Puisi: Politik Kanibal (Karya Ali Syamsudin Arsi)

Puisi "Politik Kanibal" karya Ali Syamsudin Arsi merupakan kritik tajam terhadap wajah politik yang dipenuhi kekerasan, pengkhianatan, dan ...

Politik Kanibal

sejarah angin berhembus di semua arah seperti tajam
anak panah tembus daun reranting patah udara dan
tebing karena luka yang saling memamah luluh-lantakkan
rata dengan dataran bukit gunung semua membusung
lemah di gunduk tanah

tercatat sebagai jelajah tombak jelajah parang jelajah
mandau jelajah badik jelajah rencong jelajah sumpit
jelajah pisau jelajah keris jelajah kujang jelajah panah
jelajah pedang jelajah duri

ke ujung tajam tusuk belati saling menikam; tikam
belakang tikam depan tikam segala tikam setikam luka
sebar suara tikam kawan tikam lawan tikam sembunyi
dalam setikam bara sekam

sebutkan padaku bagian mana dari tubuhmu
yang paling empuk

pengepungan tak akan pernah berhenti selayang hukum
rimba yang kuat dan jatam akan mengepal tangan tanda
mampu menangkap lepas udara dan racun cuaca

dari sengketa ragam sengketa ke tanah sengketa berupa
mata rantai makanan saling tindih selayah-layah setindih-
tindih sengketa leluhur sengketa tanah adat
sengketa tanah kubur sengketa tanah garapan sengketa
tanah jualan sengketa tanah jalan sengketa tanah saling
sikut selayah-layah saling lumat selayah-layah sengketa
berkepanjangan bahkan dibungkus dalam damai, damai
menunggu pijar api sebara-bara sebara api di sekam-sekam

otak isi kepala daging lutut betapa lezatnya telapak tangan

menarilah tajam di luka-luka
menarilah tajam di luka-luka
menarilah tajam di luka-luka

kepung dan jebak sampai lawanmu tak mampu berkata-kata
kepung dan jebak sampai kawanmu tak mampu bersuara
kepung dan jebak sampai sungai udara dan bukitmu
semua rata

mata politik beragam rupa lembut penuh elok melilit
tebaran racun di ruang purba cuaca selayah membelit
membuncah ucap serenyah-renyah mata politik
merambah-rambah melumat memamah-mamah mata
politik membelah-belah

taring politik kembali menghisap darah tak sekedar
berbentuk genangan darah taring politik menguatkan
tajam tombak sejarah dalam catatan jelajah demi jelajah

menarilah tajam di luka-luka, seluka-luka
menarilah tajam di luka-luka, seluka-luka
menarilah tajam di luka-luka, seluka-luka


Banjarbaru, Februari 2015

Sumber: Buku Setengah Tiang (Fram Publishing, 2015)

Analisis Puisi:

Puisi "Politik Kanibal" karya Ali Syamsudin Arsi merupakan puisi kritik sosial-politik yang kuat dan penuh simbol. Penyair menggambarkan dunia politik sebagai ruang yang dipenuhi perebutan kekuasaan, pengkhianatan, dan konflik yang terus berulang. Melalui pilihan diksi yang keras dan citraan yang tajam, puisi ini menghadirkan gambaran tentang politik yang kehilangan nilai-nilai kemanusiaan hingga berubah menjadi "kanibal", yakni saling memangsa demi kepentingan masing-masing.

Berbagai simbol seperti tombak, parang, belati, darah, dan hukum rimba memperlihatkan bahwa konflik bukan hanya terjadi secara fisik, tetapi juga melalui intrik, propaganda, hingga perebutan sumber daya dan kekuasaan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kritik terhadap praktik politik yang penuh kekerasan, pengkhianatan, perebutan kekuasaan, dan hilangnya nilai kemanusiaan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang konflik sosial, sengketa tanah, sejarah kekerasan, serta kerakusan manusia yang terus melahirkan pertikaian tanpa akhir.

Puisi ini bercerita tentang dunia politik yang digambarkan sebagai arena pertarungan tanpa belas kasihan. Sejarah dipenuhi jejak peperangan dan penggunaan berbagai senjata tradisional sebagai simbol konflik yang berlangsung dari masa ke masa.

Penyair memperlihatkan bagaimana manusia saling menyerang, mengkhianati, bahkan memangsa sesamanya demi memperoleh kekuasaan atau mempertahankan kepentingan. Konflik tersebut meluas menjadi sengketa tanah, perebutan warisan leluhur, hingga berbagai bentuk perselisihan yang terus diwariskan.

Pada bagian akhir, politik digambarkan memiliki "mata" dan "taring" yang mampu meracuni masyarakat. Politik tidak lagi menjadi sarana memperjuangkan kepentingan bersama, melainkan alat untuk melukai, mengepung, dan menghancurkan lawan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa praktik politik yang kehilangan moral akan melahirkan siklus kekerasan yang terus berulang. Ketika kekuasaan menjadi tujuan utama, manusia rela mengorbankan persahabatan, keadilan, bahkan kemanusiaan.

Istilah "kanibal" tidak dimaknai secara harfiah, melainkan menjadi metafora bagi perilaku manusia yang saling "memakan" sesamanya melalui fitnah, pengkhianatan, manipulasi, maupun perebutan kekuasaan.

Puisi ini juga mengingatkan bahwa berbagai konflik yang tampak sebagai persoalan politik sering kali berakar pada keserakahan, perebutan sumber daya, dan keengganan untuk menyelesaikan masalah secara adil.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Politik seharusnya dijalankan dengan etika, bukan dengan kekerasan dan pengkhianatan.
  • Keserakahan akan melahirkan konflik yang berkepanjangan.
  • Perebutan kekuasaan tanpa moral hanya akan menyengsarakan masyarakat.
  • Perselisihan yang dibiarkan terus berlangsung akan menjadi warisan buruk bagi generasi berikutnya.
  • Penyelesaian konflik memerlukan keadilan, dialog, dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Puisi "Politik Kanibal" karya Ali Syamsudin Arsi merupakan kritik tajam terhadap wajah politik yang dipenuhi kekerasan, pengkhianatan, dan perebutan kepentingan. Dengan memanfaatkan simbol-simbol senjata, darah, hukum rimba, dan kanibalisme, penyair menggambarkan bagaimana praktik politik yang kehilangan moral dapat menghancurkan kehidupan sosial serta melanggengkan konflik antarmanusia.

Puisi ini tidak hanya mengkritik praktik politik yang destruktif, tetapi juga mengajak pembaca untuk merenungkan pentingnya menjunjung keadilan, etika, dan kemanusiaan dalam setiap proses politik. Pesan yang disampaikan tetap relevan, yakni bahwa kekuasaan yang dibangun di atas kekerasan pada akhirnya hanya akan melahirkan luka-luka baru bagi masyarakat.

Ali Syamsudin Arsi
Puisi: Politik Kanibal
Karya: Ali Syamsudin Arsi

Biodata Ali Syamsudin Arsi:
  • Ali Syamsudin Arsi (ASA) lahir pada tanggal 5 Juni 1964 di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.