Puisi: Suara dari Kalimantan (Karya John FS. Pane)

Puisi "Suara dari Kalimantan" karya John FS. Pane merupakan puisi kritik sosial dan ekologi yang menggambarkan penderitaan alam serta masyarakat ...

Suara dari Kalimantan

Akulah suara sumbang yang lahir dari lubang-lubang sisa tambang,
akulah suara risau yang lahir dari pohon-pohon tumbang,
akulah suara getir yang lahir dari sungai keruh penuh lumpur dan cemar,
akulah suara parau mendesau
yang coba bertahan membaca mantra
di antara bebukitan, balai-balai kosong, ladang-ladang
dan hutan-hutan keramat yang tersisa

adakah kau dengar suara yang terbata tengah membaca Indonesia
adakah kau dengar suara-suara sederhana yang terasing dari riuh Jakarta
yang tengah menapaki jalan-jalan setapak, menyesap sisa cerita bahagia
di antara pohon-pohon damar, ulin, gaharu, padi-padi ladang
yang kini semakin menghilang

bentanglah peta Indonesia hari ini, lihatlah Kalimantan di tengahnya
seperti apakah wajah rupanya saat ini?
mungkin di matamu ia tak ubahnya seperti seorang perawan
berwajah cantik, bermata jernih, berbadan montok, berkulit mulus
dengan bebukitannya yang indah selalu menggoda untuk dijamah,
ah tapi itu dulu, dulu sekali sebelum mereka mengepung
kampung-kampung kami,
sebelum mereka meracuni pikiran kami dengan lembar-lembar uang
Kalimantan hari ini tak lebih seperti perempuan tua yang tertatih
menahan letih
lihatlah tubuhnya yang kurus, berdada rata dengan
luka koyak di mana-mana
tulang, daging dan darahnya telah tercerabut
terhisap monster-monster
dari negeri-negeri jauh di seberang lautan

Akulah suara yang berdesau mengumandang
memanggil kau datang
dengar; dengarlah suara kami
jangan hanya melayang-layang mengipas mimpi di awang-awang

Kotabaru, September 2014

Sumber: Sepanjang Tepian Sunyi (Tahura Media, 2016)

Analisis Puisi:

Puisi "Suara dari Kalimantan" karya John FS. Pane merupakan puisi kritik sosial dan ekologi yang menggambarkan penderitaan alam serta masyarakat Kalimantan akibat eksploitasi sumber daya alam. Penyair menghadirkan suara alam sebagai suara manusia yang terluka, sehingga kerusakan lingkungan tidak hanya dipandang sebagai persoalan ekologis, tetapi juga sebagai tragedi kemanusiaan.

Melalui bahasa yang lugas namun puitis, puisi ini memperlihatkan kontras antara Kalimantan yang dahulu hijau dan kaya dengan Kalimantan yang kini mengalami kerusakan akibat aktivitas pertambangan, penebangan hutan, dan eksploitasi sumber daya. Di balik keindahan metaforanya, puisi ini merupakan seruan agar masyarakat tidak menutup mata terhadap kondisi alam yang semakin memprihatinkan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerusakan lingkungan akibat eksploitasi alam serta perjuangan masyarakat untuk menyuarakan keadilan dan kelestarian Kalimantan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang identitas daerah, kritik terhadap pembangunan yang tidak berkelanjutan, kesenjangan sosial, dan kepedulian terhadap alam.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa alam memiliki "suara" yang sering kali diabaikan manusia. Bekas tambang, hutan gundul, sungai yang tercemar, dan kampung yang kehilangan ruang hidup merupakan bentuk-bentuk peringatan bahwa pembangunan tanpa keseimbangan akan membawa kerusakan yang berkepanjangan.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa masyarakat di daerah sering kali tidak memperoleh ruang yang cukup untuk menyampaikan penderitaannya. Suara mereka tenggelam oleh pusat-pusat kekuasaan dan kepentingan ekonomi.

Selain itu, perubahan citra Kalimantan dari perempuan muda menjadi perempuan tua melambangkan hilangnya keindahan, kekayaan, dan martabat akibat eksploitasi yang tidak terkendali.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Jagalah kelestarian alam sebelum kerusakannya menjadi tidak dapat dipulihkan.
  • Pembangunan harus memperhatikan keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan kehidupan masyarakat.
  • Dengarkan suara masyarakat yang terdampak oleh eksploitasi alam.
  • Jangan memandang alam hanya sebagai sumber keuntungan ekonomi.
  • Kepedulian terhadap lingkungan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar wacana.
Puisi "Suara dari Kalimantan" karya John FS. Pane merupakan puisi kritik sosial-ekologis yang menyuarakan penderitaan alam dan masyarakat Kalimantan akibat eksploitasi sumber daya alam. Melalui simbol-simbol yang kuat, penyair menghadirkan Kalimantan sebagai sosok yang terluka dan memohon agar suaranya didengar oleh seluruh bangsa.

Puisi ini mengajak pembaca untuk tidak sekadar mengagumi keindahan alam Indonesia, tetapi juga ikut bertanggung jawab menjaga kelestariannya demi generasi yang akan datang.

John FS. Pane
Puisi: Suara dari Kalimantan
Karya: John FS. Pane

Biodata John FS. Pane:
  • John FS. Pane lahir pada tanggal 16 Juni 1975 di Kotabaru, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.