Puisi: Sebuah Ziarah (Karya Motinggo Boesje)

Puisi “Sebuah Ziarah” karya Motinggo Boesje mengangkat persoalan tentang pembangunan yang sering kali mengabaikan nilai sejarah, kenangan, dan ...
Sebuah Ziarah

Melati itu jatuh
di sandal jepit
seorang kuli pasar
yang pernah bernazar
berziarah kubur
ke makam istrinya

Yang ia temui bukan makam
bukan pula nisan
dan kubur-kubur
telah digusur

Di sana kini berdiri megah
Sebuah pasar swalayan
di atas nisan-nisan

Dan melati itu jatuh
di atas sandal lusuh

Sumber: Aura Para Aulia (1990)

Analisis Puisi:

Puisi “Sebuah Ziarah” karya Motinggo Boesje menghadirkan kritik sosial yang kuat melalui kisah sederhana tentang seorang kuli pasar yang hendak berziarah ke makam istrinya. Dengan bahasa yang ringkas namun penuh makna, penyair menggambarkan benturan antara nilai kemanusiaan, kenangan, dan perkembangan zaman yang terkadang mengabaikan sejarah maupun perasaan manusia.

Puisi ini tidak hanya berkisah tentang kehilangan makam secara fisik, tetapi juga tentang hilangnya ruang untuk mengenang, menghormati, dan menjaga hubungan batin dengan masa lalu. Melalui simbol-simbol yang sederhana, penyair menyampaikan pesan yang mendalam mengenai perubahan sosial yang sering kali mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehilangan dan kritik terhadap pembangunan yang mengabaikan nilai kemanusiaan serta penghormatan terhadap masa lalu. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kesetiaan, kenangan, perubahan sosial, dan kesedihan akibat hilangnya jejak sejarah.

Puisi ini bercerita tentang seorang kuli pasar yang pernah bernazar untuk berziarah ke makam istrinya. Ketika ia datang untuk memenuhi nazarnya, ia tidak menemukan makam maupun nisan yang menjadi tujuan ziarahnya.

Kuburan yang dahulu ada ternyata telah digusur dan digantikan oleh sebuah pasar swalayan yang berdiri megah. Di tengah kenyataan tersebut, bunga melati yang dibawanya jatuh di atas sandal lusuh yang dikenakannya.

Peristiwa sederhana itu menggambarkan kekecewaan dan kesedihan mendalam karena tempat yang menyimpan kenangan dan penghormatan kepada orang tercinta telah hilang akibat pembangunan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kemajuan dan pembangunan tidak seharusnya menghapus nilai-nilai kemanusiaan, sejarah, maupun kenangan yang melekat pada suatu tempat.

Kuburan dalam puisi bukan sekadar tempat pemakaman, melainkan simbol penghormatan terhadap orang yang telah meninggal dan ruang bagi mereka yang masih hidup untuk mengenang. Ketika makam itu digusur dan digantikan bangunan komersial, muncul kesan bahwa kepentingan ekonomi lebih diutamakan daripada nilai kemanusiaan.

Puisi ini juga menyiratkan kritik terhadap perubahan zaman yang sering kali melupakan akar sejarah dan perasaan masyarakat kecil.

Amanat atau Pesan yang Disampaikan

Amanat yang terkandung dalam puisi ini antara lain:
  • Pembangunan hendaknya tetap memperhatikan nilai kemanusiaan dan sejarah.
  • Jangan melupakan jasa serta kenangan terhadap orang-orang yang telah meninggal.
  • Kemajuan ekonomi tidak boleh menghilangkan penghormatan terhadap masa lalu.
  • Hargailah tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah dan emosional bagi masyarakat.
  • Kesetiaan dan cinta kepada orang yang telah tiada tetap memiliki makna yang mendalam.
Puisi “Sebuah Ziarah” karya Motinggo Boesje merupakan puisi yang menggabungkan kisah personal dengan kritik sosial yang tajam. Melalui pengalaman seorang kuli pasar yang kehilangan makam istrinya akibat penggusuran, penyair mengangkat persoalan tentang pembangunan yang sering kali mengabaikan nilai sejarah, kenangan, dan kemanusiaan. Dengan simbol-simbol sederhana seperti melati, sandal lusuh, dan nisan yang hilang, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan dan penghormatan terhadap masa lalu.

Motinggo Boesje
Puisi: Sebuah Ziarah
Karya: Motinggo Boesje

Biodata Motinggo Boesje:
  • Motinggo Boesje (Motinggo Busye) lahir di Kupang Kota, pada tanggal 21 November 1937.
  • Motinggo Boesje meninggal dunia di Jakarta, pada tanggal 18 Juni 1999 (pada usia 61 tahun).
  • Nama lahir Motinggo Boesje adalah Bustami Djalid.
© Sepenuhnya. All rights reserved.