Melati buat Multatuli
Lebak membara, tersulut
api nurani Setiabudi
Indo yang melawan arus kali
bayonet yang menikam balik dada Kumpeni
Kebetulan saja aku lahir di sana, katanya
sedang kebenaran ada di mana-mana.
Kulit bukan pula cerminan isi
jadi aku memilih terbit terbaca di negeri ini
Jauh mimpi beroleh medali
bersama kertas tinta, buah tangan sastrawi
mati di mana pun pantas. Kapan pun jadi,
lepas potret diri berbingkai emas
lepas terbilang berdiri tanpa alas
pesan pernyataannya terngiang tandas
: Bangsa, kelas, dan ujud ragawi
jangan ampuni kalau menindas
jangan sebut tamu jika menyatu senapas
Menangisi Saijah dan Adinda
Menghidupi Het Tijdchrift serta De Express
Mengobarkan tiga serangkai: Janget Kinatelon
sebongkah salju indah memancarkan putihnya
ke dalam ucap keringat kebangkitan dunia ketiga
Harganya tercurah luhur membatik cinta
Jazadnya terpendam hancur di belahan bumi utara
1982
Sumber: Dunia Semata Wayang (2005)
Analisis Puisi:
Puisi "Melati buat Multatuli" karya Iman Budhi Santosa merupakan puisi penghormatan kepada sosok Multatuli, nama pena dari Eduard Douwes Dekker, seorang penulis Belanda yang dikenal karena kritiknya terhadap praktik kolonialisme di Hindia Belanda melalui novel Max Havelaar. Melalui puisi ini, penyair mengangkat nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan keberanian dalam melawan penindasan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjuangan melawan ketidakadilan dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema keberanian moral, antikolonialisme, dan ketulusan seorang intelektual yang membela kaum tertindas tanpa memandang bangsa maupun ras.
Puisi ini bercerita tentang penghormatan kepada Multatuli yang dikenal sebagai sosok yang berani mengkritik sistem kolonial Belanda yang menindas rakyat pribumi.
Penyair menggambarkan bagaimana Multatuli, meskipun berasal dari kalangan Eropa, memilih berpihak kepada kebenaran dan kemanusiaan. Ia tidak terikat oleh identitas bangsa atau warna kulit, melainkan oleh suara hati nuraninya.
Puisi ini juga menyinggung tokoh-tokoh dan karya yang berkaitan dengan perjuangan melawan penjajahan, seperti kisah Saijah dan Adinda dalam Max Havelaar, serta semangat kebangkitan nasional yang kemudian berkembang di Indonesia.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kebenaran dan keadilan tidak mengenal batas bangsa, ras, maupun kelas sosial.
Melalui sosok Multatuli, penyair ingin menunjukkan bahwa seseorang dapat menjadi pembela kemanusiaan meskipun berasal dari kelompok yang secara historis dianggap sebagai pihak yang berkuasa. Yang terpenting bukan asal-usul seseorang, melainkan keberanian untuk menentang penindasan.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa karya sastra memiliki kekuatan besar untuk membuka mata masyarakat terhadap ketidakadilan dan menjadi alat perubahan sosial.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang terkandung dalam puisi ini adalah:
- Jangan pernah membiarkan ketidakadilan dan penindasan berlangsung tanpa perlawanan.
- Nilailah seseorang berdasarkan tindakan dan integritasnya, bukan berdasarkan asal bangsa, ras, atau status sosialnya.
- Sastra dapat menjadi sarana untuk memperjuangkan kemanusiaan dan menyuarakan kebenaran.
- Setiap manusia memiliki tanggung jawab moral untuk membela pihak yang tertindas.
- Persatuan kemanusiaan lebih penting daripada sekat-sekat identitas.
Pesan tersebut terlihat jelas dalam larik:
"Bangsa, kelas, dan ujud ragawi jangan ampuni kalau menindas"
yang menegaskan bahwa segala bentuk penindasan harus ditolak tanpa memandang siapa pelakunya.
Puisi "Melati buat Multatuli" karya Iman Budhi Santosa merupakan puisi penghormatan terhadap Multatuli sebagai simbol keberanian moral dan pembela kemanusiaan. Penyair menegaskan bahwa kebenaran harus diperjuangkan tanpa memandang bangsa, ras, maupun status sosial. Puisi ini mengajak pembaca untuk terus menjaga nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan keberanian dalam menghadapi segala bentuk penindasan.
