Puisi: Sejarah (Karya Lazuardi Anwar)

Puisi “Sejarah” karya Lazuardi Anwar menggambarkan sebuah peristiwa yang menyebabkan kerusakan, kehilangan, atau penghapusan jejak masa lalu.
Sejarah

Telah kau simbah halaman ini
daun-daun terkulai menanti desau
lenguh angin yang mengelopak
tanpa arah.

Telah kau simbah halaman ini
di malam bergetar
di titik didih
yang melempasing.

Telah kau simbah halaman ini
telah kau kuik
catatan yang tercabik
tidak akan menabik

Telah kau simbah halaman ini
halaman sejarah yang terburai
di lantai
tidak ada mengetuk pintu

1978

Sumber: Pelabuhan (1980)

Analisis Puisi:

Puisi “Sejarah” karya Lazuardi Anwar merupakan puisi yang sarat dengan simbol dan nuansa reflektif. Melalui larik-larik yang padat dan penuh metafora, penyair menggambarkan sebuah peristiwa yang menyebabkan kerusakan, kehilangan, atau penghapusan jejak masa lalu. Kata "sejarah" dalam puisi ini tidak hanya merujuk pada catatan masa lampau, tetapi juga dapat dimaknai sebagai ingatan, pengalaman, dan identitas yang perlahan tercerai-berai.

Puisi ini menghadirkan suasana muram dan kontemplatif yang mengajak pembaca merenungkan bagaimana sejarah dapat terlupakan, dihapus, atau dibiarkan terurai tanpa ada yang berusaha menjaganya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehancuran, penghapusan, dan keterabaian sejarah atau jejak masa lalu.

Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema:
  • Hilangnya memori kolektif.
  • Kerusakan akibat suatu peristiwa.
  • Kesunyian setelah kehancuran.
  • Refleksi terhadap masa lalu.
  • Ketidakpedulian terhadap sejarah.
Puisi ini bercerita tentang seseorang atau suatu kekuatan yang telah "menyimbah" sebuah halaman. Kata "halaman" dalam puisi dapat dimaknai sebagai ruang kehidupan, catatan sejarah, atau lembaran masa lalu.

Akibat tindakan tersebut, berbagai hal menjadi rusak dan tercerai-berai. Daun-daun terkulai, catatan tercabik, dan halaman sejarah berserakan di lantai. Gambaran ini menunjukkan bahwa sesuatu yang pernah tersusun rapi kini mengalami kehancuran.

Pada bagian akhir, penyair menggambarkan situasi yang sangat sunyi:

"tidak ada mengetuk pintu"

Larik tersebut menunjukkan bahwa setelah kehancuran terjadi, tidak ada lagi yang datang untuk memperhatikan, memperbaiki, atau mengingat apa yang telah hilang.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa sejarah dapat rusak atau hilang apabila tidak dijaga dan dihargai oleh generasi yang mewarisinya.

Kata "menyimbah" dapat dimaknai sebagai tindakan yang mengubah, merusak, atau bahkan menghapus sesuatu. Sementara "halaman sejarah yang terburai" melambangkan catatan masa lalu yang tercerai-berai dan kehilangan maknanya.

Puisi ini juga dapat ditafsirkan sebagai kritik terhadap sikap manusia yang sering melupakan pengalaman masa lalu, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial. Ketika sejarah diabaikan, manusia kehilangan pelajaran penting yang seharusnya dapat menjadi pedoman untuk masa depan.

Suasana dalam Puisi

Beberapa suasana yang terasa dalam puisi ini adalah:
  • Muram: Gambaran daun terkulai, catatan tercabik, dan sejarah yang terburai menciptakan suasana suram dan penuh kehilangan.
  • Sunyi: Larik terakhir memberikan kesan kesunyian yang sangat kuat.
  • Melankolis: Puisi ini menghadirkan perasaan sedih karena adanya sesuatu yang berharga tetapi telah rusak atau hilang.
  • Kontemplatif: Pembaca diajak merenungkan makna sejarah, ingatan, dan pentingnya menjaga warisan masa lalu.
  • Misterius: Penggunaan simbol-simbol yang tidak dijelaskan secara langsung membuat puisi ini memiliki ruang tafsir yang luas.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan beberapa pesan penting, antara lain:
  • Sejarah merupakan bagian penting yang harus dijaga dan dihargai.
  • Kehancuran masa lalu dapat menjadi pelajaran bagi kehidupan di masa depan.
  • Jangan membiarkan pengalaman dan nilai-nilai berharga hilang begitu saja.
  • Ketidakpedulian terhadap sejarah dapat menyebabkan hilangnya identitas dan pelajaran hidup.
  • Manusia perlu belajar dari masa lalu agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Puisi “Sejarah” karya Lazuardi Anwar merupakan puisi reflektif yang menggambarkan kehancuran dan keterabaian sejarah melalui simbol-simbol yang kuat. Gambaran daun yang terkulai, catatan yang tercabik, dan halaman sejarah yang terburai menunjukkan bagaimana masa lalu dapat rusak atau terlupakan apabila tidak dijaga. Melalui suasana muram dan kontemplatif, penyair mengajak pembaca untuk menyadari pentingnya sejarah sebagai sumber pelajaran, identitas, dan pemahaman tentang perjalanan kehidupan manusia. Puisi ini menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan bagian penting yang membentuk masa kini dan masa depan.

Lazuardi Anwar
Puisi: Sejarah
Karya: Lazuardi Anwar

Biodata Lazuardi Anwar:
  • Lazuardi Anwar lahir pada tanggal 12 april 1941 di Pariaman, Sumatera Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.