Masih yang Dulu
Di antara kenangan
Di atas jalan lajunya waktu
Aku masih yang dulu
Yang cintanya tak diruntuhkan cobaan
Wajahmu adalah mentari
Sekali lagi di pucuk putih kelopak melati hati
Biarpun kini waktu sering kali memeluk malam
Namun, mekar jua kenang di bawah sinar rembulan
"Jalan hidup manusia siapa dapat menerka?
Ketika rindu telah tumbuh bersemi di sukma
Ia, Kekasih, pemberi nafas pada dada batin
Apakah tanpanya semesta akan bekerja?"
Di kesendirian ini, doa serupa api
Pembakar jerami halang bahagiamu
Tetaplah bersinar di langit kehidupan
Agar aku tak salah mendebat malam
Pasaman Barat, 6 September 2025
Analisis Puisi:
Puisi "Masih yang Dulu" karya Basrul Hakki merupakan puisi liris yang mengangkat tema kesetiaan cinta di tengah perjalanan waktu. Penyair menghadirkan sosok yang tetap mempertahankan perasaannya meskipun berbagai cobaan dan perubahan hidup terus berlangsung.
Melalui bahasa yang romantis dan penuh simbol alam, puisi ini menggambarkan cinta yang tidak pudar oleh jarak, waktu, maupun kesendirian. Kenangan terhadap sosok yang dicintai menjadi sumber kekuatan yang terus hidup dalam batin penyair.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesetiaan cinta yang tetap bertahan meskipun waktu terus berjalan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kerinduan, kenangan, harapan, dan keteguhan hati dalam mempertahankan perasaan terhadap seseorang yang dicintai.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengenang sosok yang sangat dicintainya. Di tengah perjalanan waktu yang terus bergerak, penyair mengakui bahwa dirinya "masih yang dulu", yaitu pribadi yang tetap menyimpan cinta yang sama.
Sosok yang dicintai digambarkan sebagai mentari yang menerangi kehidupan dan menjadi sumber kehangatan batin. Walaupun waktu sering menghadirkan malam sebagai simbol kesedihan atau keterpisahan, kenangan tentang orang tersebut tetap mekar di dalam hati.
Penyair kemudian merenungkan bahwa jalan hidup manusia penuh ketidakpastian. Namun, ketika cinta dan rindu telah berakar dalam jiwa, perasaan itu menjadi bagian penting yang memberi makna pada kehidupan.
Pada bagian akhir, penyair menyampaikan doa dan harapan agar orang yang dicintainya tetap bahagia dan bersinar dalam kehidupannya, sehingga dirinya tetap memiliki cahaya untuk menghadapi kesunyian dan pergulatan batin.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa cinta sejati tidak selalu bergantung pada kehadiran fisik seseorang. Perasaan yang tulus dapat tetap hidup melalui kenangan, doa, dan harapan yang terus dipelihara.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa waktu tidak selalu mampu menghapus perasaan yang telah tumbuh mendalam dalam hati seseorang. Sebaliknya, kenangan justru dapat memperkuat makna cinta dan menjadikannya bagian dari identitas diri.
Selain itu, puisi ini menunjukkan bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti memiliki. Terkadang cinta diwujudkan melalui doa dan keinginan agar orang yang dicintai tetap memperoleh kebahagiaan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
- Kesetiaan merupakan salah satu bentuk cinta yang paling berharga.
- Waktu tidak selalu mampu menghapus perasaan yang tulus.
- Kenangan dapat menjadi sumber kekuatan dalam menjalani kehidupan.
- Mencintai seseorang berarti juga mendoakan kebahagiaannya.
- Kehidupan penuh ketidakpastian, tetapi ketulusan hati dapat menjadi pegangan dalam menghadapi berbagai cobaan.
Puisi "Masih yang Dulu" karya Basrul Hakki merupakan puisi yang menggambarkan kesetiaan cinta yang tetap bertahan di tengah perjalanan waktu. Melalui simbol-simbol alam seperti mentari, melati, rembulan, dan api, penyair menghadirkan gambaran cinta yang tulus, kuat, dan penuh harapan.
Dengan suasana romantis dan reflektif, puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa cinta sejati tidak hanya diukur dari kebersamaan fisik, tetapi juga dari kemampuan menjaga kenangan, kesetiaan, dan doa untuk orang yang dicintai. Puisi ini menjadi perayaan atas keteguhan hati yang tetap setia meskipun waktu terus bergerak maju.
Karya: Basrul Hakki
Biodata Basrul Hakki:
- Basrul Hakki berasal dari sebuah desa kecil di Kecamatan Sungai Aur, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat.