Sore Hari Berjalan Menuju Laut
sore hari berjalan menuju laut
kau pandang matahari agak condong
kemerahan kilaunya
kau bernyanyi sepanjang pantai
menyepak reranting yang dilemparkan ombak
lalu berseru ketika kau lihat
kepiting kecil menjepit jempol kakimu
"aduh, mengapakah kau tak belajar bersama pepokok kelapa itu?
mereka tak saling menyakiti walau mengambil peran yang sama
bagi ombak."
sore hari kau berjalan menuju laut
angin menyisir rambutmu dan
kau duduk di antara bebatuan besar,
sambil melempar-lemparkan kerikil ke tengah laut
lidah ombak menjilati kedua kakimu
buihnya membuncah membasahimu
kau terpekik ketika tercium bau bangkai
seekor ikan terlempar dari laut
kau tahu dia kalah.
sepertimu juga.
Manna, 01/1996
Sumber: Stanza Lara (Ladang Pustaka, 2011)
Analisis Puisi:
Puisi "Sore Hari Berjalan Menuju Laut" menghadirkan suasana pesisir yang tenang namun perlahan berubah menjadi reflektif dan eksistensial. Perjalanan menuju laut tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menjadi ruang kontemplasi tentang kehidupan, kekalahan, dan relasi manusia dengan alam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah refleksi kehidupan manusia melalui interaksi dengan alam, khususnya laut, yang berujung pada kesadaran tentang kekalahan dan eksistensi diri. Tema ini dibangun melalui kontras antara keindahan sore, aktivitas di pantai, dan simbol kematian seekor ikan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berjalan di sore hari menuju laut, menikmati suasana pantai, berinteraksi dengan alam sekitar, lalu mengalami momen refleksi ketika melihat kehidupan dan kematian yang terjadi di laut sebagai simbol kekalahan hidupnya sendiri.
Perjalanan tersebut berubah dari aktivitas santai menjadi perenungan yang dalam tentang makna hidup.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini meliputi:
- Kehidupan manusia yang penuh persaingan dan kemungkinan kekalahan.
- Refleksi diri melalui alam sebagai cermin eksistensi.
- Perbandingan antara harmoni alam (pepohonan kelapa) dan konflik (kepiting, ikan, ombak).
- Kesadaran bahwa setiap makhluk memiliki takdir dan keterbatasannya.
Kalimat penutup “kau tahu dia kalah. sepertimu juga.” menegaskan makna eksistensial bahwa manusia juga mengalami kekalahan dalam hidup.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang dapat diambil dari puisi ini antara lain:
- Alam dapat menjadi cermin untuk memahami kehidupan manusia.
- Hidup tidak selalu tentang kemenangan; kekalahan adalah bagian dari eksistensi.
- Kesadaran diri sering muncul melalui perenungan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
- Setiap makhluk memiliki perannya masing-masing dalam siklus kehidupan.
Imaji
Puisi ini kaya akan berbagai jenis imaji:
- Imaji visual: matahari condong kemerahan, kepiting kecil, ikan terlempar dari laut.
- Imaji auditori (pendengaran): kau bernyanyi sepanjang pantai, kau terpekik.
- Imaji kinestetik (gerak): berjalan menuju laut, menyepak reranting, melempar kerikil.
- Imaji taktil (sentuhan): ombak menjilati kakimu, buih membasahimu.
Imaji-imaji ini membuat puisi terasa hidup dan sangat visual.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini adalah:
- Personifikasi: “lidah ombak menjilati kedua kakimu” → ombak diberi sifat manusia.
- Metafora: “dia kalah. sepertimu juga.” → ikan menjadi simbol manusia yang kalah dalam hidup.
- Simbolisme: Laut = kehidupan, ikan = individu, ombak = kekuatan alam atau kehidupan yang tak terhindarkan.
- Hiperbola: Penggambaran interaksi alam yang dramatik untuk memperkuat emosi.
Puisi "Sore Hari Berjalan Menuju Laut" karya Nurhayat Arif Permana adalah refleksi sederhana namun dalam tentang kehidupan manusia yang sering kali berujung pada kesadaran akan kekalahan dan keterbatasan. Melalui suasana pantai yang indah, puisi ini perlahan mengajak pembaca memasuki ruang kontemplasi eksistensial yang sunyi dan bermakna.
Karya: Nurhayat Arif Permana
Biodata Nurhayat Arif Permana:
- Nurhayat Arif Permana lahir pada tanggal 23 Oktober 1969 di Palembang.