Puisi: Padi Tak Lagi Menguning (Karya Tri Rahmawati)

Puisi "Padi Tak Lagi Menguning" karya Tri Rahmawati menggambarkan krisis lingkungan dan ancaman terhadap ketahanan pangan melalui simbol padi yang ...

Padi Tak Lagi Menguning

Dulu hamparan emas terbentang luas
Padi menguning
Tanda berkat semesta menyapa
Janji rezeki setiap nyawa

Kini angin berhembus membawa debu panas
Batang padi berdiri kaku, pucat, dan layu
Bukan rona keemasan menyapa mata
Melainkan debu kecemasan mengepul perih

Musim tak lagi tahu kapan hujan turun
Air menguap, tanah pucat 
Benih ditanam penuh doa dan harap
Gagal menjadi beras, gagal jadi tumpuan nyawa

Ketahanan kita mulai tergoncang
Saat lumbung mulai kosong, saat ladang tak berbuah
Bukan sekadar tanaman mati kering
Tapi masa depan pangan terancam hilang

Kita lupa, terlalu acuh tak peduli
Hingga padi pun enggan berpakaian kuning
Duhai pertiwi, kemana perginya bulir-bulir kemakmuran?
Akankah swasembada pangan sekadar ilusi malang?

Lumajang, 7 Juni 2026

Analisis Puisi:

Puisi "Padi Tak Lagi Menguning" karya Tri Rahmawati mengangkat persoalan lingkungan dan ketahanan pangan yang semakin mengkhawatirkan. Melalui gambaran perubahan kondisi sawah dari hamparan padi yang menguning menjadi ladang yang kering dan layu, penyair menyampaikan kritik terhadap sikap manusia yang kurang peduli terhadap alam serta dampak perubahan iklim terhadap kehidupan.

Puisi ini tidak hanya menggambarkan kegagalan panen, tetapi juga menghadirkan kegelisahan mengenai masa depan pangan bangsa. Dengan bahasa yang lugas dan penuh simbol, penyair mengajak pembaca untuk menyadari bahwa kerusakan lingkungan dapat mengancam kesejahteraan masyarakat secara luas.

Tema

Tema utama puisi ini adalah krisis lingkungan dan ancaman terhadap ketahanan pangan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang perubahan iklim, kepedulian terhadap alam, kemerosotan kesejahteraan petani, serta pentingnya menjaga keberlangsungan sumber pangan.

Puisi ini bercerita tentang perubahan kondisi pertanian yang sangat drastis. Dahulu, hamparan sawah dipenuhi padi yang menguning sebagai tanda panen melimpah dan kemakmuran masyarakat. Padi yang menguning menjadi simbol harapan, rezeki, dan keberlangsungan hidup banyak orang.

Namun kini keadaan telah berubah. Angin membawa debu panas, tanah menjadi kering, dan padi tidak lagi tumbuh subur. Benih yang ditanam dengan penuh harapan gagal menghasilkan panen yang diharapkan. Akibatnya, lumbung pangan mulai kosong dan ketahanan pangan masyarakat terancam.

Pada bagian akhir puisi, penyair mengungkapkan keprihatinan terhadap sikap manusia yang dianggap terlalu acuh terhadap lingkungan. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengenai masa depan swasembada pangan dan kesejahteraan bangsa.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kerusakan lingkungan dan perubahan iklim dapat mengancam kehidupan manusia secara langsung, terutama dalam hal ketersediaan pangan.

Padi yang tidak lagi menguning bukan sekadar simbol gagal panen, tetapi juga lambang hilangnya keseimbangan alam akibat ulah manusia. Penyair menyiratkan bahwa manusia sering terlambat menyadari pentingnya menjaga lingkungan hingga dampaknya terasa pada sektor yang paling mendasar, yaitu pangan.

Puisi ini juga menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan bukan hanya tanggung jawab petani, tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Jagalah lingkungan agar keseimbangan alam tetap terpelihara.
  • Perubahan iklim dan kerusakan alam harus menjadi perhatian bersama.
  • Ketahanan pangan merupakan aspek penting yang menentukan keberlangsungan kehidupan masyarakat.
  • Jangan bersikap acuh terhadap masalah lingkungan karena dampaknya dapat dirasakan oleh semua orang.
  • Dukungan terhadap sektor pertanian perlu ditingkatkan agar ketersediaan pangan tetap terjamin.
Puisi "Padi Tak Lagi Menguning" karya Tri Rahmawati merupakan puisi yang menggambarkan krisis lingkungan dan ancaman terhadap ketahanan pangan melalui simbol padi yang gagal menguning. Penyair menyampaikan keprihatinan terhadap perubahan iklim, kerusakan alam, dan sikap manusia yang kurang peduli terhadap lingkungan. Melalui puisi ini, pembaca diajak untuk menyadari bahwa keberlangsungan pangan dan kesejahteraan masyarakat sangat bergantung pada kemampuan manusia menjaga keseimbangan alam. Puisi ini tidak hanya menjadi ungkapan kegelisahan, tetapi juga seruan untuk lebih peduli terhadap masa depan bumi dan kehidupan manusia.

Tri Rahmawati
Puisi: Padi Tak Lagi Menguning
Karya: Tri Rahmawati

Biodata Tri Rahmawati:
  • Tri Rahmawati, seorang Pegawai Negeri Sipil yang berkecimpung di bidang Teknik Lingkungan. Ia telah menamatkan S1 dan S2 Teknik Lingkungan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Kecintaan pada dunia literasi membawanya aktif menulis di sela-sela kesibukannya. Perjalanan menulisnya mulai dari buku antologi, cerpen, puisi, dan esai. Saat ini menetap di Lumajang serta bisa disapa di Instagram @tri32871. Ia juga sedang mengikuti Kelas Puisi Jadi Cuan, Sekolah Kepenulisan Kosana Publisher @kosanapublisher bersama @intanhafidahnh sebagai mentor kelas.
© Sepenuhnya. All rights reserved.