Kota Sungai
kota sungai inilah yang
mengalirkan rinduku ke bandar-bandar
jauh. Rinduku yang liar dihempas
ombak besar;
ia mengalir tanpa kapal sambil
mengusik lanting-lanting kenangan
yang menghilir dari pedalaman
Dan akhirnya rinduku menjelma anak sungai
di mana sampan purba melintas sunyi
mimpi-mimpi jadi kayuhnya
kota sungai inilah kota prahara
yang menghanyutkan rinduku
ke tepi dunia; di mana jejak
kita kehilangan tujuan
karena jalan-jalannya tanpa nama
inilah kota yang senantiasa
menatap sibuk dan galauku
karena rindu yang malang
selalu datang dan pulang
di sini;
kota sungai yang terpencil
di lubuk jiwa
tempat sampan-sampan merapat
bila rindu tiba atau berangkat
Banjarbaru, Juni 1984
Sumber: Kota yang Bersiul (Tuas Media, Kertak Hanyar, 2012)
Analisis Puisi:
Puisi "Kota Sungai" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi liris yang memadukan lanskap sungai dengan perjalanan batin manusia. Sungai dalam puisi ini tidak hanya menjadi unsur geografis, tetapi juga simbol kehidupan, kenangan, kerinduan, dan identitas. Melalui aliran sungai, penyair menggambarkan bagaimana rindu bergerak melintasi ruang dan waktu, membawa ingatan menuju tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari kehidupan.
Bahasa yang digunakan bersifat puitis dengan dominasi citraan alam. Simbol-simbol seperti sungai, sampan, lanting, bandar, dan anak sungai membangun suasana yang khas, sekaligus memperlihatkan kedekatan penyair dengan budaya sungai yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Kalimantan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerinduan terhadap tempat asal, kenangan, dan perjalanan hidup yang diibaratkan seperti aliran sungai. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang identitas, nostalgia, perjalanan waktu, serta hubungan emosional antara manusia dan ruang tempat ia berasal.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menjadikan kota sungai sebagai tempat berlabuhnya segala kerinduan. Rindu itu mengalir mengikuti arus menuju bandar-bandar yang jauh, seolah ikut mengembara tanpa batas.
Dalam perjalanannya, kerinduan tersebut melewati ombak besar, mengusik lanting-lanting yang menyimpan kenangan masa lalu, hingga akhirnya berubah menjadi anak sungai tempat sampan-sampan tua masih melintas dalam kesunyian. Gambaran ini menunjukkan bahwa setiap kenangan tetap hidup meskipun waktu terus berjalan.
Pada bagian berikutnya, kota sungai digambarkan sebagai kota prahara yang menghanyutkan rindu ke tepi dunia. Penyair merasa kehilangan arah di tengah jalan-jalan yang "tanpa nama", namun tetap menjadikan kota itu sebagai tempat pulang. Kota sungai akhirnya menjadi ruang batin, tempat segala kerinduan datang, beristirahat, lalu kembali mengalir.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kampung halaman atau tempat asal akan selalu hidup dalam ingatan seseorang, meskipun jarak dan waktu telah memisahkannya.
Sungai menjadi lambang perjalanan hidup yang terus bergerak. Arus membawa manusia menuju berbagai pengalaman baru, tetapi pada akhirnya hati selalu memiliki tempat untuk kembali.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa kerinduan merupakan bagian dari identitas manusia. Kenangan terhadap tempat, budaya, dan masa lalu akan terus mengalir dalam batin sebagaimana sungai yang tidak pernah berhenti menuju muara.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
- Jangan melupakan tempat asal karena di sanalah identitas diri dibentuk.
- Kenangan adalah bagian berharga dari perjalanan hidup yang patut dijaga.
- Kerinduan bukanlah kelemahan, melainkan bukti adanya ikatan batin dengan seseorang atau suatu tempat.
- Setiap perjalanan sejauh apa pun akan selalu menyisakan keinginan untuk pulang.
- Alam dan budaya dapat menjadi pengingat akan nilai-nilai kehidupan yang sederhana tetapi bermakna.
Puisi "Kota Sungai" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi yang mengangkat kerinduan terhadap kampung halaman melalui simbol-simbol sungai dan kehidupan masyarakat tepian sungai. Aliran air menjadi metafora perjalanan waktu, sementara sampan, lanting, dan bandar menjadi penanda budaya yang membentuk identitas penyair.
Puisi ini mengingatkan bahwa sejauh apa pun seseorang melangkah, akan selalu ada sebuah "kota sungai" di dalam jiwanya—tempat segala kenangan, kerinduan, dan harapan berlabuh serta kembali mengalir.
Karya: Ariffin Noor Hasby
Biodata Ariffin Noor Hasby:
- Ariffin Noor Hasby lahir pada tanggal 20 Februari 1964 di Marabahan, Kabupaten Batola, Kalimantan Selatan.