Suara Itu
semalam
terdengar lagi
suara itu
seperti semalam-malamnya
menggamit aku ketika lena
dibuai kealpaan
ku biar suara itu
terus bersuara
tanpa jemu
tanpa langu
namun
aku kalah dalam pasrah
dalam gundah
kucari dan pasti
suara itu suara semalam-malamnya
adalah suara panggilan
ke arah
kedamaian
ketenangan jiwa
pada mengingati-Mu
Sumber: Dari Amerika ke Catatan Langit (2005)
Analisis Puisi:
Puisi "Suara Itu" karya Oka Rusmini menghadirkan pengalaman batin yang subtil tentang suara yang berulang kali hadir dalam kesadaran penyair. Suara tersebut tidak sekadar bunyi, tetapi menjadi simbol panggilan spiritual yang mengarahkan manusia pada ketenangan dan kesadaran ilahi.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pencarian spiritual dan kesadaran religius menuju kedamaian batin melalui pengingatan kepada Tuhan. Tema ini terlihat jelas dari transformasi “suara” yang awalnya misterius, lalu disadari sebagai panggilan menuju “mengingati-Mu”.
Puisi ini bercerita tentang pengalaman seseorang yang terus-menerus mendengar “suara” dalam kesunyian malam, yang kemudian dipahami sebagai panggilan spiritual untuk kembali kepada Tuhan dan mencapai ketenangan jiwa.
Penyair mengalami proses dari ketidaksadaran, kegelisahan, hingga akhirnya menemukan makna dari suara tersebut.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini mencakup:
- Kesadaran spiritual yang muncul melalui kegelisahan batin.
- Panggilan hati nurani atau ilham religius.
- Perjalanan manusia dari lalai menuju kesadaran ilahi.
- Pencarian makna hidup melalui hubungan dengan Tuhan.
“Suara itu” dapat dimaknai sebagai metafora dari suara hati, nurani, atau panggilan Tuhan yang terus hadir tanpa henti.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang terkandung dalam puisi ini antara lain:
- Manusia sering diingatkan melalui suara hati untuk kembali kepada Tuhan.
- Ketenangan sejati hanya dapat dicapai melalui kesadaran spiritual.
- Kegelisahan batin bisa menjadi jalan menuju pencerahan jiwa.
- Jangan mengabaikan panggilan nurani karena di sanalah terdapat petunjuk hidup.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini:
- Repetisi (pengulangan): “suara itu” diulang untuk menegaskan intensitas pengalaman batin.
- Metafora: “suara itu” → simbol dari panggilan spiritual atau suara hati.
- Personifikasi: “suara itu terus bersuara tanpa jemu” → suara diberi sifat manusia yang tidak lelah.
- Hiperbola: Penggambaran suara yang terus-menerus hadir seolah tidak pernah berhenti.
- Simbolisme: “suara” melambangkan kesadaran ilahi atau panggilan menuju Tuhan.
Puisi "Suara Itu" karya Oka Rusmini adalah refleksi spiritual yang kuat tentang bagaimana manusia dapat menemukan kedamaian melalui kegelisahan batin. Dengan bahasa yang sederhana namun penuh kedalaman, puisi ini mengajak pembaca untuk mendengarkan “suara” dalam diri sebagai jalan menuju ketenangan jiwa dan kesadaran ilahi.
Karya: Oka Rusmini
Biodata Oka Rusmini:
- Oka Rusmini lahir pada tanggal 11 Juli 1967 di Jakarta.
