Puisi: Orang-Orang Pedalaman (Karya Ali Syamsudin Arsi)

Puisi "Orang-Orang Pedalaman" karya Ali Syamsudin Arsi menyuarakan kritik terhadap kerusakan lingkungan dan marginalisasi masyarakat adat.

Orang-Orang Pedalaman

"Kami tersingkir dari pucuk daun," bisiknya dengan suara
hampir tak terdengar namun sangat terasa getir
dan bergetar hebat ketika masuk menusuk melalui daun
telinga merambah ke lorong syaraf dan otak menerimanya
sebagai pengaduan paling memilukan

"Kami kehilangan suara," lanjutnya pula

hutan bergelombang dari dataran bukit memandang
sapuan tipis di awan-awan angin mengantarkan sejuk
hutan bergelombang bunyi kecipak gerisik air di lumut
batu-batu terasa hanyut dalam suasana purba belum
bersentuh deru mesin penumbang pohon kenangan pun
menyeruak di jejak telapak kaki telanjang meresap rasa
dingin sedingin-dingin embun hutan sedikit berkabut
di puncak daun

lantas mengapa harus ada yang tersingkir dari pucuk
daun sedang pucuk daun selayaknya menikmati dingin
embun lantas mengapa sebuah suara kehilangan
gelombangnya sementara suara selayaknya tetap
menempati keheningan cuaca

"Cuaca alam kami pun telah ditaburi racun," mereka
semakin sulit harus menapak jejak di bukit yang mana
karena dataran bukit sudah kehilangan pijaknya

orang-orang pedalaman semakin terkepung jauh
ke dalam, "Perampasan pun kian tersusun, tersusun
dalam kepompong waktu," melantangkan suara
yang sangat kehilangan, kehilangan gema di hutan
bergelombang, hutan kita

Banjarbaru, Februari 2015

Sumber: Buku Setengah Tiang (Fram Publishing, 2015)

Analisis Puisi:

Puisi "Orang-Orang Pedalaman" karya Ali Syamsudin Arsi merupakan puisi kritik sosial dan ekologis yang mengangkat nasib masyarakat adat atau masyarakat pedalaman yang semakin terpinggirkan akibat kerusakan lingkungan dan perampasan ruang hidup. Melalui bahasa yang puitis dan simbolis, penyair menyuarakan keluh kesah mereka yang kehilangan hutan, tanah, bahkan hak untuk mempertahankan identitasnya.

Puisi ini tidak hanya berbicara tentang kerusakan alam, tetapi juga tentang hilangnya suara, budaya, dan kehidupan masyarakat yang sejak lama hidup berdampingan dengan hutan. Kritik yang disampaikan menjadi ajakan untuk lebih menghargai manusia sekaligus alam sebagai satu kesatuan.

Tema Puisi

Tema utama puisi ini adalah ketidakadilan terhadap masyarakat pedalaman akibat kerusakan alam dan perampasan ruang hidup. Tema-tema pendukung yang muncul dalam puisi ini meliputi:
  • Kerusakan lingkungan.
  • Hilangnya hak masyarakat adat.
  • Perampasan tanah dan hutan.
  • Kesedihan atas rusaknya alam.
  • Kritik terhadap eksploitasi sumber daya alam.
Puisi ini bercerita tentang penderitaan masyarakat pedalaman yang semakin tersingkir dari tanah dan hutan yang selama ini menjadi tempat hidup mereka.

Pada awal puisi, penyair menghadirkan suara lirih masyarakat pedalaman yang mengaku telah "tersingkir dari pucuk daun" dan "kehilangan suara". Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa mereka bukan hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga kehilangan kesempatan untuk menyampaikan aspirasi.

Selanjutnya, penyair melukiskan keindahan hutan yang masih alami: bukit-bukit, embun, lumut, bebatuan, dan kesejukan alam. Namun keindahan itu perlahan terancam oleh hadirnya mesin penebang pohon dan pencemaran lingkungan.

Pada bagian akhir, masyarakat pedalaman menyampaikan bahwa alam mereka telah diracuni dan ruang hidup mereka semakin sempit. Perampasan tanah berlangsung secara perlahan namun terus-menerus, hingga akhirnya mereka semakin terdesak ke pedalaman.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya menghancurkan alam, tetapi juga menghilangkan kehidupan, budaya, dan identitas masyarakat yang bergantung padanya.

Ungkapan:

"Kami kehilangan suara"

tidak sekadar berarti tidak mampu berbicara, tetapi melambangkan hilangnya hak untuk didengar dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan mereka.

Sementara itu, frasa:

"Perampasan pun kian tersusun, tersusun dalam kepompong waktu"

menunjukkan bahwa penguasaan lahan dan sumber daya alam berlangsung secara perlahan, sistematis, dan terus-menerus hingga akhirnya masyarakat kehilangan seluruh ruang hidupnya.

Puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa pembangunan seharusnya tidak mengorbankan manusia maupun alam.

Amanat atau Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Alam harus dijaga karena menjadi sumber kehidupan bagi banyak makhluk, termasuk masyarakat adat.
  • Hak-hak masyarakat pedalaman perlu dihormati dan dilindungi.
  • Pembangunan hendaknya dilakukan tanpa merusak lingkungan dan mengorbankan masyarakat.
  • Setiap suara, terutama dari kelompok yang terpinggirkan, layak didengar.
  • Manusia dan alam memiliki hubungan yang saling bergantung sehingga keduanya harus dijaga bersama.
Puisi "Orang-Orang Pedalaman" karya Ali Syamsudin Arsi merupakan puisi yang kuat dalam menyuarakan kritik terhadap kerusakan lingkungan dan marginalisasi masyarakat adat. Melalui gambaran hutan yang indah namun perlahan dirusak, penyair menunjukkan bahwa hilangnya alam berarti hilangnya kehidupan, budaya, dan identitas manusia yang menggantungkan hidup padanya.

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa keadilan ekologis dan keadilan sosial harus berjalan beriringan. Puisi ini mengajak pembaca untuk menjaga alam sekaligus menghormati hak-hak masyarakat pedalaman sebagai bagian penting dari kehidupan bangsa.

Ali Syamsudin Arsi
Puisi: Orang-Orang Pedalaman
Karya: Ali Syamsudin Arsi

Biodata Ali Syamsudin Arsi:
  • Ali Syamsudin Arsi (ASA) lahir pada tanggal 5 Juni 1964 di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.