Puisi: Percakapan (Karya Oka Rusmini)

Puisi "Percakapan" karya Oka Rusmini mengkritik pandangan patriarkal yang merendahkan perempuan sekaligus mengingatkan bahwa pada hakikatnya semua ...

Percakapan

aku mencoba berkaca pada urat daun
bicara pada kesuntukan warna pohon
rasa yang berair kubiarkan meninggalkan benih
dua puluh jari-jariku menyentuh tanah
pintalan itu menyumpat setiap suara yang kumuntahkan dari pikiran
"pegang nafasku!"
katamu:
"perempuan hanya bisa memuntahkan dagingnya"

kau lelakiku
kau juga gumpalan daging. akan busuk.
tanah melumatmu. akar pohon memotong sisa dagingmu
tulangmu menggemukkan tanah
laut menghabiskan berpuluh tahun yang kaupinjam

katamu:
"perempuan hanya bisa menjilati dagingku"

kau lelakiku
hanya bisa berkaca lewat dongeng bundamu
kau tidak punya retakan wajah
yang mampu menegakkan kakimu
kau tidak punya roh
hanya dongeng mengajari tumpukan ketololan

kau lelakiku
bundamu tidak punya suara sendiri
dia pinjam suara laki-laki
untuk menegakkan kaki dan menipiskan ketololannya

cerminmu dipinjam dari kesuburan bumi
kalau kau punya retakan wajah, lelakiku
kau akan lihat patahan daging-daging busuk
menutup jubahmu yang berkilat

kau juga lupa, lelakiku
kau hanya segumpal daging
menunggu busuk
kembalikan tahun yang kaupinjam pada hidup

katamu lagi:
"kau hanya perempuan..."

Sumber: Dari Amerika ke Catatan Langit (2005)

Analisis Puisi:

Puisi "Percakapan" karya Oka Rusmini merupakan puisi reflektif yang mengangkat persoalan relasi antara laki-laki dan perempuan dalam struktur sosial yang timpang. Melalui dialog yang tajam dan penuh simbol, penyair mengkritik pandangan patriarkal yang merendahkan perempuan sekaligus mengingatkan bahwa pada hakikatnya semua manusia memiliki keterbatasan yang sama. Puisi ini memadukan kritik sosial, refleksi filosofis, dan perenungan tentang kehidupan serta kematian.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ketidaksetaraan gender, kritik terhadap budaya patriarki, serta kesadaran akan hakikat manusia sebagai makhluk yang fana. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema pencarian jati diri dan keberanian perempuan dalam menyuarakan perlawanan.

Puisi ini bercerita tentang seorang perempuan yang terlibat dalam percakapan dengan sosok laki-laki yang memiliki pandangan merendahkan perempuan. Laki-laki tersebut berulang kali menyatakan bahwa perempuan hanyalah makhluk yang lemah dan bergantung pada laki-laki.

Namun, sosok perempuan tidak menerima pandangan tersebut begitu saja. Ia mengingatkan bahwa laki-laki pun hanyalah manusia biasa yang terdiri atas daging dan tulang, yang suatu hari akan kembali menjadi tanah. Melalui refleksi itu, penyair menunjukkan bahwa tidak ada alasan bagi seseorang untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Pada bagian selanjutnya, perempuan mengkritik cara berpikir laki-laki yang dibentuk oleh dongeng dan nilai-nilai lama yang diwariskan tanpa dipertanyakan. Bahkan, ibu sang laki-laki digambarkan tidak memiliki suara sendiri karena hidup dalam budaya yang meminjam suara laki-laki.

Puisi ditutup dengan pengulangan kalimat "kau hanya perempuan...", yang memperlihatkan bahwa pandangan diskriminatif masih terus diulang dalam kehidupan, meskipun telah dibantah oleh kenyataan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa superioritas laki-laki hanyalah konstruksi sosial yang dibangun melalui kebiasaan dan budaya, bukan karena kodrat manusia. Semua manusia pada akhirnya memiliki nasib yang sama, yaitu akan menua, mati, dan kembali menjadi tanah.

Puisi ini juga mengajak pembaca untuk berani mempertanyakan nilai-nilai yang diwariskan secara turun-temurun apabila nilai tersebut melahirkan ketidakadilan. Oka Rusmini menegaskan bahwa perempuan memiliki hak untuk berbicara, berpikir, dan menentukan kehidupannya sendiri tanpa harus bergantung pada legitimasi laki-laki.

Selain itu, puisi ini menyampaikan bahwa kekuasaan, tubuh, maupun status sosial hanyalah sesuatu yang sementara. Kesadaran akan kefanaan seharusnya melahirkan sikap rendah hati, bukan kesombongan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Jangan merendahkan seseorang berdasarkan jenis kelaminnya.
  • Semua manusia memiliki kedudukan yang setara karena sama-sama memiliki keterbatasan dan akan mengalami kematian.
  • Beranilah mengkritisi budaya atau tradisi yang melanggengkan ketidakadilan.
  • Perempuan memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dan menentukan jalan hidupnya sendiri.
  • Kesombongan tidak memiliki arti karena seluruh manusia pada akhirnya akan kembali kepada tanah.
Puisi "Percakapan" karya Oka Rusmini merupakan puisi yang sarat dengan kritik terhadap ketimpangan relasi gender. Melalui dialog simbolik antara perempuan dan laki-laki, penyair menunjukkan bahwa tidak ada manusia yang pantas merasa lebih unggul karena semua berasal dari tanah dan akan kembali kepada tanah. Puisi ini mengajak pembaca untuk membangun kesadaran akan kesetaraan, menghargai martabat setiap manusia, serta berani mempertanyakan nilai-nilai yang melanggengkan ketidakadilan.

Oka Rusmini
Puisi: Percakapan
Karya: Oka Rusmini

Biodata Oka Rusmini:
  • Oka Rusmini lahir pada tanggal 11 Juli 1967 di Jakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.