Seperti Boneka
di sini kami seperti boneka, adikku
dibuang pemiliknya dalam apungan sampah
meriuhkan kemacetan sungai
kami mimpi pesta saat laut surut
ikanikan terkapar menyimpan pesan
tetarian tawa menyepuh lapar
sebelum akhirnya gelombang
memuntahkan jejeritan
di sini kami boneka sakit, adikku
tersampir di kaki masjid
Tangerang, 2004
Sumber: Harian Republika (30 Januari 2005)
Analisis Puisi:
Puisi: “Seperti Boneka” karya Wowok Hesti Prabowo menghadirkan gambaran sosial dan ekologis yang keras melalui simbol boneka yang dibuang, terapung di sungai, dan tersingkir di ruang-ruang yang tidak lagi ramah bagi manusia. Bahasa yang digunakan sederhana, tetapi sarat kritik dan kepedihan.
Tema
Tema puisi ini adalah dehumanisasi, penderitaan manusia kecil, dan dampak kerusakan lingkungan serta sosial. Manusia digambarkan seperti boneka yang kehilangan kendali atas hidupnya, terombang-ambing oleh keadaan.
Puisi ini bercerita tentang sekelompok “kami” yang hidup dalam kondisi terpinggirkan, seperti boneka yang dibuang ke dalam “apungan sampah” dan terseret “kemacetan sungai”. Gambaran ini menunjukkan kehidupan yang penuh keterasingan, kemiskinan, dan ketidakberdayaan di tengah lingkungan yang rusak.
Selain itu, puisi juga menyentuh dimensi sosial-spiritual ketika “boneka sakit” tersampir di kaki masjid, yang bisa dibaca sebagai ironi terhadap ruang suci yang berdampingan dengan penderitaan manusia.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap sistem sosial yang menyingkirkan manusia lemah dan ketidakpedulian terhadap penderitaan sekitar. Boneka menjadi simbol manusia yang tidak lagi memiliki kontrol atas hidupnya—dipermainkan, dibuang, dan dilupakan.
Ada juga makna ekologis: sungai yang penuh sampah dan laut yang surut menggambarkan kerusakan lingkungan yang ikut memperparah penderitaan manusia.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk menyadari penderitaan kelompok kecil yang terpinggirkan serta pentingnya kepedulian sosial dan lingkungan. Puisi ini juga mengingatkan bahwa ketidakadilan dan kerusakan lingkungan berdampak langsung pada kehidupan manusia yang paling rentan.
Imaji
Imaji dalam puisi ini sangat kuat dan konkret:
- Imaji visual: “apungan sampah”, “kemacetan sungai”, “ikan-ikan terkapar”, “tersampir di kaki masjid”.
- Imaji auditif: “jejeritan” yang menciptakan kesan suara kesakitan.
- Imaji gerak: “terkapar”, “memuntahkan”, “terapung” menggambarkan ketidakstabilan dan kehancuran.
Imaji-imaji ini memperkuat kesan realisme sosial yang keras.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Metafora: “kami seperti boneka” → manusia disamakan dengan boneka yang tidak berdaya.
- Personifikasi: “gelombang memuntahkan jejeritan” → gelombang diberi sifat manusia yang bisa “memuntahkan”.
- Hiperbola: “kemacetan sungai” → sungai digambarkan seperti jalan raya yang macet untuk menekankan penumpukan sampah dan kerusakan ekstrem.
- Simbolisme: Boneka → manusia yang tidak berdaya. Sungai penuh sampah → krisis lingkungan dan sosial. Masjid → ruang spiritual yang kontras dengan penderitaan.
Puisi "Seperti Boneka" merupakan kritik sosial dan ekologis yang kuat. Melalui simbol boneka, sungai, dan laut, puisi ini menggambarkan manusia yang kehilangan kendali atas hidupnya di tengah kerusakan lingkungan dan ketidakadilan sosial. Nada getir dan citra yang keras menjadikan puisi ini sebagai refleksi tajam tentang kondisi kemanusiaan modern.
Karya: Wowok Hesti Prabowo
Biodata Wowok Hesti Prabowo:
- Wowok Hesti Prabowo lahir pada tanggal 16 April 1963 di Purwodadi Grobogan, Jawa Tengah.