Menulis Manusia
Menulis manusia dalam lembaran-lembaran hidup
aksara-aksara nasib disusun dalam luka kabut
sekian ribu kalimat Tuhan mengalir dalam takdir-Nya
menuliskan nama-nama, batu dan bunga-bunga
sekian ribu isyarat membalikkan musim di tangan sepi
dinding waktu pun luruh dalam goresan ruh!
Menulis manusia sekian tanda baca dipancang
o rindu pun letih dalam jarum jam
sekian tanda cinta berlabuh
menabuh lagu di seberang tubuh
Banjarbaru, 1989-1995
Sumber: Salawat Laut (Pustaka Banua, 2013)
Analisis Puisi:
Puisi "Menulis Manusia" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi reflektif yang mengajak pembaca merenungkan hakikat kehidupan manusia sebagai bagian dari kehendak Tuhan. Penyair menggunakan metafora "menulis" untuk menggambarkan proses kehidupan, di mana setiap manusia seolah menjadi sebuah teks yang tersusun oleh takdir, pengalaman, luka, harapan, dan cinta.
Dengan pilihan diksi yang puitis dan simbolik, puisi ini memadukan unsur spiritual, eksistensial, dan kemanusiaan. Setiap larik menyiratkan bahwa kehidupan bukan sekadar perjalanan biologis, melainkan sebuah "naskah" yang terus ditulis oleh waktu dan kehendak Ilahi.
Tema
Tema utama puisi ini adalah hakikat kehidupan manusia dalam bingkai takdir, waktu, dan spiritualitas. Selain itu, puisi ini juga mengangkat beberapa tema pendukung, seperti:
- Perjalanan hidup manusia.
- Kehendak Tuhan dalam kehidupan.
- Cinta dan kerinduan.
- Perenungan tentang waktu dan nasib.
Puisi ini bercerita tentang kehidupan manusia yang diibaratkan sebagai sebuah tulisan. Dalam tulisan tersebut terdapat aksara-aksara nasib, tanda baca kehidupan, luka, cinta, hingga perjalanan waktu yang semuanya tersusun dalam kehendak Tuhan.
Penyair menggambarkan bahwa Tuhan menuliskan nama-nama manusia, menghadirkan berbagai peristiwa, serta mengatur pergantian musim kehidupan. Sementara itu, manusia menjalani setiap "kalimat" hidup dengan membawa kerinduan, harapan, dan cinta hingga akhirnya menjadi bagian dari perjalanan ruh.
Puisi ini bukan menceritakan kisah seseorang secara khusus, melainkan menggambarkan perjalanan seluruh manusia sebagai makhluk yang hidup di bawah kuasa Sang Pencipta.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kehidupan manusia tidak terjadi secara kebetulan. Setiap peristiwa, baik kebahagiaan maupun penderitaan, merupakan bagian dari "tulisan" Tuhan yang memiliki tujuan dan makna.
Metafora "menulis manusia" menunjukkan bahwa setiap orang sedang menyusun kisah hidupnya, tetapi tetap berada dalam ketentuan Ilahi. Luka, rindu, waktu, dan cinta bukan sekadar pengalaman emosional, melainkan bagian dari proses pendewasaan jiwa.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari perjalanan panjang kehidupan yang terus bergerak mengikuti irama waktu dan takdir.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Terimalah perjalanan hidup sebagai bagian dari kehendak Tuhan.
- Setiap pengalaman, termasuk luka dan kesedihan, memiliki makna bagi pertumbuhan manusia.
- Gunakan waktu dengan bijaksana karena kehidupan terus berjalan.
- Cinta dan kerinduan merupakan bagian penting yang memperkaya perjalanan hidup.
- Renungkan setiap peristiwa agar hidup menjadi lebih bermakna.
Puisi "Menulis Manusia" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi reflektif yang memandang kehidupan sebagai sebuah teks agung yang ditulis oleh Tuhan. Penyair mengajak pembaca memahami bahwa setiap manusia sedang menjalani kisah yang sarat makna, meskipun tidak selalu mudah dipahami.
Dengan suasana yang hening dan religius, puisi ini menegaskan bahwa takdir, cinta, luka, dan perjalanan waktu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Pada akhirnya, manusia diajak untuk menerima setiap peristiwa dengan kesadaran bahwa seluruh perjalanan hidup adalah bagian dari kebijaksanaan Tuhan yang terus "menuliskan" makna di dalam kehidupan setiap insan.
Karya: Ariffin Noor Hasby
Biodata Ariffin Noor Hasby:
- Ariffin Noor Hasby lahir pada tanggal 20 Februari 1964 di Marabahan, Kabupaten Batola, Kalimantan Selatan.