Puisi: Sungai Barito (Karya Ariffin Noor Hasby)

Puisi "Sungai Barito" karya Ariffin Noor Hasby mengangkat Sungai Barito sebagai simbol kehidupan, sejarah, budaya, dan harapan masyarakat Kalimantan.

Sungai Barito

Sungai Barito, nyanyian hidup suku perahu
Kulihat mengayuh masa lalu ke masa depan
Ratusan tahun jiwanya pasang surut dalam jiwaku
Ratusan tahun hidupnya ratusan kilometer berkelok dalam ingatan
Membasuh seluruh hawa nafsu dalam sajakku

Sungai Barito, balada kecil masa laluku balada besar masa depanku
Mengalirlah kau mengalirkan terus dalam arus darahku
Bersama ribuan kubik kecemasan
Kampung-kampung pedalaman yang berpuluh tahun
Kehilangan narasi kemerdekaan

Sungai barito, pantun pendek masa kanakku pantun panjang hari tuaku
Menderaslah kau menderaslah terus dalam gemuruh nafasku
Bersama ribuan ton kecemburuan
Dusun-dusun terasing yang beratus tahun
Kehilangan rakit kehidupan

Sungai Barito, mantera sunyi masa laluku mantera riuh masa depanku
Mengucaplah kau mengucaplah terus dalam parau suaraku
Bersama ribuan ayat keperihan tanah-tanah huma
Yang bertahun kehilangan matahari kebebasan

Sungai Barito, gurindam kearifan nenek moyangku gurindam pengharapan anak cucu
Menulislah kau menulislah terus
Dalam ribuan bahasa alam
Agar kelak aku pun dapat membaca
Seluruh alamat perjalananku!

Banjarbaru, 3 Mei 2005

Sumber: Rumah Lanting (Ladang Publishing, 2017)

Analisis Puisi:

Puisi "Sungai Barito" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi yang memuliakan Sungai Barito sebagai simbol kehidupan, sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Kalimantan. Bagi penyair, Sungai Barito bukan sekadar bentang alam, melainkan urat nadi yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan sebuah peradaban.

Melalui pengulangan nama Sungai Barito pada setiap bait, penyair menegaskan kedudukannya sebagai sumber kehidupan sekaligus saksi perjalanan masyarakat yang telah berabad-abad hidup berdampingan dengannya. Di sisi lain, puisi ini juga menyuarakan kegelisahan terhadap ketimpangan pembangunan, keterasingan masyarakat pedalaman, serta harapan akan masa depan yang lebih adil.

Tema

Tema utama puisi ini adalah hubungan antara sungai sebagai identitas budaya dengan perjuangan masyarakat dalam menjaga sejarah, kehidupan, dan harapan masa depan. Selain itu, puisi ini mengangkat tema tentang kecintaan terhadap tanah kelahiran, pelestarian budaya, perjuangan masyarakat pedalaman, ketimpangan sosial, serta semangat menjaga warisan leluhur.

Puisi ini bercerita tentang Sungai Barito yang dipandang sebagai saksi perjalanan panjang masyarakat Kalimantan. Sungai tersebut menjadi sumber kehidupan bagi "suku perahu" yang selama ratusan tahun menggantungkan hidupnya pada aliran sungai.

Penyair menggambarkan Sungai Barito sebagai penghubung antara masa lalu dan masa depan. Sungai membawa kenangan masa kecil, sejarah nenek moyang, sekaligus harapan bagi generasi yang akan datang.

Di balik keindahannya, penyair juga menyoroti kenyataan bahwa masih banyak kampung pedalaman dan dusun terpencil yang belum menikmati kemerdekaan dalam arti kesejahteraan. Mereka kehilangan narasi pembangunan, akses kehidupan, bahkan kebebasan untuk berkembang.

Pada bagian akhir, penyair berharap Sungai Barito tetap mengalir membawa nilai-nilai kearifan alam agar generasi berikutnya mampu memahami jati diri dan perjalanan bangsanya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa alam, khususnya sungai, merupakan bagian penting dari identitas suatu masyarakat. Jika hubungan manusia dengan alam terputus, maka sejarah, budaya, dan nilai-nilai kehidupan juga akan ikut memudar.

Sungai Barito menjadi simbol perjalanan hidup yang terus mengalir. Ia menyimpan cerita tentang perjuangan, penderitaan, harapan, dan kebijaksanaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Puisi ini juga menyiratkan kritik sosial terhadap ketimpangan pembangunan. Meskipun bangsa telah merdeka, masih ada masyarakat yang belum sepenuhnya merasakan makna kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari.

Amanat atau Pesan yang Disampaikan

Amanat atau pesan yang disampaikan dalam puisi ini antara lain:
  • Jagalah sungai dan alam karena keduanya merupakan sumber kehidupan dan identitas masyarakat.
  • Jangan melupakan sejarah serta kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhur.
  • Perjuangkan pemerataan pembangunan agar masyarakat pedalaman memperoleh kesempatan yang sama.
  • Alam menyimpan pelajaran hidup yang patut dihargai dan dipelajari.
  • Masa depan yang lebih baik hanya dapat dibangun dengan tetap menghormati akar budaya dan sejarah.
Puisi "Sungai Barito" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi yang mengangkat Sungai Barito sebagai simbol kehidupan, sejarah, budaya, dan harapan masyarakat Kalimantan. Sungai tidak hanya menjadi jalur transportasi atau sumber ekonomi, tetapi juga menjadi ruang tempat identitas, kenangan, dan nilai-nilai leluhur terus mengalir dari generasi ke generasi.

Puisi ini mengajak pembaca untuk menjaga alam, menghargai budaya lokal, serta memperjuangkan kehidupan yang lebih adil bagi seluruh masyarakat tanpa meninggalkan akar sejarah dan kearifan nenek moyang.

Ariffin Noor Hasby
Puisi: Sungai Barito
Karya: Ariffin Noor Hasby

Biodata Ariffin Noor Hasby:
  • Ariffin Noor Hasby lahir pada tanggal 20 Februari 1964 di Marabahan, Kabupaten Batola, Kalimantan Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.