Puisi: Malam di Sebuah Surau Demak (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Malam di Sebuah Surau Demak" karya Gunoto Saparie mengangkat tema pencarian ilmu agama, perjalanan spiritual, dan kerendahan hati manusia di ..
Malam di Sebuah Surau Demak

ada yang mengeja alif ba ta
dengan gemetar suara
dari langgar sebuah desa
wajah pias karena puasa

sampai tahun-tahun lewat
dan usia terus saja merambat
kita ternyata masih seperti dulu
kanak-kanak yang lucu

sesobek kertas dari kiai
tergeletak begitu saja di meja
bertuliskan mantra sakti
tapi kita masih mengeja alif ba ta

2021

Analisis Puisi:

Puisi "Malam di Sebuah Surau Demak" karya Gunoto Saparie merupakan puisi reflektif yang mengangkat tema pencarian ilmu agama, perjalanan spiritual, dan kerendahan hati manusia di hadapan pengetahuan. Melalui gambaran sederhana tentang seseorang yang mengeja huruf-huruf Arab di sebuah langgar desa, penyair menyampaikan perenungan mendalam mengenai proses belajar yang tidak pernah selesai sepanjang hidup.

Puisi ini memperlihatkan bahwa meskipun usia terus bertambah dan waktu terus berlalu, manusia pada hakikatnya tetap menjadi pembelajar yang harus terus mencari pemahaman dan kebijaksanaan. Nuansa religius yang kuat berpadu dengan refleksi filosofis tentang kehidupan dan keterbatasan manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan spiritual dan proses belajar yang tidak pernah berakhir. Tema-tema pendukung dalam puisi meliputi:
  • Pendidikan agama.
  • Kerendahan hati dalam menuntut ilmu.
  • Perjalanan waktu dan usia.
  • Kesadaran akan keterbatasan manusia.
  • Perenungan tentang makna kehidupan.
Puisi ini bercerita tentang suasana malam di sebuah surau atau langgar di daerah Demak. Di tempat tersebut, terdengar seseorang mengeja huruf-huruf hijaiyah "alif ba ta" dengan suara yang gemetar.

Gambaran itu menunjukkan seorang pembelajar yang tekun menuntut ilmu agama. Wajahnya tampak pucat karena sedang menjalankan ibadah puasa, menandakan kesungguhan dalam menjalani kehidupan spiritual.

Namun setelah bertahun-tahun berlalu dan usia terus bertambah, penyair menyadari bahwa manusia ternyata masih seperti kanak-kanak yang terus belajar. Meskipun telah memperoleh berbagai pengetahuan dan petunjuk, proses memahami kehidupan dan agama tidak pernah benar-benar selesai.

Pada bagian akhir, terdapat gambaran selembar kertas dari seorang kiai yang berisi "mantra sakti". Meski demikian, manusia tetap harus kembali pada tahap dasar, yaitu mengeja "alif ba ta", sebagai simbol bahwa ilmu harus dipelajari secara bertahap dan penuh kerendahan hati.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa manusia tidak boleh merasa paling tahu atau paling bijaksana.

Huruf "alif ba ta" melambangkan dasar ilmu pengetahuan, khususnya ilmu agama. Penyair ingin menunjukkan bahwa meskipun seseorang telah berumur, memiliki pengalaman, atau menerima berbagai ajaran, ia tetap berada dalam posisi seorang murid yang harus terus belajar.

Kertas dari kiai yang berisi "mantra sakti" dapat dimaknai sebagai simbol ilmu, petuah, atau warisan kebijaksanaan dari para guru. Namun ilmu tersebut tidak akan bermakna apabila seseorang tidak memahami dasar-dasarnya dengan baik.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa kedewasaan sejati bukan terletak pada usia, melainkan pada kesadaran bahwa proses belajar berlangsung sepanjang hayat.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang terkandung dalam puisi ini adalah:
  • Jangan pernah berhenti belajar meskipun usia terus bertambah.
  • Bersikaplah rendah hati dalam mencari ilmu.
  • Dasar-dasar ilmu harus dipahami sebelum mengejar hal-hal yang lebih tinggi.
  • Kedewasaan tidak berarti berhenti menjadi pembelajar.
  • Hargailah ajaran dan bimbingan para guru serta ulama.
Puisi "Malam di Sebuah Surau Demak" karya Gunoto Saparie merupakan puisi yang sarat nilai religius dan refleksi kehidupan. Melalui gambaran sederhana tentang seseorang yang mengeja "alif ba ta" di sebuah surau desa, penyair menyampaikan pesan bahwa manusia adalah pembelajar sepanjang hayat. Bertambahnya usia tidak otomatis menjadikan seseorang lebih bijaksana jika ia berhenti belajar dan kehilangan kerendahan hati. Dengan suasana hening, religius, dan kontemplatif, puisi ini mengajak pembaca untuk terus mencari ilmu, menghormati guru, serta menyadari bahwa perjalanan memahami kehidupan tidak pernah benar-benar selesai.

Puisi: Malam di Sebuah Surau Demak
Puisi: Malam di Sebuah Surau Demak
Karya: Gunoto Saparie


BIODATA GUNOTO SAPARIE

Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya.

Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Selain di bidang pers, ia pernah bekerja di bidang pendidikan, yaitu guru di SMP Yasbumi Cepiring, SMP PGRI Patebon, SMP Muhammadiyah Kendal, dan SMA Al-Farabi Pegandon. Ia pernah pula bekerja di CV Sido Luhur Kendal dan PT Aryacipta Adibrata Semarang.

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.

Gunoto Saparie juga sering diundang sebagai pembicara dalam kongres, simposium, dan seminar kesastraan. Ia pun sering membaca puisi di berbagai tempat dan juri lomba literasi yang diadakan lembaga pemerintah maupun swasta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.