Puisi: Sungai di Kalimantan (Karya Ali Syamsudin Arsi)

Puisi "Sungai di Kalimantan" karya Ali Syamsudin Arsi tidak hanya menggambarkan sungai sebagai bentang alam, tetapi juga sebagai saksi sejarah, ...

Sungai di Kalimantan

wahai sungai, mengalirlah sebagaimana kalian mengalir sejak lama seperti yang aku pahami dalam kekinian dan pengertianku sendiri tentang sejarah masa silam, wahai sungai, meliuklah sebagaimana engkau meliukkan badan dalam jeram-jeram dalam tebing-tebing dalam hutan-hutan, wahai sungai, di atas riakmu pula ada banyak kabar dari satu titik ke titik lain dan ketika pecahan riak menuju gelombang maka saksikanlah bahwa kecipak ikan-ikan dengan ekor selalu bergerak dari satu hentak ke hentak lainnya, wahai sungai dalam rimba belantara wahai hutan dalam gelombang dan wahai sungai dalam pijar dendam membara-bara, wahai sungai keruh yang kian membuncah-buncah, wahai sungai, atas dasar berpasir batu dan kulit kerang juga tanah liat tanah lempung campuran lumpur serta batu-batu, wahai sungai; meluaplah, meluap sampai keluh kesahmu naik di puncak ramai sampai ke pucuk tugu dan tiang-tiang bendera, wahai sungai; saksikan olehmu keangkuhan menara dan banyaknya tiang-tiang istana, istana rapuh yang ditancapkan di mana-mana atas dasar apa, wahai sungai, sampai di mana diam kita bila semua arus telah dengan sengaja disumbat di mana-mana

Banjarbaru, Desember 2013

Sumber: Gemuruh (Fram Publishing, 2014)

Analisis Puisi:

Puisi "Sungai di Kalimantan" karya Ali Syamsudin Arsi merupakan puisi yang memadukan refleksi ekologis, sosial, dan politik melalui simbol utama berupa sungai. Penyair tidak hanya menggambarkan sungai sebagai bentang alam, tetapi juga sebagai saksi sejarah, jalur kehidupan masyarakat, sekaligus simbol suara rakyat yang terus mengalir meskipun menghadapi berbagai hambatan.

Melalui pengulangan seruan "wahai sungai", puisi ini menghadirkan dialog imajiner antara penyair dan sungai. Di balik penggambaran alam Kalimantan, tersimpan kritik terhadap kerusakan lingkungan, ketimpangan kekuasaan, serta berbagai persoalan yang menghambat kehidupan masyarakat.

Tema

Tema utama puisi ini adalah hubungan antara alam, sejarah, dan kritik sosial terhadap kerusakan lingkungan serta penyalahgunaan kekuasaan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang identitas daerah, perjuangan masyarakat, kelestarian alam, dan pentingnya menjaga keseimbangan kehidupan.

Puisi ini bercerita tentang seorang penyair yang berbicara langsung kepada sungai sebagai sahabat sekaligus saksi perjalanan sejarah. Ia memohon agar sungai tetap mengalir sebagaimana sejak dahulu, membawa kehidupan, kabar, dan harapan bagi masyarakat.

Sungai digambarkan melewati jeram, tebing, dan hutan, memperlihatkan bahwa alam telah lama menjadi bagian dari sejarah Kalimantan. Namun, penyair juga melihat perubahan yang mengkhawatirkan. Sungai mulai keruh, meluap, dan seolah memendam kemarahan akibat berbagai persoalan yang menimpanya.

Pada bagian akhir, puisi berubah menjadi kritik sosial. Penyair mempertanyakan berdirinya menara dan istana yang megah, sementara arus sungai justru disumbat. Pertanyaan tersebut menjadi simbol kritik terhadap kekuasaan yang mengabaikan keseimbangan alam dan kepentingan masyarakat.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa sungai merupakan simbol kehidupan yang seharusnya dibiarkan mengalir secara alami. Ketika aliran sungai dihambat, bukan hanya ekosistem yang terganggu, tetapi juga kehidupan sosial, budaya, dan sejarah masyarakat.

Penyair juga menyiratkan bahwa kekuasaan yang dibangun tanpa memperhatikan alam pada akhirnya bersifat rapuh. Menara dan istana menjadi lambang kemegahan yang kehilangan makna apabila berdiri di atas penderitaan lingkungan dan masyarakat.

Selain itu, puisi ini mengajak pembaca untuk tidak diam menghadapi kerusakan alam. Sungai yang "meluap" melambangkan suara protes yang suatu saat akan muncul ketika ketidakadilan terus berlangsung.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Jagalah sungai dan alam karena keduanya merupakan sumber kehidupan.
  • Jangan mengeksploitasi alam demi kepentingan sesaat.
  • Kekuasaan hendaknya dibangun dengan memperhatikan keadilan dan kelestarian lingkungan.
  • Belajarlah dari sejarah agar kesalahan yang sama tidak terus berulang.
  • Jangan bersikap diam ketika melihat kerusakan alam dan ketidakadilan sosial.
Puisi "Sungai di Kalimantan" karya Ali Syamsudin Arsi merupakan puisi reflektif yang menjadikan sungai sebagai simbol kehidupan, sejarah, dan suara masyarakat. Melalui penggambaran alam Kalimantan yang kaya, penyair menyampaikan kritik terhadap kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, dan penyalahgunaan kekuasaan yang mengancam keberlangsungan kehidupan.

Puisi ini mengajak pembaca untuk menjaga kelestarian alam, menghormati sejarah, serta berani menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan dan keadilan sosial, sebagaimana sungai yang terus mengalir membawa kehidupan dari masa ke masa.

Ali Syamsudin Arsi
Puisi: Sungai di Kalimantan
Karya: Ali Syamsudin Arsi

Biodata Ali Syamsudin Arsi:
  • Ali Syamsudin Arsi (ASA) lahir pada tanggal 5 Juni 1964 di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.