Analisis Puisi:
Puisi “Sandekala” karya Abdul Wachid B. S. merupakan puisi reflektif yang menggambarkan kegelisahan terhadap kondisi kehidupan manusia modern yang semakin kehilangan nilai-nilai kemanusiaan. Melalui pengulangan frasa "tidak ada" dan simbol-simbol sosial maupun religius, penyair menyoroti dunia yang tampak ramai dan religius di permukaan, tetapi sesungguhnya mengalami kekeringan cinta, ketulusan, dan kejujuran.
Kata sandekala sendiri merujuk pada waktu senja atau peralihan antara siang dan malam. Dalam konteks puisi, sandekala dapat dimaknai sebagai simbol masa transisi, kemerosotan nilai, atau kondisi batin manusia yang berada di antara terang dan gelap.
Tema
Tema utama puisi ini adalah krisis cinta dan kemerosotan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan modern. Tema pendukung yang muncul antara lain:
- Kehampaan spiritual.
- Kritik sosial.
- Materialisme.
- Kerinduan akan cinta sejati.
- Pencarian makna hidup.
Puisi ini bercerita tentang kondisi masyarakat yang kehilangan banyak nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari.
Pada bagian awal, penyair menggambarkan dunia yang seolah telah kehilangan berbagai unsur kemanusiaan:
"tidak ada cinta tidak ada kata tidak ada sayang"
Bahkan kepolosan, ketulusan, dan tawa anak-anak pun seakan menghilang.
Selanjutnya, penyair menampilkan potret masyarakat yang terus "berdzikir" dalam berbagai bentuk. Namun zikir yang dimaksud tidak seluruhnya bernilai spiritual. Di pasar, orang-orang berdzikir tentang uang:
"fulus fulus fulus"
Di jalanan, mereka berdzikir tentang keinginan dan kebutuhan:
"haus haus haus"
Sementara di masjid, zikir religius tetap berlangsung:
"ya qudus ya qudus ya qudus"
Kontras ini menunjukkan adanya pertentangan antara nilai spiritual dan kenyataan hidup yang dikuasai kepentingan material.
Pada bagian akhir, penyair mempertanyakan ke mana cinta dan kelelahan batin harus berlabuh. Jawaban yang muncul adalah sosok "kekasih" yang menjadi tempat terakhir bagi harapan dan ketenangan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa manusia modern berisiko kehilangan makna hidup ketika terlalu mengejar materi dan kepentingan duniawi hingga melupakan cinta, ketulusan, dan nilai spiritual yang sejati.
Penyair mengkritik kondisi masyarakat yang sibuk dengan uang, ambisi, dan kebutuhan tanpa memperhatikan kedalaman hubungan antarmanusia.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa simbol-simbol cinta, seperti bunga dan madu, telah kehilangan makna karena realitas kehidupan yang keras. Cinta menjadi lelah, sementara ketulusan semakin sulit ditemukan.
Pada bagian penutup, "kekasih" dapat dimaknai sebagai pasangan hidup, cinta sejati, atau bahkan Tuhan sebagai tempat manusia kembali ketika dunia tidak lagi memberikan ketenangan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Jangan biarkan kehidupan material menghilangkan nilai cinta dan ketulusan.
- Kekayaan dan ambisi bukan satu-satunya tujuan hidup manusia.
- Nilai spiritual harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, bukan hanya dalam ritual.
- Cinta dan kemanusiaan perlu dijaga agar kehidupan tetap bermakna.
- Manusia memerlukan tempat untuk kembali ketika menghadapi kelelahan hidup.
- Kejujuran dan ketulusan merupakan fondasi penting dalam hubungan antarmanusia.
Puisi “Sandekala” karya Abdul Wachid B. S. merupakan puisi reflektif yang mengkritik kehidupan modern yang semakin jauh dari nilai-nilai cinta, ketulusan, dan kemanusiaan. Melalui simbol-simbol seperti fulus, bunga, madu, dan kekasih, penyair menunjukkan bagaimana manusia sering terjebak dalam materialisme dan kehilangan makna hidup yang sesungguhnya. Dengan suasana muram, kritis, dan kontemplatif, puisi ini mengajak pembaca untuk kembali menempatkan cinta, kejujuran, dan nilai spiritual sebagai fondasi utama dalam menjalani kehidupan.
Karya: Abdul Wachid B. S.