Puisi: Monolog Belantara (Karya Ariffin Noor Hasby)

Puisi "Monolog Belantara" karya Ariffin Noor Hasby menggambarkan kegelisahan alam terhadap perubahan zaman, kerusakan lingkungan, serta semakin ...

Monolog Belantara

akulah hutan yang meminum gelombang
belantara yang mengajakmu berfikir menyiasati
pasang surut lautan
sebelum musim manusia berzikir ketakutan
walau tak mengerti gelisah cuaca di seberang mata
kurenungkan juga kota-kota yang bersiul keasingan
kubayangkan betapa sukarnya membaca tanda-tanda
rimba
di depan rumah-rumahnya

akulah hutan yang selalu gelisah membaca surat perahu:
bercerita tentang kayu yang hanyut ke hulu waktu
membawa kenangan burung-burung bersayap murung
seandainya cuaca mengizinkan akan kutulis surat balasan
mengabarkan tentang anak sungai yang tak lagi
mampu merenangi pagi hari, ikan-ikan yang bersisik
kecemasan
sepanjang hari, atau pantai yang berpasir kesepian
di bawah matahari

akulah hutan yang setia mengasuh perkampungan tak
bernama
sampai ia dewasa lalu pergi mengembara entah ke mana
begitulah aku pun kecewa ketika suratnya tiba:
aku akan ditawarkannya ke jantung kota!
berulang kusimak maknanya penuh tanda tanya
kehidupan
tanda tangannnya mengingatkanku pada lekuk gelombang
            yang pernah kuminum di gelas kenangan

(Notabene: Pemenang III Lomba Puisi Indonesia 1989/1990)

Sumber: Kota yang Bersiul (Tuas Media, Kertak Hanyar, 2012)

Analisis Puisi:

Puisi "Monolog Belantara" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi kontemporer yang memadukan tema alam, kemanusiaan, dan kritik terhadap perubahan lingkungan. Melalui sudut pandang hutan yang berbicara sebagai "aku", penyair menghadirkan monolog yang sarat simbolisme tentang hubungan manusia dengan alam.

Hutan dalam puisi ini bukan sekadar kumpulan pepohonan, melainkan sosok yang hidup, berpikir, merasakan kegelisahan, bahkan menyimpan kenangan. Penyair menyampaikan kegundahan atas perubahan zaman yang membuat manusia semakin menjauh dari alam yang selama ini menjadi tempat kehidupan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah hubungan manusia dengan alam, kerusakan lingkungan, dan kegelisahan terhadap perubahan zaman. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kehilangan, kenangan, tanggung jawab manusia terhadap alam, serta benturan antara kehidupan alami dan modernisasi.

Puisi ini bercerita tentang sebuah hutan yang seolah-olah hidup dan berbicara kepada manusia. Hutan menceritakan kegelisahannya melihat perubahan alam, perubahan perilaku manusia, serta semakin renggangnya hubungan antara manusia dengan lingkungan.

Dalam monolognya, hutan mengenang sungai, burung, ikan, pantai, dan perkampungan yang dahulu hidup berdampingan dengannya. Namun, semua itu perlahan berubah. Alam kehilangan keseimbangannya, sementara manusia lebih memilih membawa kehidupan menuju kota daripada menjaga belantara yang telah membesarkan mereka.

Bagian akhir puisi memperlihatkan kekecewaan hutan ketika mengetahui dirinya akan "ditawarkan ke jantung kota". Ungkapan tersebut menyiratkan eksploitasi alam demi kepentingan pembangunan dan ekonomi.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa alam memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, tetapi sering kali diperlakukan hanya sebagai objek yang dapat dieksploitasi.

Penyair ingin menyampaikan beberapa gagasan penting, yaitu:
  • Kerusakan alam berawal dari hilangnya kepedulian manusia terhadap lingkungan.
  • Modernisasi tidak boleh mengorbankan kelestarian hutan dan ekosistem.
  • Alam menyimpan sejarah, kehidupan, dan kenangan yang tidak dapat digantikan.
  • Manusia seharusnya hidup berdampingan dengan alam, bukan menguasainya secara berlebihan.
Puisi ini juga menjadi kritik halus terhadap pembangunan yang mengabaikan keseimbangan lingkungan.

Amanat atau Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan beberapa pesan penting, yaitu:
  • Jagalah hutan dan lingkungan sebagai sumber kehidupan.
  • Jangan mengeksploitasi alam hanya demi kepentingan ekonomi sesaat.
  • Modernisasi harus berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan.
  • Manusia perlu kembali menghargai alam sebagai bagian dari kehidupannya.
  • Kerusakan alam pada akhirnya akan berdampak kepada manusia sendiri.
Amanat utama puisi ini adalah bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral untuk merawat alam agar tetap lestari bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang.

Puisi "Monolog Belantara" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi yang memadukan kritik lingkungan dengan refleksi kemanusiaan melalui sudut pandang hutan sebagai tokoh utama. Penyair menggambarkan kegelisahan alam terhadap perubahan zaman, kerusakan lingkungan, serta semakin jauhnya manusia dari akar kehidupannya.

Melalui monolog tersebut, pembaca diajak memahami bahwa hutan bukan sekadar sumber daya alam, melainkan bagian penting dari sejarah, kehidupan, dan masa depan manusia. Oleh karena itu, puisi ini menjadi ajakan untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan demi keberlangsungan kehidupan bersama

Ariffin Noor Hasby
Puisi: Monolog Belantara
Karya: Ariffin Noor Hasby

Biodata Ariffin Noor Hasby:
  • Ariffin Noor Hasby lahir pada tanggal 20 Februari 1964 di Marabahan, Kabupaten Batola, Kalimantan Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.