Prometheus
(buat seorang perempuan asing yang kuantar ke pelabuhan semata
karena selama beberapa hari bersama kami menjalin affair tak menjanjikan)
di pelabuhan yang dikepung melankoli--di antara bau
bacin dan cemas kecopetan--kulepas kau ke negrimu
di utara. kucium pipimu kiri-kanan; angin berkesiur di
telingaku. kutepuk pundakmu; angin menggerai
anak-anak rambutmu.
"aku suka negerimu. tapi aku
tak ingin tinggal. aku takut harus memeluk satu
agama, dan percaya bahwa surga ada di akhirat. aku
ingin kembali ke negeriku.
tempat surga sedang dibangun," katamu.
di sudut pelabuhan, tertambat sebuah kapal peti kemas;
tua dan kesepian. di rusuknya ada tulisan berkarat: navieras
de puerto rico. mungkin pengangkut rempah-rempah,
atau budak, apa bedanya. semua bangsa rasanya telah
menjelma penjajah di kepalaku.
juga laut di depan mataku, seperti
kemaluan seorang pelacur; menganga dilayari
kapal-kapal dan lelaki-lelaki ke negeri-negeri
jauh.
"ikutlah ke negeriku," bujukmu.
"di sana--bahkan setelah tua sekalipun, di setiap akhir
tahun--kau masih dapat jadi sinterklas, membayangkan
dirimu naik kereta salju yang ditarik kijang bertanduk
panjang dan menipu ribuan anak-anak."
tapi kapal yang meraung seperti monster kesakitan itu
telah membawamu. seperti kau, aku ternyata tak melambai. tak
ada yang hilang apalagi kosong di dadaku.
aku hanya tiba-tiba merasa ingin seperti nuh: menjadi
satu-satunya nakhoda yang berlayar di atas bumi
yang tenggelam.
Sumber: Dari Amerika ke Catatan Langit (2005)
Analisis Puisi:
Puisi “Prometheus” karya Aslan Abidin merupakan puisi reflektif yang memadukan tema perpisahan, identitas budaya, kolonialisme, dan pencarian makna kebebasan. Berangkat dari peristiwa sederhana, yakni perpisahan dengan seorang perempuan asing di pelabuhan, penyair mengembangkan renungan yang jauh lebih luas tentang perbedaan cara pandang terhadap kehidupan, agama, sejarah, dan masa depan manusia.
Judul “Prometheus” sendiri menarik perhatian karena merujuk pada tokoh dalam mitologi Yunani yang dikenal sebagai simbol pemberontakan, kebebasan berpikir, dan pembawa cahaya pengetahuan bagi manusia. Dengan demikian, puisi ini dapat dibaca sebagai perenungan tentang manusia yang terus mencari kebebasan di tengah berbagai batas budaya, sejarah, dan keyakinan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perpisahan, kebebasan individu, dan pencarian makna hidup di tengah perbedaan budaya dan pandangan dunia. Tema pendukung yang juga kuat dalam puisi ini meliputi kolonialisme, identitas bangsa, kritik sosial, serta kesepian eksistensial manusia.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengantar seorang perempuan asing ke pelabuhan untuk kembali ke negerinya di utara. Mereka pernah menjalin hubungan singkat yang tidak menjanjikan masa depan, sehingga perpisahan itu terjadi tanpa ikatan yang mendalam.
Dalam percakapan mereka, perempuan tersebut mengungkapkan kekagumannya terhadap negeri sang penyair, tetapi ia tidak ingin tinggal di sana karena merasa tidak cocok dengan sistem keyakinan yang mengharuskannya memeluk agama tertentu dan mempercayai surga di akhirat. Ia memilih kembali ke negerinya, tempat yang menurutnya sedang membangun surga di dunia.
Sambil menunggu keberangkatan kapal, penyair merenungkan sejarah kolonialisme, perdagangan, dan hubungan antarmanusia. Kapal tua di pelabuhan mengingatkannya pada masa lalu yang penuh penindasan dan eksploitasi.
Ketika perempuan itu akhirnya pergi, penyair tidak merasakan kehilangan yang mendalam. Sebaliknya, ia justru sampai pada renungan pribadi tentang keinginan menjadi seperti Nabi Nuh, sosok yang berlayar sendirian di tengah dunia yang tenggelam. Gambaran tersebut menunjukkan hasrat untuk menemukan kebebasan dan jalan hidupnya sendiri.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa setiap manusia memiliki cara sendiri dalam memandang kebahagiaan, surga, dan tujuan hidup.
Perempuan asing dalam puisi melambangkan pandangan modern yang berusaha menciptakan kebahagiaan di dunia nyata. Sementara penyair berada dalam posisi yang lebih kompleks, terombang-ambing antara sejarah, identitas budaya, dan pencarian makna eksistensial.
Puisi ini juga menyiratkan kritik terhadap sejarah kolonialisme yang telah membentuk hubungan antarbangsa. Ungkapan bahwa "semua bangsa rasanya telah menjelma penjajah" menunjukkan kesadaran bahwa dominasi dan eksploitasi bukan hanya milik satu bangsa, tetapi merupakan kecenderungan universal manusia.
Pada bagian akhir, keinginan menjadi seperti Nuh menyiratkan kerinduan akan kemurnian, kebebasan, dan kemampuan menjaga diri dari arus dunia yang dianggap semakin kehilangan arah.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
- Hormatilah perbedaan pandangan hidup dan keyakinan setiap individu.
- Kebebasan berpikir merupakan bagian penting dari kemanusiaan.
- Sejarah kolonialisme harus menjadi pelajaran agar manusia tidak mengulangi bentuk-bentuk penindasan baru.
- Kebahagiaan dan surga sering kali dipahami secara berbeda oleh setiap orang.
- Manusia perlu menemukan arah hidupnya sendiri tanpa kehilangan kesadaran terhadap sejarah dan kemanusiaan.
Puisi “Prometheus” karya Aslan Abidin merupakan puisi yang menggabungkan kisah perpisahan personal dengan refleksi sosial, sejarah, dan filosofis. Melalui latar pelabuhan dan dialog dengan seorang perempuan asing, penyair mengangkat persoalan kebebasan, identitas, agama, kolonialisme, dan pencarian makna hidup. Suasana melankolis yang menyelimuti puisi diperkaya oleh berbagai simbol dan metafora yang mengajak pembaca merenungkan posisi manusia di tengah sejarah dan peradaban. Puisi ini menunjukkan bahwa perjalanan paling penting bukanlah perjalanan geografis, melainkan perjalanan batin untuk memahami diri sendiri dan dunia yang terus berubah.
Puisi: Prometheus
Karya: Aslan Abidin
Biodata Aslan Abidin:
- Aslan Abidin lahir pada tanggal 31 Mei 1972 di Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan.