Sebelum Sungai Meradang
alam hanya di antaranya
atas kuasa segala kuasa
penanda
simak dan baca
atas tanda segala tanda
tulis dan bicara
atas rimba raya belantara
sungai yang meradang adalah gemuruh pijar semua tanda
sungai yang meradang adalah arus deras di gelegar
merah mata
sungai yang meradang adalah kepal tangan racun cuaca
"Selayaknya lorong-lorong melepaskan bendung
di buncah-buncah,"
ucap arus dengan sorot mata berpijar
"Selayaknya lepaskan pasak di tebing-tebing patah,"
ucap kepal di atas semua kepala
Banjarbaru, Februari 2015
Sumber: Buku Setengah Tiang (Fram Publishing, 2015)
Analisis Puisi:
Puisi “Sebelum Sungai Meradang” karya Ali Syamsudin Arsi merupakan puisi yang memadukan refleksi ekologis, spiritual, dan sosial. Melalui simbol sungai, rimba, arus, dan tebing, penyair mengingatkan bahwa alam selalu memberikan tanda-tanda sebelum terjadinya bencana atau perubahan besar. Namun, manusia sering kali mengabaikan tanda-tanda tersebut hingga akhirnya harus menghadapi akibatnya.
Puisi ini tidak hanya berbicara tentang fenomena alam, tetapi juga dapat dimaknai sebagai kritik terhadap perilaku manusia yang merusak lingkungan dan mengabaikan keseimbangan alam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah hubungan manusia dengan alam serta peringatan akan akibat dari mengabaikan tanda-tanda kerusakan lingkungan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kebijaksanaan, tanggung jawab manusia terhadap alam, serta kekuatan alam yang tidak dapat dilawan ketika keseimbangannya terganggu.
Puisi ini bercerita tentang alam yang sesungguhnya telah memberikan berbagai pertanda sebelum terjadi amukan sungai. Penyair menggambarkan bahwa alam adalah kumpulan tanda yang harus disimak, dibaca, dan dipahami. Ketika manusia mengabaikan tanda-tanda tersebut, sungai akhirnya "meradang", meluapkan kekuatan yang selama ini tertahan.
Sungai yang meradang digambarkan sebagai arus deras, gemuruh, dan luapan energi yang mampu menghancurkan apa pun di sekitarnya. Pada bagian akhir puisi, arus sungai seolah berbicara, menyerukan agar bendungan dilepaskan dan pasak-pasak di tebing yang rapuh dicabut, sebagai simbol bahwa alam akan mencari keseimbangannya sendiri.
Makna Tersirat
Puisi ini memiliki makna tersirat yang kaya dan dapat ditafsirkan dari berbagai sudut pandang. Beberapa maknanya antara lain:
- Alam selalu memberikan peringatan sebelum terjadi bencana.
- Kerusakan lingkungan merupakan akibat dari tindakan manusia yang mengabaikan keseimbangan alam.
- Segala sesuatu di alam berada dalam kuasa Tuhan sehingga manusia perlu bersikap rendah hati terhadap alam.
- Kemarahan alam merupakan respons terhadap eksploitasi yang berlebihan.
- "Sungai yang meradang" juga dapat dimaknai sebagai simbol kemarahan masyarakat atau akumulasi persoalan yang lama dipendam hingga akhirnya meledak.
Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih peka membaca "tanda-tanda" yang hadir dalam kehidupan, baik yang berasal dari alam maupun dari realitas sosial.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang ingin disampaikan penyair antara lain:
- Jagalah kelestarian alam sebelum bencana terjadi.
- Belajarlah membaca tanda-tanda yang diberikan oleh alam.
- Jangan mengeksploitasi lingkungan tanpa memikirkan dampaknya.
- Manusia harus menyadari bahwa alam memiliki hukum keseimbangan yang tidak dapat diabaikan.
- Segala bentuk kerusakan akan membawa konsekuensi yang harus ditanggung bersama.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa mencegah kerusakan jauh lebih bijaksana daripada menyesali bencana yang telah terjadi.
Puisi “Sebelum Sungai Meradang” karya Ali Syamsudin Arsi merupakan puisi yang memadukan kritik lingkungan, refleksi spiritual, dan pesan kemanusiaan. Melalui simbol sungai yang meradang, penyair menggambarkan bahwa alam selalu memberikan tanda sebelum menunjukkan kekuatannya.
Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih peka terhadap tanda-tanda di sekitar, menjaga keseimbangan lingkungan, serta menyadari bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari ekosistem yang harus hidup selaras dengannya. Pesan tersebut menjadikan puisi ini tetap relevan di tengah berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat saat ini.
Karya: Ali Syamsudin Arsi
Biodata Ali Syamsudin Arsi:
- Ali Syamsudin Arsi (ASA) lahir pada tanggal 5 Juni 1964 di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan.