Suara Tabah
Dari buaian jemarimu pecah,
aku dikubur berteman sumpah serapah.
Padahal akulah nafas pertama kau asuh,
garis peluhmu menadah anugerah jatuh.
Mengapa gelora rindu berganti amarah?
Mengapa telingamu terburu mengunci rapat?
Kau rayu basah, kau maki kidung gemuruh,
seolah aku suara paling hina,
pengotor altar doa.
Kau menakar tiap rintik pada garis wajah,
mengikat basah lewat rindu membuncah.
Namun kau penjara aku,
di sangkar yatim piatu.
Kini tabah selesai pada porsinya,
merengkuh kidung, mengawal tanah aroma basah.
Berdiri kukuh meredam retak, berpasrah di ujung tebing curam.
Sebab tabah paling baka adalah berjiwa tegak,
dipingit secara sah, ditalak.
Ponorogo, 4 Juni 2026
Analisis Puisi:
Puisi "Suara Tabah" karya Mega Septiani merupakan puisi yang mengangkat tema luka batin, pengkhianatan kasih, dan keteguhan hati dalam menghadapi penderitaan. Melalui bahasa yang puitis dan simbolis, penyair menggambarkan suara seseorang yang merasa disia-siakan oleh sosok yang dahulu sangat dekat dengannya.
Puisi ini memperlihatkan perjalanan emosional dari rasa kecewa, penolakan, dan keterasingan hingga akhirnya mencapai tahap penerimaan dan ketabahan. Dengan diksi yang kuat, penyair menunjukkan bahwa keteguhan sejati lahir dari kemampuan seseorang untuk tetap berdiri tegak meskipun telah mengalami luka yang mendalam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ketabahan dalam menghadapi penolakan, pengkhianatan, dan luka batin. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang hubungan emosional yang retak, kehilangan kasih sayang, penerimaan terhadap kenyataan, serta kekuatan jiwa dalam menghadapi penderitaan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merasa pernah dicintai, dirawat, dan dianggap berharga oleh seseorang. Penyair mengingat bagaimana dirinya dahulu menjadi bagian penting dalam kehidupan sosok yang diasosiasikan sebagai figur pengasuh atau orang yang sangat dekat.
Namun, seiring berjalannya waktu, hubungan tersebut berubah. Kerinduan yang dahulu hangat berganti menjadi amarah dan penolakan. Penyair merasa suaranya tidak lagi didengar dan kehadirannya justru dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu.
Ia menggambarkan dirinya seperti seseorang yang dipenjara dalam kesepian dan keterasingan. Meski demikian, pada bagian akhir puisi, penyair tersebut memilih untuk bersikap tabah. Ia menerima kenyataan pahit yang dihadapinya dan berusaha tetap berdiri tegak meskipun mengalami luka emosional yang mendalam.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa ketabahan sejati tidak berarti terbebas dari penderitaan, melainkan kemampuan untuk tetap tegar setelah mengalami luka dan penolakan.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa hubungan antarmanusia tidak selalu berjalan sesuai harapan. Orang yang dahulu memberikan kasih sayang bisa saja berubah menjadi sosok yang menjauh atau bahkan menyakiti.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Ketabahan merupakan kekuatan penting dalam menghadapi luka kehidupan.
- Tidak semua hubungan dapat bertahan seperti yang diharapkan.
- Penolakan dan kehilangan dapat menjadi pelajaran berharga untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat.
- Jangan membiarkan penderitaan menghancurkan harga diri dan semangat hidup.
- Penerimaan terhadap kenyataan adalah salah satu jalan menuju kedamaian batin.
Puisi "Suara Tabah" karya Mega Septiani merupakan puisi yang menggambarkan perjalanan emosional seseorang yang mengalami penolakan, kehilangan kasih sayang, dan luka batin yang mendalam. Melalui simbol-simbol yang kuat dan bahasa yang puitis, penyair menunjukkan bahwa ketabahan bukanlah ketiadaan rasa sakit, melainkan kemampuan untuk tetap berdiri teguh setelah menghadapi berbagai penderitaan. Puisi ini mengajarkan bahwa menerima kenyataan dan menjaga keteguhan hati merupakan bentuk kemenangan terbesar dalam menghadapi ujian kehidupan.
Karya: Mega Septiani
Biodata Mega Septiani:
- Mega Septiani lahir pada tanggal 28 September 2001 di Ponorogo. Meraih gelar Sarjana Pendidikan jurusan Pendidikan Agama Islam dari UIN Ki Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Ia sudah menulis sejak duduk di bangku MTs Al-Islam Joresan, dan pernah menjadi salah satu Tim Redaksi Majalah Pondok. Aktif mengikuti lomba cipta puisi (online). Beberapa puisi yang pernah diterbitkan termuat dalam buku berjudul: Hujan-hujanan (Pramedia: 2020), Misteri Jodoh (Zizanta Media: 2020), Mentari Senja (Mentari Media: 2020), Rindu (Pramedia: 2020), Menanti Harapan di Musim Penantian (Jendela Sastra Indonesia/ JSI: 2021), Berdamai dengan Waktu (Yumna Pustaka: 2026).
- Saat ini ia sedang mengikuti Kelas Puisi Jadi Cuan, Sekolah Kepenulisan Kosana Publisher @kosanapublisher bersama @intanhafidahnh sebagai mentor kelas.
- Penulis bisa disapa di Instagram @sheptiaann.