Puisi: Kwatrin Laut (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Kwatrin Laut" karya Gunoto Saparie menyampaikan bahwa pencarian terbesar dalam hidup sering kali berujung pada perjumpaan dengan diri sendiri.
Kwatrin Laut (1)

apakah yang kaucari di pantai gelap
ketika malam dingin mengertap
ketika camar-camar letih terbantun
dan kau tahu, doamu tertahan-tahan

Kwatrin Laut (2)

kutatap laut dan horison sayup
kutatap buncah ombak bergulung
kutatap sepotong bulan memudar redup
kutatap bayangku di antara tiram dan kepiting...

2021

Analisis Puisi:

Puisi "Kwatrin Laut" karya Gunoto Saparie merupakan puisi pendek yang sarat nuansa kontemplatif. Melalui latar pantai, laut, ombak, bulan, dan cakrawala, penyair menghadirkan perenungan tentang pencarian makna hidup, kegelisahan batin, serta hubungan manusia dengan dirinya sendiri.

Meskipun hanya terdiri atas dua kwatrin (bait empat larik), puisi ini memiliki kedalaman makna yang mengajak pembaca memasuki ruang refleksi dan kesunyian. Laut menjadi simbol yang kuat untuk menggambarkan kehidupan, harapan, doa, dan perjalanan batin manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian makna hidup dan perenungan batin dalam kesunyian. Tema-tema pendukung yang muncul dalam puisi ini meliputi:
  • Kesepian dan refleksi diri.
  • Harapan yang tertunda.
  • Hubungan manusia dengan alam.
  • Kegelisahan spiritual.
  • Perjalanan batin.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada di pantai pada malam hari. Dalam suasana yang gelap dan dingin, ia seolah sedang mencari sesuatu yang belum ditemukan.

Pada bagian pertama, penyair mengajukan pertanyaan reflektif:

"apakah yang kaucari di pantai gelap"

Pertanyaan ini mengisyaratkan adanya pencarian, baik pencarian jawaban, harapan, maupun ketenangan jiwa. Situasi semakin terasa sunyi ketika camar-camar digambarkan letih dan doa-doa terasa tertahan.

Pada bagian kedua, penyair hanya memandang laut, cakrawala, ombak, bulan yang mulai redup, hingga bayangannya sendiri di antara tiram dan kepiting. Aktivitas menatap berulang kali menunjukkan proses perenungan yang mendalam. Pada akhirnya, yang ditemukan bukan jawaban pasti, melainkan refleksi diri di tengah luasnya alam.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa manusia sering mencari jawaban di luar dirinya, padahal sebagian besar jawaban itu berada dalam proses mengenali dirinya sendiri.

Pantai gelap, laut, ombak, dan cakrawala melambangkan luasnya kehidupan yang penuh misteri. Sementara bayangan diri yang muncul di akhir puisi menyiratkan bahwa pencarian tersebut akhirnya mengarah pada kesadaran diri.

Puisi ini juga dapat dimaknai sebagai gambaran tentang harapan dan doa yang belum terkabul, namun tetap hidup dalam ruang perenungan dan kesabaran.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Luangkan waktu untuk merenungkan kehidupan dan mengenali diri sendiri.
  • Jangan menyerah ketika harapan atau doa belum terwujud.
  • Kesunyian dapat menjadi ruang untuk menemukan makna hidup.
  • Alam dapat menjadi sarana refleksi dan perenungan yang mendalam.
  • Pencarian hidup sering kali berakhir pada pemahaman tentang diri sendiri.
Puisi ini mengajarkan bahwa perjalanan batin merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia.

Puisi "Kwatrin Laut" karya Gunoto Saparie merupakan puisi reflektif yang menggambarkan pencarian makna hidup melalui simbol-simbol alam, terutama laut dan pantai. Dengan suasana yang sepi dan kontemplatif, penyair mengajak pembaca untuk merenungkan harapan, doa, dan perjalanan batin manusia. Puisi ini menyampaikan bahwa pencarian terbesar dalam hidup sering kali berujung pada perjumpaan dengan diri sendiri.

Gunoto Saparie
Puisi: Kwatrin Laut
Karya: Gunoto Saparie


Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.