Pulau Patah Gelombang
di setiap sudut pulau; engkau merisaukan desing peluru, lantas
pada gerak gelombang kiriman hendak kesekian adakah
yang berani mengepalkan tinju tangan di udara lalu bergema
kata, "Wahai tebing tinggi kokoh dan terjal, sebelum suara
gelombang patah dalam perang ini maka lawanlah
kesombongan yang kita ciptakan sendiri atas pulau-pulau,
sebelum semuanya tenggelam, sebelum semuanya," itu
bukan sekedar gema memantul di tebing-tebing curam
gemeretak
pulau-pulau perlahan bergerak meninggalkan ngarai dan
akar –akar yang sedang bergantung semakin melilit ke celah
paling dalam, dalam getar pulau patah gelombang
layar-layar sobek
semakin menyeruak
Banjarbaru, Desember 2014
Sumber: Buku Setengah Tiang (Fram Publishing, 2015)
Analisis Puisi:
Puisi "Pulau Patah Gelombang" karya Ali Syamsudin Arsi merupakan puisi yang sarat simbolisme dan kritik terhadap konflik, kesombongan, serta ancaman kehancuran yang disebabkan oleh ulah manusia sendiri. Dengan menghadirkan citraan alam berupa pulau, gelombang, tebing, akar, dan layar, penyair menyusun sebuah alegori tentang masyarakat yang berada di ambang perpecahan.
Pulau dalam puisi ini bukan hanya dimaknai sebagai daratan yang dikelilingi laut, melainkan simbol kehidupan, tanah air, atau komunitas manusia. Sementara gelombang, peluru, dan layar yang sobek menjadi lambang berbagai ancaman yang terus menghantam keberlangsungan kehidupan bersama.
Tema
Tema utama puisi ini adalah konflik, perpecahan, dan peringatan terhadap dampak kesombongan manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang perjuangan mempertahankan kehidupan, kritik terhadap kekerasan, serta pentingnya persatuan sebelum semuanya terlambat.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa perpecahan dan peperangan akan membawa kerugian bagi semua pihak. Kesombongan, ego, dan keinginan untuk saling menguasai menjadi penyebab utama lahirnya konflik yang akhirnya menghancurkan kehidupan bersama.
Ajakan untuk "melawan kesombongan yang kita ciptakan sendiri" menunjukkan bahwa musuh terbesar manusia sering kali berasal dari dalam dirinya sendiri, bukan semata-mata dari pihak lain.
Pulau yang bergerak dan layar yang sobek menjadi simbol rapuhnya persatuan apabila masyarakat tidak lagi mampu menjaga kebersamaan, keadilan, dan rasa saling menghormati.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Amanat atau pesan yang disampaikan dalam puisi ini antara lain:
- Hindarilah kesombongan karena dapat menjadi awal dari kehancuran.
- Konflik dan kekerasan hanya akan membawa penderitaan bagi semua pihak.
- Persatuan dan kebersamaan harus dijaga sebelum perpecahan semakin meluas.
- Beranilah mengoreksi kesalahan yang berasal dari diri sendiri maupun kelompok sendiri.
- Kehidupan akan tetap kokoh apabila dibangun di atas kebijaksanaan, bukan kekuasaan dan permusuhan.
Puisi "Pulau Patah Gelombang" karya Ali Syamsudin Arsi merupakan puisi yang mengangkat tema konflik, perpecahan, dan pentingnya melawan kesombongan sebelum membawa kehancuran. Melalui simbol pulau, gelombang, tebing, akar, dan layar, penyair menyampaikan kritik terhadap kekerasan serta mengingatkan bahwa ancaman terbesar sering kali berasal dari kesalahan manusia sendiri.
Puisi ini mengajak pembaca untuk menjaga persatuan, mengendalikan ego, dan menyelesaikan konflik dengan kebijaksanaan agar kehidupan bersama tidak "patah" oleh gelombang yang diciptakan oleh manusia sendiri.
Karya: Ali Syamsudin Arsi
Biodata Ali Syamsudin Arsi:
- Ali Syamsudin Arsi (ASA) lahir pada tanggal 5 Juni 1964 di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan.