Puisi: Sepotong Paha (Karya Beni Setia)

Puisi "Sepotong Paha" karya Beni Setia menyiratkan bahwa manusia kerap kehilangan kemampuan memahami esensi kehidupan karena terlalu tenggelam ...

Sepotong Paha


sepotong paha
buat lelap sebentar malam

ini tiang, kata anak, mak
bentangkan siang. Jemur kasur
cuci kain

terkadang dimainkan gigi
di meja terhidang irisan hati

terima kasih, kata rhoma irama
sambil goyang
di pembaringan

minumlah bir, kata si istri
gebuki kasur, seru si suami
(anak terbang ke sorga)

biji mata melayang
"siapa namanya?"

1982

Sumber: Horison (November, 1982)
Catatan:
Puisi ini tidak memiliki judul.

Analisis Puisi:

Puisi "Sepotong Paha" karya Beni Setia merupakan puisi yang kaya akan simbol, ironi, dan permainan makna. Seperti banyak karya Beni Setia lainnya, puisi ini tidak menyampaikan pesan secara langsung, melainkan melalui fragmen-fragmen peristiwa yang tampak acak, absurd, bahkan surealis.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ironi kehidupan manusia dalam ruang domestik dan sosial. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang absurditas kehidupan, relasi keluarga, kritik terhadap budaya konsumtif, serta hilangnya makna di tengah rutinitas dan hiburan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini dapat ditafsirkan sebagai kritik terhadap kehidupan manusia yang sering kali terpecah-pecah dalam berbagai aktivitas tanpa kesadaran yang utuh.

Penyair menghadirkan berbagai simbol rumah tangga, hiburan, konsumsi, dan relasi keluarga untuk menunjukkan bagaimana kehidupan sehari-hari dapat berubah menjadi rangkaian rutinitas yang absurd. Kehadiran "irisan hati", "bir", "goyangan", dan "anak terbang ke sorga" dapat dibaca sebagai sindiran terhadap berbagai paradoks dalam kehidupan manusia.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa manusia kerap kehilangan kemampuan memahami esensi kehidupan karena terlalu tenggelam dalam kesibukan, hiburan, atau kepentingan sesaat.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Kehidupan tidak selalu dapat dipahami secara sederhana dan linear.
  • Manusia perlu lebih peka terhadap makna di balik rutinitas sehari-hari.
  • Hiburan dan kesenangan tidak boleh membuat seseorang kehilangan kesadaran terhadap nilai-nilai kehidupan.
  • Relasi keluarga dan sosial perlu dijalani dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran.
  • Sastra dapat menjadi media untuk melihat realitas dari sudut pandang yang berbeda.
Puisi "Sepotong Paha" karya Beni Setia merupakan puisi surealis yang menghadirkan kritik sosial melalui simbol-simbol kehidupan sehari-hari. Dengan memadukan unsur rumah tangga, hiburan, percakapan keluarga, dan citraan yang tidak biasa, penyair menciptakan karya yang kaya akan kemungkinan tafsir.

Puisi ini mengajak pembaca untuk melihat bahwa di balik hal-hal yang tampak biasa, sering tersembunyi pertanyaan besar tentang makna hidup dan keberadaan manusia.

Beni Setia
Puisi: Sepotong Paha
Karya: Beni Setia

Profil Beni Setia:
  • Beni Setia lahir pada tanggal 1 Januari 1954 di Soreang, Bandung Selatan, Jawa Barat, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.