupun hari
kunyanyikan buatmu ibu dari segala rindu
engkau kawan-kawan sekelas, pencuri buahan dan lari
kuingat namamu satupersatu

kukirimkan jiwa padamu si jiwa malang yang kusayang
jiwa melayanglah ketika aku ngimpi dan pulang
jangan lupa padaku, dunia-lama , walaupun nanti
mati, di negeri lain, jauh dari romlah dan tati
karena usiaku yang pendek, nasibku yang jelek

Kotak Kupang, 2 Agustus 1956

Sumber: Majalah Budaya (1957)

Analisis Puisi:

Puisi "Kota Kami Dahulu" karya Motinggo Boesje merupakan puisi yang sarat dengan nostalgia, kerinduan, dan refleksi tentang kampung halaman serta orang-orang yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan penyair. Melalui kenangan terhadap sungai, teman masa kecil, keluarga, dan lingkungan tempat tumbuh, penyair menghadirkan perasaan haru terhadap perubahan yang terjadi seiring berjalannya waktu.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan terhadap kampung halaman dan kenangan masa lalu. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang perjalanan hidup, perubahan zaman, persahabatan, kehilangan, dan kesadaran akan singkatnya kehidupan manusia.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang kembali mengenang atau pulang ke kota tempat ia dibesarkan. Saat kembali, ia mendapati bahwa banyak hal telah berubah, tetapi kenangan tentang masa lalu masih tersimpan kuat dalam ingatannya.

Penyair mengenang sungai yang dahulu menjadi bagian kehidupannya, teman-teman masa kecil, keluarga, serta seseorang bernama Roni yang telah meninggal dunia. Ia juga mengingat Romlah dan Tati, yang menjadi bagian dari kehidupan di kota tersebut.

Perjalanan kenangan itu membuat penyair merenungkan waktu yang terus berjalan. Meskipun hidup membawanya jauh dari kampung halaman, ia berharap kenangan tentang dirinya tetap hidup di tempat yang dicintainya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa masa lalu dan kampung halaman akan selalu menjadi bagian dari identitas seseorang, meskipun waktu terus membawa perubahan dan perpisahan.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa kehidupan manusia sangat singkat. Banyak orang yang pernah hadir dalam perjalanan hidup akhirnya pergi, baik karena kematian maupun karena perpisahan akibat perjalanan hidup.

Kenangan menjadi sesuatu yang berharga karena mampu menghubungkan seseorang dengan akar kehidupannya. Melalui kenangan, orang-orang yang telah tiada tetap dapat hidup dalam ingatan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Jangan melupakan asal-usul dan kampung halaman tempat kita tumbuh.
  • Hargailah orang-orang yang pernah hadir dalam perjalanan hidup kita.
  • Kenangan masa lalu merupakan bagian penting dari pembentukan jati diri.
  • Kehidupan manusia sangat singkat, sehingga hubungan dengan sesama perlu dijaga dengan baik.
  • Meskipun berada jauh dari tempat kelahiran, ikatan batin dengan tanah asal tidak akan mudah hilang.
Puisi ini mengajarkan bahwa cinta terhadap kampung halaman dan kenangan merupakan bagian dari penghargaan terhadap perjalanan hidup itu sendiri.

Puisi "Kota Kami Dahulu" karya Motinggo Boesje merupakan ungkapan kerinduan mendalam terhadap kampung halaman, sahabat, keluarga, dan masa lalu yang telah berlalu. Melalui berbagai kenangan yang dihadirkan secara puitis, penyair mengajak pembaca merenungkan pentingnya akar kehidupan, persahabatan, serta kesadaran bahwa waktu akan terus berjalan. Puisi ini menegaskan bahwa meskipun manusia dapat pergi jauh dari tempat asalnya, kenangan dan cinta terhadap kampung halaman akan tetap hidup dalam hati sepanjang hayat.

Motinggo Boesje
Puisi: Kota Kami Dahulu
Karya: Motinggo Boesje

Biodata Motinggo Boesje:
  • Motinggo Boesje (Motinggo Busye) lahir di Kupang Kota, pada tanggal 21 November 1937.
  • Motinggo Boesje meninggal dunia di Jakarta, pada tanggal 18 Juni 1999 (pada usia 61 tahun).
  • Nama lahir Motinggo Boesje adalah Bustami Djalid.
© Sepenuhnya. All rights reserved.