Puisi: Ngagel (Karya Mardi Luhung)

Puisi "Ngagel" karya Mardi Luhung menggambarkan realitas masyarakat yang dipenuhi paradoks, kemunafikan, kekerasan, dan kebingungan moral.

Ngagel

...bersama Made Wirya

Di kios majalah, kitab-kitab ramalan ditulis
lewat tangan kiri, sedang yang kanan,
mengutuki gambar porno serta
sebungkus krupuk borak, udapan-makan-malam
menu-campur-dari-pasar
lalu, lewat bak-truk-papan-seng, si istri-yang-kasihan
meracau tentang suami-yang kejam, suami-yang-rajam
sambil mengelus punggung-tiga-ekor-babi
yang kemarin sore nyelonong ke jantung-galeri
menonton orang-sembahyang-mengokang-senapan:
"Memang, jika orang-orang anarkis itu datang, maka sorga
akan menjadi teka-teki yang memusingkan,"
kini: "Kau mau pakai apa? Majelis, dewan, mahkamah
atau cuma sekedar pantat-cangkrukan?"
maaf, ternyata sudah tak ada kakus, jika tetap
ingin buang hajat, pakai saja tissue-sarapan
dan tepat di simpang arah (mungkin berarah-arah)
dengan-tiga-ekor-babi (yang nyelonong itu)
si suami-yang-kejam pun merapat ke polisi
lalu menggertak: "Mas, Mas, apa sampeyan punya
kurungan untuk tiga-ekor-babi?"
ternyata, orang-orang anarkis itu tidak datang,
sorga tidak memusingkan, tiga-ekor-babi tidak
dikurung dan ramalan tetaplah menjadi kitab,
menjadi bacaan, menjadi seperti pasangan hasrat
yang membuka kancing-celananya dan berseru:
"kami akan membuka semuanya, seperti dia
yang datang membuka; dia yang berkepala
badak, anjing atau biawak; dia masih memanah,
mengendus dan menjilat; dan dia yang selalu ada
di dalam perutmu, yang ketika ingin ingin buang-hajat, cuma
tersedia tissue-sarapan,"
lewat bak-truk-papan-seng, si istri-yang kasihan
terus saja meracau...

Gresik

Sumber: Dari Amerika ke Catatan Langit (2005)

Analisis Puisi:

Puisi "Ngagel" karya Mardi Luhung merupakan puisi yang sarat dengan simbolisme, satire, dan kritik sosial. Melalui rangkaian peristiwa yang tampak absurd, penyair menggambarkan realitas masyarakat yang dipenuhi paradoks, kemunafikan, kekerasan, dan kebingungan moral. Judul Ngagel mengacu pada sebuah kawasan di Surabaya, tetapi dalam puisi ini, tempat tersebut berkembang menjadi simbol ruang sosial tempat berbagai persoalan kehidupan saling bertabrakan.

Dengan gaya bahasa yang khas, penuh penggabungan kata (compound words), ironi, dan citraan yang tidak lazim, Mardi Luhung mengajak pembaca menafsirkan sendiri makna di balik setiap fragmen yang disajikan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kritik terhadap kehidupan sosial yang penuh kemunafikan, kekacauan moral, dan absurditas kehidupan modern. Tema-tema pendukung yang muncul meliputi:
  • Kritik sosial.
  • Kekuasaan dan hukum.
  • Kemunafikan masyarakat.
  • Agama dan moralitas.
  • Kekerasan.
  • Kehidupan perkotaan.
Puisi ini bercerita tentang berbagai potongan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Penyair memperlihatkan seseorang yang menjual kitab ramalan, sementara di saat yang sama mengutuk gambar porno. Ada pula seorang istri yang meratapi kekejaman suaminya, kemunculan tiga ekor babi yang memasuki galeri, orang-orang yang beribadah sambil mengokang senapan, hingga percakapan tentang hukum, surga, dan anarki.

Semua fragmen tersebut tampak tidak saling berhubungan, tetapi sebenarnya membentuk gambaran masyarakat yang penuh kontradiksi. Di akhir puisi, persoalan-persoalan itu tidak menemukan penyelesaian. Istri yang malang tetap meracau, ramalan tetap menjadi bacaan, dan dunia tetap berjalan dalam absurditasnya.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa masyarakat modern sering kali hidup dalam kontradiksi antara nilai yang diucapkan dan perilaku yang dilakukan.

Penyair menyindir bagaimana agama, hukum, moralitas, dan kekuasaan kerap dijadikan simbol kebaikan, tetapi dalam praktiknya justru berdampingan dengan kekerasan, ketidakadilan, dan kemunafikan.

Tiga ekor babi dalam puisi ini dapat dimaknai sebagai simbol naluri, kerakusan, atau persoalan yang dianggap kotor oleh masyarakat, tetapi justru dibiarkan bebas. Sementara itu, ketiadaan kakus dan hanya tersedianya "tissue-sarapan" menjadi sindiran terhadap sistem yang tidak mampu menyelesaikan persoalan mendasar, melainkan hanya menyediakan solusi sementara.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Jangan mudah terjebak pada simbol-simbol moral tanpa melihat kenyataan yang sebenarnya.
  • Kehidupan sosial sering kali dipenuhi kontradiksi yang perlu disikapi secara kritis.
  • Hukum, agama, dan kekuasaan seharusnya menjadi sarana menciptakan keadilan, bukan sekadar alat legitimasi.
  • Manusia perlu berani menghadapi persoalan nyata, bukan hanya sibuk membicarakan teori atau ramalan.
  • Sikap kritis terhadap kondisi masyarakat sangat penting agar tidak larut dalam kemunafikan dan absurditas.
Puisi "Ngagel" karya Mardi Luhung merupakan puisi eksperimental yang memadukan kritik sosial, simbolisme, dan satire dalam bentuk fragmen-fragmen kehidupan yang absurd. Melalui gambaran tentang ramalan, kekerasan, hukum, agama, hingga kehidupan rumah tangga, penyair menunjukkan bahwa masyarakat sering hidup dalam kontradiksi antara nilai yang diyakini dan tindakan yang dilakukan. Puisi ini mengajak pembaca untuk berpikir kritis terhadap realitas sosial dan mempertanyakan berbagai kemapanan yang selama ini dianggap sebagai kebenaran.

Mardi Luhung
Puisi: Ngagel
Karya: Mardi Luhung

Biodata Mardi Luhung:
  • Mardi Luhung lahir pada tanggal pada 5 Maret 1965 di Gresik, Jawa Timur.
© Sepenuhnya. All rights reserved.