Memang, Seperti Katamu
memang pertemuan itu sepele saja.
seperti dusta yang tak terencana, atau suara
tawa yang iseng. seperti katamu. tapi mengapa
tertinggal rindu yang memekik bagai suara
tuter yang ditekan tak sabar?
memang cinta itu masih ada.
seperti katamu. tapi pada bagian mana
di hati kita ia tergeletak?
percintaan kita sebentar saja memang.
seperti katamu: bagai lolong anjing
di kejauhan. hanya untuk kita merapatkan selimut.
atau denting tiang listrik yang dipukuli orang
di ujung gang, sekadar untuk memperjelas larut
tapi mengapa kita
mencari-cari tempat melambai ketika
berpisah?
memang pada saat itu, kita tak berkata apa-apa.
Makassar, 1996
Sumber: Bahaya Laten Malam Penganten (Ininnawa, 2008)
Analisis Puisi:
Puisi "Memang, Seperti Katamu" karya Aslan Abidin merupakan puisi liris yang mengangkat tema cinta, perpisahan, dan jejak kenangan yang sulit dihapus dari hati. Ditulis di Makassar, 1996, puisi ini menghadirkan percakapan batin antara penyair dengan seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya.
Melalui bahasa yang sederhana tetapi penuh makna, penyair menunjukkan bahwa sebuah pertemuan dan hubungan yang singkat pun dapat meninggalkan bekas yang mendalam. Meskipun salah satu pihak menganggap semuanya biasa saja, hati tetap menyimpan rindu yang tak mudah dijelaskan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah cinta yang singkat tetapi meninggalkan kerinduan mendalam. Tema pendukung yang tampak dalam puisi antara lain:
- Kenangan masa lalu.
- Perpisahan dan kehilangan.
- Keraguan terhadap perasaan yang masih tersisa.
- Pergulatan batin setelah berakhirnya hubungan.
- Ketidakmampuan melupakan seseorang yang pernah dicintai.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengenang hubungan cintanya dengan seseorang di masa lalu. Orang yang dikenangnya menganggap bahwa:
- pertemuan mereka hanyalah hal sepele,
- cinta mereka berlangsung sebentar,
- dan hubungan itu tidak terlalu berarti.
Namun penyair justru mempertanyakan hal tersebut. Jika hubungan itu memang biasa saja, mengapa masih ada rindu yang tertinggal? Mengapa saat berpisah mereka masih mencari-cari tempat untuk melambaikan tangan? Mengapa kenangan itu tetap hidup meskipun tak ada kata-kata yang terucap saat perpisahan?
Puisi ini menggambarkan pertentangan antara logika yang ingin menganggap semuanya selesai dan perasaan yang masih menyimpan bekas cinta.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa perasaan manusia tidak selalu dapat diukur oleh lamanya sebuah hubungan.
Pertemuan yang singkat bisa meninggalkan kenangan yang jauh lebih kuat daripada hubungan yang berlangsung lama. Puisi ini juga menyiratkan bahwa seseorang sering berusaha meremehkan atau menutupi arti sebuah hubungan, tetapi hatinya tetap menyimpan jejak perasaan yang sulit dihapus.
Selain itu, puisi ini menunjukkan bahwa perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Kenangan dan rindu sering kali tetap hidup meskipun hubungan telah berakhir.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Jangan meremehkan setiap pertemuan dalam hidup karena bisa meninggalkan makna yang mendalam.
- Perasaan tidak selalu dapat dijelaskan dengan logika.
- Cinta yang singkat tetap dapat meninggalkan kenangan yang abadi.
- Kejujuran terhadap perasaan lebih penting daripada berpura-pura tidak peduli.
- Perpisahan sering kali menyisakan pelajaran berharga tentang kehidupan dan cinta.
Puisi "Memang, Seperti Katamu" karya Aslan Abidin merupakan puisi yang menggambarkan ironi sebuah hubungan yang dianggap singkat dan sepele, tetapi justru meninggalkan kerinduan yang mendalam. Melalui rangkaian pertanyaan retoris dan simbol-simbol sederhana dari kehidupan sehari-hari, penyair mengungkapkan bahwa cinta tidak selalu diukur dari lamanya kebersamaan, melainkan dari jejak yang ditinggalkannya di hati.
Puisi ini berhasil menghadirkan suasana melankolis yang menyentuh dan mengajak pembaca merenungkan makna pertemuan, cinta, dan perpisahan dalam kehidupan.
Puisi: Memang, Seperti Katamu
Karya: Aslan Abidin
Biodata Aslan Abidin:
- Aslan Abidin lahir pada tanggal 31 Mei 1972 di Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan.