Puisi: Pertama, Kedua, Ketiga (Karya T. Mulya Lubis)

Puisi “Pertama, Kedua, Ketiga” karya T. Mulya Lubis menggambarkan perjalanan hidup manusia melalui tiga bentuk kesepian: kandungan, dunia, dan ...
Pertama, Kedua, Ketiga

sepi itu ada tiga
dinding perut bunda
adalah yang pertama
sembilan bulan kumencintainya
sepi yang kedua
itulah dunia
bersama istri tercinta
aku mengecapnya
alam baka
yang nomor tiga
bagaimanapun juga
kan mencekek leher kita

Sumber: Horison (
Februari, 1970)

Analisis Puisi:

Puisi “Pertama, Kedua, Ketiga” karya T. Mulya Lubis merupakan puisi reflektif yang membahas perjalanan hidup manusia melalui tiga bentuk “sepi”. Dengan gaya bahasa sederhana dan singkat, penyair mengajak pembaca merenungkan kehidupan sejak berada dalam kandungan, menjalani kehidupan dunia, hingga menghadapi kematian.

Puisi ini memiliki nuansa filosofis karena membicarakan tahapan hidup manusia secara simbolis dan mendalam.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup manusia dan kematian. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema eksistensi, kesepian, dan kefanaan hidup.

Puisi ini bercerita tentang tiga bentuk kesepian yang dialami manusia dalam hidupnya. Sepi pertama digambarkan sebagai keadaan di dalam kandungan ibu selama sembilan bulan. Sepi kedua adalah kehidupan di dunia bersama pasangan dan berbagai pengalaman hidup. Sedangkan sepi ketiga adalah alam baka atau kematian yang pada akhirnya akan mendatangi setiap manusia.

Penyair menunjukkan bahwa kehidupan manusia selalu dikelilingi kesepian dalam bentuk yang berbeda-beda.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa hidup manusia pada akhirnya akan kembali pada kesendirian dan kematian.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa setiap tahap kehidupan memiliki makna tersendiri, mulai dari kelahiran, kehidupan dunia, hingga akhir kehidupan.

Selain itu, larik terakhir menunjukkan bahwa kematian merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa hening, reflektif, dan sedikit mencekam, terutama pada bagian akhir yang membicarakan kematian.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa manusia harus menyadari kefanaan hidup dan mempersiapkan diri menghadapi akhir kehidupan.

Puisi ini juga mengingatkan agar manusia menghargai setiap fase kehidupan karena semuanya merupakan bagian dari perjalanan hidup yang tidak dapat dipisahkan.

Imaji

Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji, antara lain:
  • Imaji perasaan, tampak melalui rasa sepi dan renungan tentang hidup.
  • Imaji penglihatan, terlihat pada gambaran “dinding perut bunda” dan “alam baka”.
  • Imaji sentuhan, muncul pada larik “kan mencekek leher kita” yang memberi kesan tekanan dan ketakutan.
  • Imaji suasana, hadir melalui kesan sunyi dan mendalam sepanjang puisi.
Imaji tersebut memperkuat nuansa filosofis dan kontemplatif dalam puisi.

Majas

Beberapa majas yang terdapat dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora, pada penggunaan kata “sepi” untuk melambangkan fase-fase kehidupan manusia.
  • Personifikasi, pada “alam baka” yang digambarkan seolah mampu “mencekek leher kita”.
  • Repetisi, pada kata “sepi” yang diulang untuk menegaskan gagasan utama puisi.
  • Simbolisme, pada angka pertama, kedua, dan ketiga yang melambangkan tahapan kehidupan.
Puisi “Pertama, Kedua, Ketiga” karya T. Mulya Lubis menggambarkan perjalanan hidup manusia melalui tiga bentuk kesepian: kandungan, dunia, dan kematian. Dengan bahasa singkat tetapi penuh makna, puisi ini mengajak pembaca merenungkan keberadaan manusia dan kenyataan bahwa setiap kehidupan pada akhirnya akan menuju alam baka.

T. Mulya Lubis
Puisi: Pertama, Kedua, Ketiga
Karya: T. Mulya Lubis

Biodata T. Mulya Lubis:
  • T. Mulya Lubis lahir pada tanggal 4 Juli 1949 di Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.
© Sepenuhnya. All rights reserved.