Puisi: Pematang Kita (Karya Abdul Wachid B. S.)

Puisi “Pematang Kita” karya Abdul Wachid B. S. menggambarkan bahwa cinta tidak hanya hadir dalam kebersamaan, tetapi juga dalam kenangan yang tetap ..
Pematang Kita

Pematang itu masih utuh
Ada dam. Gejolak diredam
Saat itu tengah bulan jatuh
Nafasmu, lava yang dalam

Pematang itu berlindung malam
Nunggu orang. Suara-suara direndam
Saat itu tubuh saling sentuh
Di rerumputan, pakaian angin luruh

Pematang itu, dam itu
Angin itu, jalanan waktu
Kemegahan percintaan dinyalai cahaya
Teranglah badan-sukma kita

Pematang itu, hari-hari menempuh
Ada dam. Sungai bandang
Hari-hari membentang jauh
Kau di seberang aku di seberang

Pematang itu masih utuh
Meliuk-liuk mencari hari
Di dalam hati : Cinta 
Mengabadikan yang tiada.

2003

Sumber: Wasilah Sejoli (Basabasi, 2022)

Analisis Puisi:

Puisi “Pematang Kita” karya Abdul Wachid B. S. merupakan puisi liris yang mengangkat tema cinta melalui simbol-simbol alam. Pematang, dam, sungai, angin, dan malam bukan sekadar unsur latar, melainkan metafora yang menggambarkan perjalanan hubungan dua insan. Penyair memadukan lanskap alam dengan pengalaman batin sehingga cinta digambarkan sebagai sesuatu yang mampu bertahan melewati waktu, meskipun jarak dan perubahan hidup tak dapat dihindari.

Bahasa yang digunakan bersifat simbolik dan kontemplatif, sehingga pembaca diajak menafsirkan makna cinta yang tidak hanya hadir sebagai perasaan, tetapi juga sebagai kenangan yang abadi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta yang tetap hidup dan abadi meskipun dipisahkan oleh waktu, jarak, dan perubahan kehidupan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kenangan, kesetiaan, perjalanan hidup, dan kekuatan cinta dalam menghadapi berbagai rintangan.

Puisi ini bercerita tentang dua insan yang pernah berbagi kebersamaan di sebuah pematang. Pematang menjadi saksi berbagai kenangan, mulai dari pertemuan, sentuhan kasih, hingga perjalanan waktu yang akhirnya memisahkan mereka. Walaupun kini berada di "seberang" yang berbeda, kenangan tentang cinta itu tetap hidup.

Dalam perjalanan hidup, hubungan mereka mengalami perubahan sebagaimana sungai yang dapat meluap dan waktu yang terus berjalan. Namun, cinta yang pernah tumbuh tidak benar-benar hilang. Ia tetap tersimpan di dalam hati sebagai sesuatu yang mengabadikan kenangan yang telah berlalu.

Makna Tersirat

Puisi ini memiliki sejumlah makna tersirat yang mendalam. Beberapa di antaranya adalah:
  • Cinta sejati tidak selalu diukur dari kebersamaan, tetapi dari kenangan yang tetap hidup dalam hati.
  • Waktu dapat memisahkan manusia, tetapi tidak selalu mampu menghapus cinta.
  • Alam menjadi saksi bisu perjalanan kehidupan dan hubungan antarmanusia.
  • Setiap pertemuan memiliki kemungkinan perpisahan, tetapi maknanya tetap dapat bertahan.
  • Kenangan adalah bentuk keabadian yang dimiliki manusia.
Larik "Cinta / Mengabadikan yang tiada" menjadi inti makna puisi. Penyair menunjukkan bahwa cinta mampu membuat sesuatu yang telah berlalu tetap hidup dalam ingatan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang ingin disampaikan penyair antara lain:
  • Hargailah setiap momen kebersamaan karena suatu saat hanya akan menjadi kenangan.
  • Cinta yang tulus dapat tetap hidup meskipun dipisahkan oleh ruang dan waktu.
  • Perjalanan hidup akan membawa perubahan, tetapi kenangan baik patut dijaga.
  • Alam mengajarkan bahwa segala sesuatu berubah, namun makna yang tersimpan dalam hati dapat tetap abadi.
  • Jadikan cinta sebagai kekuatan untuk mengenang dengan syukur, bukan sekadar meratapi kehilangan.
Puisi “Pematang Kita” karya Abdul Wachid B. S. merupakan puisi liris yang memadukan keindahan alam dengan perjalanan cinta manusia. Melalui simbol pematang, dam, sungai, dan angin, penyair menggambarkan bahwa cinta tidak hanya hadir dalam kebersamaan, tetapi juga dalam kenangan yang tetap hidup meskipun waktu dan jarak memisahkan.

Dengan suasana yang romantis sekaligus reflektif, puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa cinta sejati memiliki daya untuk mengabadikan pengalaman yang telah berlalu. Oleh karena itu, puisi “Pematang Kita” tidak hanya berbicara tentang kisah dua insan, melainkan juga tentang bagaimana kenangan dan kasih sayang dapat terus hidup di dalam hati, bahkan ketika kenyataan telah berubah.

Abdul Wachid B. S.
Puisi: Pematang Kita
Karya: Abdul Wachid B. S.
© Sepenuhnya. All rights reserved.