Puisi: Ritus Baka (Karya Mega Septiani)

Puisi "Ritus Baka" karya Mega Septiani menggambarkan pengalaman cinta yang berubah menjadi penderitaan mendalam. Cinta yang semula dipuja dan ...

Ritus Baka

Kurapal mantra di lipatan malam
Tiga kali syahdu, tujuh kali pengulangan
Melingkar benang di ujung jari
Bakar dupa, di tiap pengasingan

Ikatlah jiwanya, wahai purnama
Luruhkan rasanya, wahai detak hati
Jebak mimpi tidurnya, wahai malam
Kubur wajah asing, wahai penguasa pikiran 

Tapi, mengapa asapi dupa berganti perih?
Mengapa rima mantra kian sembunyi?

Kun!
Arah angin tak berbalik arah.
Kun!
Hatimu tetap dingin, tak searah.

Tipu muslihatmu kian hebat 
Menjerit gila, membalik tangan hampa
Melirik sengit, senyum culas yang pahit 

Kau bertopeng suci, berparas bengis 
Datang menawar pedang, menebas girang
Sihirmu menyayat seiring belati
Menusuk kewarasan batin di ambang mati

Mantraku telah abu, garis wajahku berpeluh
Menyembah kalah, pada nanah yang melepuh

Cinta yang kupuja
Tak lain, adalah kutukan baka

Kusebut dalam tiga ketukan dupa:
Muja sang penyiksa seisi jagat,
Hidu sang pengendus sisa sekarat,
Dini sang penjemput fajar berpenyakit.

Ponorogo, 29 Mei 2026

Analisis Puisi:

Puisi "Ritus Baka" karya Mega Septiani merupakan puisi liris yang sarat dengan simbolisme, unsur magis, dan pergulatan batin. Melalui diksi yang kuat seperti mantra, dupa, purnama, sihir, belati, dan kutukan baka, penyair menggambarkan pengalaman cinta yang berubah menjadi penderitaan mendalam. Cinta yang semula dipuja dan diperjuangkan justru menjelma menjadi sumber luka yang sulit dilepaskan.

Puisi ini menghadirkan suasana mistis sekaligus tragis. Ritual-ritual yang dilakukan oleh penyair tampaknya merupakan usaha untuk mengikat, memanggil, atau mempertahankan seseorang yang dicintai. Namun segala upaya tersebut berakhir dengan kegagalan, sehingga cinta tidak lagi dipandang sebagai anugerah, melainkan sebagai kutukan yang abadi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta yang berakhir menjadi penderitaan dan obsesi yang menghancurkan diri. Tema pendukung dalam puisi ini meliputi:
  • Kekecewaan dalam hubungan cinta.
  • Kegagalan mempertahankan perasaan.
  • Pergulatan batin dan kehilangan.
  • Obsesi terhadap seseorang.
  • Luka emosional yang mendalam.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berusaha mempertahankan atau merebut kembali cinta melalui berbagai ritual simbolis. Penyair mengucapkan mantra, membakar dupa, dan memohon kepada berbagai unsur alam seperti purnama, malam, dan penguasa pikiran agar dapat mengikat hati orang yang dicintainya.

Namun, segala usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Orang yang dicintai tetap dingin dan tidak memiliki perasaan yang sama. Penyair kemudian menyadari bahwa dirinya telah terjebak dalam hubungan yang penuh manipulasi dan penderitaan.

Pada bagian akhir, ia mengakui kekalahannya. Mantra-mantra yang diucapkan berubah menjadi abu, sementara cinta yang selama ini dipuja ternyata hanyalah "kutukan baka" atau kutukan yang abadi. Kesadaran ini menjadi puncak tragedi dalam puisi.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa cinta tidak dapat dipaksakan, dikendalikan, ataupun dimiliki melalui cara apa pun. Ketika seseorang terlalu terobsesi pada cinta, ia berisiko kehilangan kewarasan, harga diri, bahkan kebahagiaan dirinya sendiri.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa penderitaan terbesar sering kali bukan berasal dari kehilangan seseorang, melainkan dari ketidakmampuan melepaskan perasaan yang sudah tidak sehat.

Selain itu, ritual dan mantra dalam puisi dapat ditafsirkan sebagai simbol usaha manusia untuk mengendalikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kuasanya, yaitu hati dan perasaan orang lain.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Cinta tidak dapat dipaksakan kepada siapa pun.
  • Jangan sampai perasaan berubah menjadi obsesi yang merugikan diri sendiri.
  • Belajarlah menerima kenyataan ketika cinta tidak berbalas.
  • Hindari hubungan yang dipenuhi manipulasi dan kepalsuan.
  • Kesehatan batin dan harga diri harus tetap dijaga meskipun sedang terluka karena cinta.
Puisi "Ritus Baka" karya Mega Septiani merupakan puisi yang menggambarkan sisi gelap cinta melalui simbol-simbol ritual dan unsur mistis. Penyair menghadirkan kisah tentang seseorang yang berusaha mempertahankan cinta dengan segala cara, tetapi akhirnya harus menerima kenyataan pahit bahwa cinta tidak dapat dipaksa. Melalui suasana yang misterius, gelisah, dan tragis, puisi ini menyampaikan pesan bahwa obsesi terhadap cinta dapat berubah menjadi penderitaan yang menghancurkan diri sendiri.

Mega Septiani
Puisi: Ritus Baka
Karya: Mega Septiani

Biodata Mega Septiani:
  • Mega Septiani lahir pada tanggal 28 September 2001 di Ponorogo. Meraih gelar Sarjana Pendidikan jurusan Pendidikan Agama Islam dari UIN Ki Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Ia sudah menulis sejak duduk di bangku MTs Al-Islam Joresan, dan pernah menjadi salah satu Tim Redaksi Majalah Pondok. Aktif mengikuti lomba cipta puisi (online). Beberapa puisi yang pernah diterbitkan termuat dalam buku berjudul: Hujan-hujanan (Pramedia: 2020), Misteri Jodoh (Zizanta Media: 2020), Mentari Senja (Mentari Media: 2020), Rindu (Pramedia: 2020), Menanti Harapan di Musim Penantian (Jendela Sastra Indonesia/ JSI: 2021), Berdamai dengan Waktu (Yumna Pustaka: 2026).
  • Saat ini ia sedang mengikuti Kelas Puisi Jadi Cuan, Sekolah Kepenulisan Kosana Publisher @kosanapublisher bersama @intanhafidahnh sebagai mentor kelas.
  • Penulis bisa disapa di Instagram @sheptiaann.
© Sepenuhnya. All rights reserved.