Puisi: Potret-Potret (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Potret-Potret" karya Gunoto Saparie mengingatkan bahwa foto-foto tidak hanya menyimpan kenangan indah, tetapi juga merekam sisi gelap ...
Potret-Potret

potret-potret di album
menyimpan peristiwa
sepotong kenangan baka
kutatapi sejak pagi sampai malam

betapa singkat perjalanan
betapa cepat usia dan waktu
kelahiran sejajar dengan kematian
keakanan tak teraba, mengabu

di bawah langit di atas bumi
kita datang dan kembali
hidup mungkin permainan
panggung sia-sia tanpa harapan

potret-potret di album
menyimpan pula riwayat kelam
kisah dukana, sisi gelap kita
ketika puisi hanya percuma...

2021

Analisis Puisi:

Puisi "Potret-Potret" karya Gunoto Saparie merupakan puisi reflektif yang mengajak pembaca merenungkan perjalanan hidup manusia melalui simbol potret-potret yang tersimpan dalam sebuah album. Foto-foto tersebut bukan sekadar gambar yang membekukan momen, melainkan rekaman perjalanan waktu yang menyimpan berbagai kisah kehidupan, baik yang membahagiakan maupun yang menyedihkan.

Dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna, penyair mengangkat persoalan waktu, usia, kehidupan, kematian, dan kenangan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup manusia, kenangan, dan kesadaran akan kefanaan waktu. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema:
  • Renungan tentang usia dan kematian.
  • Makna kehidupan.
  • Kenangan masa lalu.
  • Kerapuhan manusia.
  • Refleksi terhadap perjalanan hidup.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang memandangi potret-potret lama dalam sebuah album. Dari foto-foto tersebut, ia kembali mengingat berbagai peristiwa yang pernah terjadi dalam hidupnya.

Potret-potret itu menyimpan kenangan yang tidak lekang oleh waktu, mulai dari kebahagiaan hingga pengalaman pahit yang pernah dialami. Saat menatapnya, penyair menyadari bahwa perjalanan hidup berlangsung sangat cepat. Waktu berlalu tanpa terasa, usia terus bertambah, dan manusia bergerak dari kelahiran menuju kematian.

Pada bagian akhir, penyair mengingatkan bahwa foto-foto tidak hanya menyimpan kenangan indah, tetapi juga merekam sisi gelap kehidupan, kesedihan, kegagalan, dan pengalaman yang mungkin ingin dilupakan. Semua itu menjadi bagian dari riwayat hidup manusia.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan manusia sangat singkat jika dibandingkan dengan perjalanan waktu yang terus berjalan. Kenangan yang tersimpan dalam foto menjadi pengingat bahwa setiap momen, baik maupun buruk, akan menjadi bagian dari sejarah hidup seseorang.

Penyair juga menyiratkan bahwa manusia sering kali baru menyadari cepatnya waktu berlalu ketika menoleh ke masa lalu. Potret-potret yang diam di album justru berbicara tentang perubahan, pertambahan usia, dan kedekatan manusia dengan kematian.

Selain itu, larik:

"hidup mungkin permainan
panggung sia-sia tanpa harapan"

mengandung perenungan eksistensial mengenai makna hidup. Penyair tampaknya mempertanyakan apakah kehidupan memiliki tujuan yang jelas atau hanya sebuah perjalanan yang akhirnya berujung pada kefanaan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Hargailah setiap momen dalam kehidupan karena waktu berjalan sangat cepat.
  • Kenangan, baik maupun buruk, merupakan bagian penting dari perjalanan hidup manusia.
  • Kesadaran akan kematian seharusnya membuat manusia lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan.
  • Jangan hanya mengenang keberhasilan, tetapi juga belajar dari pengalaman pahit dan kesalahan masa lalu.
  • Kehidupan perlu dijalani dengan makna dan kesadaran karena setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.
Puisi "Potret-Potret" karya Gunoto Saparie merupakan puisi reflektif yang menggambarkan hubungan antara kenangan, waktu, kehidupan, dan kematian. Melalui simbol foto-foto dalam album, penyair mengajak pembaca merenungkan betapa singkatnya perjalanan hidup manusia. Puisi ini tidak hanya menghadirkan kenangan indah, tetapi juga mengingatkan adanya sisi gelap dan pengalaman pahit yang membentuk perjalanan seseorang. Dengan nuansa melankolis dan filosofis, puisi ini mengajarkan pentingnya menghargai waktu serta menjalani hidup dengan penuh kesadaran dan makna.

Gunoto Saparie
Puisi: Potret-Potret
Karya: Gunoto Saparie


Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri. Tinggal di Jalan Taman Karonsih 654, Ngaliyan, Semarang.
© Sepenuhnya. All rights reserved.