Puisi: Onggok (Karya Mardi Luhung)

Puisi "Onggok" karya Mardi Luhung menghadirkan potret masyarakat yang sedang mempertanyakan asal-usul, kekuasaan, ideologi, hingga posisi manusia ...

Onggok

"Seperti priyayi, bayar aku dengan kopi dan beras,
lalu aku dan kau bisa saling tukar-tubuh,"

"Kau pasti bukan Jawa, bukan Madura, Papua, Bali
atau Batak? Lalu apa?"

dan lewat priyayi, bayar kopi dan beras, asal-usul,
keberanian, tukar-tubuh, terminal, warung serta
karcis-titipan itu, kau ngakak:
"Biarin, tuhan saja atheis kok,"

seharian itu, seperti puisi, kau pamerkan
suratmu, seperti larik, suratmu kau bariskan, dan

seperti hikayat-barisan-yang-diaduk,
kau baca kapital, kau lihat molotov yang beku:

"Marx: jenggot, kumis dan bulu-bulumu menyelam ke udara,
tapi tanah tetap liat dan setengah-jahat,"

Gresik, 2001

Sumber: Dari Amerika ke Catatan Langit (2005)

Analisis Puisi:

Puisi "Onggok" karya Mardi Luhung merupakan puisi modern yang sarat dengan kritik sosial, politik, dan identitas budaya. Melalui gaya bahasa yang fragmentaris, dialogis, dan penuh simbol, penyair menghadirkan potret masyarakat yang sedang mempertanyakan asal-usul, kekuasaan, ideologi, hingga posisi manusia dalam struktur sosial.

Puisi ini tidak menawarkan makna yang tunggal. Sebaliknya, pembaca diajak menafsirkan berbagai simbol yang bertebaran, mulai dari priyayi, kopi, beras, terminal, hingga tokoh pemikir seperti Karl Marx. Semua unsur tersebut membentuk sebuah refleksi tentang identitas, kelas sosial, dan pencarian makna hidup di tengah realitas yang kompleks.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian identitas dan kritik terhadap struktur sosial serta ideologi. Tema pendukung yang muncul antara lain:
  • Kelas sosial.
  • Identitas budaya.
  • Kekuasaan.
  • Ideologi politik.
  • Alienasi manusia modern.
  • Kritik terhadap kemapanan.
Puisi ini bercerita tentang percakapan atau perjumpaan antara dua pihak yang saling mempertanyakan identitas dan posisi masing-masing.

Pada awal puisi muncul ungkapan:

"Seperti priyayi, bayar aku dengan kopi dan beras, lalu aku dan kau bisa saling tukar-tubuh"

Larik ini menggambarkan adanya relasi sosial yang melibatkan pertukaran, kekuasaan, dan simbol-simbol status.

Selanjutnya muncul pertanyaan:

"Kau pasti bukan Jawa, bukan Madura, Papua, Bali atau Batak? Lalu apa?"

Pertanyaan tersebut menunjukkan kegelisahan mengenai identitas. Penyair seolah mempertanyakan apakah manusia dapat didefinisikan hanya berdasarkan suku, asal daerah, atau kategori sosial tertentu.

Di bagian berikutnya, muncul berbagai simbol seperti terminal, warung, karcis titipan, hingga pernyataan yang provokatif:

"Biarin, tuhan saja atheis kok"

Ungkapan ini bukan semata-mata pernyataan teologis, melainkan bentuk satir yang mengguncang cara berpikir konvensional.

Pada akhir puisi, penyair menghadirkan figur Marx sebagai simbol pemikiran kritis terhadap struktur sosial dan ekonomi. Namun bahkan di sana, tanah tetap digambarkan "liat dan setengah-jahat", menandakan bahwa teori dan ideologi tidak selalu mampu mengubah kenyataan secara sempurna.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa identitas manusia tidak sesederhana label etnis, kelas sosial, maupun ideologi tertentu.

Penyair mengkritik kecenderungan masyarakat yang mengkotak-kotakkan manusia berdasarkan asal-usul atau status sosial. Selain itu, puisi ini juga menyiratkan bahwa berbagai ideologi besar yang pernah menjanjikan perubahan belum tentu mampu mengatasi seluruh persoalan kemanusiaan.

"Tukar-tubuh" dapat dimaknai sebagai upaya memahami pengalaman orang lain. Sementara "onggok" dalam konteks judul dapat dipahami sebagai sisa, endapan, atau kumpulan pengalaman hidup yang membentuk identitas seseorang.

Puisi ini juga menunjukkan bahwa manusia modern sering hidup di tengah kebingungan identitas, benturan budaya, dan tarik-menarik berbagai pemikiran besar.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Jangan menilai seseorang hanya berdasarkan identitas sosial atau etnisnya.
  • Berpikirlah kritis terhadap struktur kekuasaan dan ideologi yang ada.
  • Pahami manusia sebagai individu yang kompleks dan tidak mudah dikategorikan.
  • Jangan menerima kebenaran secara mentah tanpa refleksi.
  • Kehidupan sosial memerlukan keberanian untuk mempertanyakan hal-hal yang dianggap mapan.
Puisi ini mengajak pembaca untuk terus berdialog dengan realitas dan tidak terjebak dalam cara pandang yang sempit.

Puisi "Onggok" karya Mardi Luhung merupakan puisi modern yang mengangkat persoalan identitas, kelas sosial, dan ideologi melalui bahasa yang simbolik dan satiris. Penyair mengajak pembaca mempertanyakan berbagai label sosial yang sering digunakan untuk mendefinisikan manusia. Dengan memadukan simbol budaya, politik, dan kehidupan sehari-hari, puisi ini menghadirkan refleksi mendalam tentang kompleksitas identitas manusia serta keterbatasan berbagai sistem pemikiran dalam menjawab persoalan kehidupan.

Mardi Luhung
Puisi: Onggok
Karya: Mardi Luhung

Biodata Mardi Luhung:
  • Mardi Luhung lahir pada tanggal pada 5 Maret 1965 di Gresik, Jawa Timur.
© Sepenuhnya. All rights reserved.