Puisi: Membalas Doa (Karya Ali Syamsudin Arsi)

Puisi "Membalas Doa" karya Ali Syamsudin Arsi mengandung kritik tajam terhadap manusia yang terlena oleh kecantikan, kekayaan, dan kekuasaan hingga ..

Membalas Doa

-satu episode Raden Pangenten

sementara ada suara dari tetangga bila memandang
wajahnya membius sampai nafsu di ubun-ubun
membuncah keluar naik tak tertahan maka awas saja
bersabar adalah jalan paling baik menurut petuah-petuah
melayarkan harapan di tanah-tanah jauh kemudian
kembali dengan kemewahan wajah cantik serasa bidadari
kayangan harta dan kekuasaan selalu mengikuti
di sekitar badan

mama renta menanti

di ujung rambutnya lihatlah apa yang mampu
ditayangkan ke hadapan orang-orang dengan kagum
diagungkan pesonamu menjadi berlebihan

ayo, ciptakan dayung di kiri kanan kapalmu tetapi jangan
patahkan pelayaran menuju keabadian

seperti batu

tiba-tiba saja mengurung dirimu
adalah sejarah nenek moyang kita pada satu bagian
peristiwa dalam renungan lalu ke manakah disedekahkan
jari-jari ini ketika ia mulai belajar menuliskan firman-firman
kesetiaan kepada alam atau kepada orang lain hanya
kepada diri sendiri

maka batu-batu itu

selalu melayarkan biduk di tengah lautan kekuasaan yang
dipaparkan menjadi kitab-kitab dongeng atau kenyataan
tidaklah dijadikan alasan untuk melupa kepada siapa kita
bersimpuh

sebelum menjadi batu

dalam kekakuan sebab perjalanan teramat jauh akan
menjadi sangat melelahkan dan sia-sia patah di tengah
tanpa sempat mencium bau tanah karena batu menjelma
menjadi bisu sebab bius wajah kemewahan dan kata-kata
perintah,

"enyahlah perempuan tua renta dari hadapanku..."

(badai topan gemuruh itu pun ikut menjadi batu)

Banjarbaru, 2005-2015

Sumber: Buku Setengah Tiang (Fram Publishing, 2015)

Analisis Puisi:

Puisi "Membalas Doa" karya Ali Syamsudin Arsi merupakan puisi yang sarat kritik moral dan refleksi spiritual. Melalui bahasa yang simbolis, penyair mengisahkan perjalanan seseorang yang berubah setelah memperoleh kecantikan, kekayaan, atau kekuasaan. Perubahan tersebut membuatnya lupa kepada asal-usul, kepada sosok ibu yang telah renta, bahkan kepada nilai-nilai kehidupan yang dahulu menjadi pegangan.

Puisi ini menghadirkan simbol-simbol seperti batu, kapal, lautan, dan pelayaran untuk menggambarkan perjalanan hidup manusia. Di balik kisah tersebut tersimpan pesan bahwa doa yang dikabulkan seharusnya dibalas dengan rasa syukur, bakti kepada orang tua, serta kerendahan hati, bukan dengan kesombongan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kritik terhadap kesombongan manusia setelah memperoleh keberhasilan serta pentingnya berbakti kepada orang tua dan tetap bersyukur kepada Tuhan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang perjalanan hidup, kekuasaan, godaan duniawi, serta nilai-nilai moral dan spiritual.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang memperoleh keberuntungan dalam hidup. Kecantikan, kemewahan, harta, dan kekuasaan membuat dirinya dipuja oleh banyak orang.

Namun, di balik semua keberhasilan itu, terdapat seorang ibu yang telah tua dan terus menunggu anaknya. Penyair menggambarkan bagaimana manusia sering terlena oleh pujian sehingga melupakan orang yang dahulu berjuang membesarkannya.

Melalui simbol batu dan pelayaran, penyair mengingatkan bahwa perjalanan hidup seharusnya mengantarkan manusia kepada keabadian dan kedekatan dengan Tuhan, bukan menjadikannya pribadi yang keras hati. Bagian penutup puisi menghadirkan adegan paling menyentuh ketika muncul kalimat:

"Enyahlah perempuan tua renta dari hadapanku..."

Kalimat tersebut menjadi puncak kritik terhadap manusia yang telah kehilangan rasa hormat kepada ibunya akibat mabuk oleh kemewahan dan kekuasaan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa keberhasilan bukanlah ukuran kemuliaan seseorang. Kekayaan, kecantikan, jabatan, dan popularitas dapat menjadi ujian yang membuat manusia lupa kepada Tuhan, orang tua, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Judul "Membalas Doa" menyiratkan bahwa setiap keberhasilan dalam hidup sejatinya merupakan buah dari doa, perjuangan, dan kasih sayang orang-orang terdekat, terutama ibu. Oleh karena itu, balasan terbaik atas doa tersebut bukanlah kesombongan, melainkan rasa syukur, kerendahan hati, dan bakti kepada orang tua.

Simbol batu juga mengandung makna bahwa hati manusia dapat mengeras apabila terlalu mencintai dunia sehingga kehilangan empati dan kasih sayang.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Jangan biarkan kekayaan dan kekuasaan membuat kita melupakan orang tua.
  • Bersyukurlah atas setiap keberhasilan yang diperoleh dalam hidup.
  • Hormatilah ibu dan ayah selama mereka masih ada.
  • Kesuksesan sejati diukur dari akhlak, bukan dari kemewahan.
  • Jangan sampai hati menjadi keras karena godaan dunia.
  • Selalu ingat kepada Tuhan sebagai sumber segala nikmat.
Puisi "Membalas Doa" karya Ali Syamsudin Arsi merupakan puisi yang mengandung kritik tajam terhadap manusia yang terlena oleh kecantikan, kekayaan, dan kekuasaan hingga melupakan Tuhan serta orang tua. Melalui simbol-simbol seperti batu, kapal, lautan, dan perjalanan, penyair menunjukkan bahwa keberhasilan sejati bukan terletak pada kemewahan, melainkan pada kemampuan menjaga hati tetap rendah, bersyukur, dan penuh kasih.

Puisi ini menghadirkan renungan mendalam tentang pentingnya membalas doa dan pengorbanan orang tua dengan bakti, rasa hormat, dan akhlak yang baik. Pesan tersebut menjadikan puisi ini relevan sebagai pengingat bahwa setinggi apa pun seseorang melangkah, ia tidak boleh melupakan asal-usul serta tangan-tangan yang dahulu mengangkatnya menuju kehidupan.

Ali Syamsudin Arsi
Puisi: Membalas Doa
Karya: Ali Syamsudin Arsi

Biodata Ali Syamsudin Arsi:
  • Ali Syamsudin Arsi (ASA) lahir pada tanggal 5 Juni 1964 di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.