Puisi: Rajah di Antara Kedua Buah Dada (Karya Aslan Abidin)

Puisi "Rajah di Antara Kedua Buah Dada" karya Aslan Abidin mengkritik stigma politik dan ketidakadilan yang diwariskan kepada korban serta ...

Rajah di Antara Kedua Buah Dada

--kepada Yth. Bapak Haji Muhammad Soeharto

bila esok lusa, tuan bertemu seorang pelacur dengan rajah:
"bahaya laten di antara kedua buah dadanya.
mohon sampaikan salam saya. kami satu kelas di sma
dulu. ia berhenti sekolah ketika dua kali tak naik kelas dua.
guru pendidikan moral pancasila kami tak pernah memberinya
nilai di atas lima, guru agama kami tak suka padanya.

ayahnya dituduh terlibat G/30/S/PKI oleh kepala
kampung kami, ayahnya tak diperbolehkan jadi anggota
kelompok tani rt kami. oleh pak lurah, ayahnya

dilarang masuk anggota koperasi kelurahan kami. juga
waktu listrik masuk desa kami, ayahnya maklum ketika
petugas listrik tak memasang tiang jati di depan rumahnya.

konon ayahnya panen gagal dan minyak tanah mahal.
ada orang yang menawari ayahnya 3 liter beras dan sebuah cangkul.
ayahnya hanya perlu membubuhkan cap jempol.

namun ketika ada huru-hara,
banyak orang hilang, ditangkap, dan dibunuh. ayahnya
dituduh terlibat. buktinya: secarik kertas bertulis nama
ayahnya dengan sebuah cap jempol. ayahnya
memang tak pernah diadili, tapi pak lurah, kepala
kampung, dan guru kami tak jarang menghukumnya,
termasuk seluruh keturunannya.

bila esok luas, tuan bertemu seorang pelacur dengan rajah:
"bahaya laten" di antara kedua buah dadanya.
tolong sampaikan salam saya: dari seorang yang pernah
diam-diam menyukai bola matanya yang berbinar jernih, rambutnya
yang sebahu melambai, dan tubuhnya yang padat semampai. janganlah
benci padanya. tidakkah rajahnya begitu biru, wajahnya
begitu putih, dan hidupnya begitu hitam?

ia selalu tersenyum, dan ramah kepada semua orang.
malah kini, di atas tubuhnya, ia menerima semua orang.
bahkan yang terlibat G/30/S/PKI sekalipun.

Sumber: Dari Amerika ke Catatan Langit (2005)

Analisis Puisi:

Puisi "Rajah di Antara Kedua Buah Dada" karya Aslan Abidin merupakan puisi sosial-politik yang mengangkat tema diskriminasi, stigma sosial, dan dampak tragedi politik terhadap kehidupan individu serta keluarganya. Melalui kisah seorang perempuan yang akhirnya menjadi pelacur karena tekanan sosial dan sejarah keluarganya, penyair menyoroti bagaimana tuduhan terkait peristiwa Gerakan 30 September dapat menghancurkan kehidupan seseorang hingga lintas generasi.

Puisi ini tidak hanya berbicara tentang seorang perempuan, tetapi juga tentang korban-korban yang hidup dalam bayang-bayang sejarah, prasangka, dan ketidakadilan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ketidakadilan sosial dan dampak stigma politik terhadap kehidupan manusia. Tema-tema pendukung yang muncul dalam puisi ini meliputi:
  • Diskriminasi sosial.
  • Trauma sejarah.
  • Kemanusiaan.
  • Kemiskinan.
  • Marginalisasi.
  • Kritik terhadap kekuasaan dan masyarakat.
  • Empati terhadap korban.
Puisi ini bercerita tentang seorang perempuan yang pada masa sekolah dikenal sebagai teman penyair. Ia memiliki masa depan yang sebenarnya tidak berbeda dari anak-anak lainnya, tetapi hidupnya berubah akibat status keluarganya.

Ayah perempuan tersebut dituduh terlibat G30S/PKI tanpa proses hukum yang jelas. Akibat tuduhan itu, sang ayah mengalami berbagai bentuk pengucilan sosial. Ia tidak boleh bergabung dengan kelompok tani, koperasi, dan bahkan diperlakukan berbeda dalam kehidupan masyarakat desa.

Kemiskinan yang menimpa keluarga itu semakin memperburuk keadaan. Tuduhan politik yang tidak pernah dibuktikan kemudian menjadi hukuman sosial yang diwariskan kepada seluruh keturunannya.

Dalam perjalanan hidupnya, perempuan tersebut putus sekolah dan akhirnya menjadi pelacur. Namun penyair tidak menggambarkannya sebagai sosok yang hina. Sebaliknya, ia digambarkan sebagai manusia yang ramah, tersenyum kepada semua orang, dan sesungguhnya merupakan korban dari sejarah yang kejam.

Penyair bahkan mengakui bahwa dahulu ia diam-diam mengagumi perempuan itu. Melalui pengakuan tersebut, penyair mengajak pembaca melihat sisi kemanusiaan yang sering terlupakan di balik label dan stigma sosial.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa prasangka dan stigma sosial dapat menghancurkan kehidupan seseorang lebih kejam daripada hukuman formal.

Penyair menunjukkan bahwa tuduhan tanpa keadilan tidak hanya menghukum individu yang dituduh, tetapi juga anak-anak dan keturunannya.

Rajah bertuliskan "bahaya laten" yang ada pada tubuh perempuan itu bukan sekadar tato atau tulisan, melainkan simbol cap sosial yang terus melekat. Masyarakat telah menempelkan identitas tertentu pada dirinya hingga ia sulit keluar dari lingkaran diskriminasi.

Puisi ini juga menyiratkan kritik terhadap masyarakat yang sering kali lebih mudah menghakimi daripada memahami. Ironisnya, perempuan yang dianggap hina justru digambarkan lebih manusiawi karena ia menerima semua orang tanpa membedakan latar belakang mereka.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Jangan menghakimi seseorang berdasarkan latar belakang keluarganya.
  • Setiap manusia berhak diperlakukan secara adil dan bermartabat.
  • Stigma sosial dapat menghancurkan masa depan seseorang.
  • Sejarah harus dipahami secara kritis, bukan dijadikan alasan untuk mewariskan kebencian.
  • Kemanusiaan harus ditempatkan di atas prasangka dan diskriminasi.
  • Korban ketidakadilan membutuhkan empati, bukan penghakiman.
Puisi ini mengajak pembaca untuk melihat manusia sebagai manusia, bukan sebagai label atau cap sosial yang dilekatkan kepadanya.

Puisi "Rajah di Antara Kedua Buah Dada" karya Aslan Abidin merupakan puisi sosial yang mengkritik stigma politik dan ketidakadilan yang diwariskan kepada korban serta keturunannya. Melalui kisah seorang perempuan yang hidup di bawah cap "bahaya laten", penyair menunjukkan bagaimana prasangka dapat menghancurkan masa depan seseorang. Dengan suasana tragis dan penuh empati, puisi ini mengajak pembaca untuk lebih mengedepankan kemanusiaan daripada penghakiman, serta menyadari bahwa setiap manusia memiliki kisah dan luka yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Yudhistira A.N.M. Massardi dan Aslan Abidin
Puisi: Rajah di Antara Kedua Buah Dada
Karya: Aslan Abidin

Biodata Aslan Abidin:
  • Aslan Abidin lahir pada tanggal 31 Mei 1972 di Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.