Sungai Martapura
Sungai apakah yang membilas tubuhmu sepanjang usia?
Sungai hibuk di tengah kota kita sungai tua Martapura
Klotok dan speed-boat menabuh serbuk udara dengan suara abad
Mendesak jukung dan lanting-lanting tertambat
Masihkah tertambat cintamu pada gelombangnya
yang menepikah cita-cita masa lalu kita?
Adakah masih kuning kulit perawan pesisir
menawarkan angan dan menggelorakan nafsumu?
Sungai Martapura sungai keruh membelah Banjarmasin tercinta
Limbah pabrik dan coklat airnya masihkan menyisakan harapan?
Masihkah kau mengenang perahu-perahu kecil
yang telah bertolak ke bandar-bandar pengasingan
dan diburu gemuruh ombak ke teluk-teluk keabadian?
1985
Sumber: Di Bawah Langit Beku (1997)
Analisis Puisi:
Puisi "Sungai Martapura" karya YS Agus Suseno merupakan puisi yang memadukan nostalgia, kritik lingkungan, dan refleksi sosial melalui simbol Sungai Martapura yang membelah Kota Banjarmasin. Sungai tidak hanya digambarkan sebagai bentang alam, tetapi juga sebagai saksi perjalanan sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat yang perlahan mengalami perubahan.
Dengan rangkaian pertanyaan retoris, penyair mengajak pembaca merenungkan hubungan manusia dengan sungai yang dahulu menjadi sumber kehidupan, tetapi kini menghadapi berbagai persoalan akibat modernisasi dan pencemaran lingkungan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perubahan kehidupan masyarakat dan lingkungan yang tercermin melalui Sungai Martapura. Tema-tema pendukung yang muncul dalam puisi ini antara lain:
- Kerinduan terhadap masa lalu.
- Kerusakan lingkungan.
- Perubahan budaya.
- Identitas masyarakat sungai.
- Hubungan manusia dengan alam.
Puisi ini bercerita tentang Sungai Martapura yang menjadi saksi perubahan zaman, sekaligus menggambarkan kerinduan terhadap kehidupan masa lalu yang mulai memudar.
Pada bait pertama, penyair menggambarkan Sungai Martapura sebagai sungai tua yang telah menemani kehidupan masyarakat selama bertahun-tahun. Kehadiran klotok, speedboat, jukung, dan lanting memperlihatkan perpaduan antara tradisi dan modernitas.
Namun, perubahan itu juga menghadirkan pertanyaan. Apakah cinta masyarakat kepada sungai masih tetap ada? Apakah cita-cita dan kehidupan lama masih tersisa di tengah perubahan zaman?
Pada bait kedua, penyair menyoroti kondisi sungai yang mulai keruh akibat limbah pabrik. Gambaran tersebut menjadi simbol rusaknya lingkungan sekaligus memudarnya harapan. Di akhir puisi, kenangan tentang perahu-perahu kecil yang berlayar menuju berbagai tempat menjadi lambang perjalanan hidup dan sejarah yang terus bergerak.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kemajuan zaman sering membawa perubahan yang mengikis kelestarian alam, budaya, dan nilai-nilai kehidupan masyarakat.
Sungai Martapura menjadi simbol perjalanan waktu. Dahulu sungai menjadi pusat kehidupan masyarakat, tetapi kini menghadapi pencemaran dan perubahan fungsi.
Ungkapan:
"Limbah pabrik dan coklat airnya masihkan menyisakan harapan?"
menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan fisik, melainkan juga ancaman terhadap masa depan masyarakat.
Sementara itu, perahu-perahu kecil melambangkan kenangan, tradisi, dan kehidupan sederhana yang perlahan tergeser oleh perubahan zaman.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Alam harus dijaga agar tetap menjadi sumber kehidupan bagi generasi mendatang.
- Kemajuan tidak seharusnya mengorbankan lingkungan dan budaya.
- Manusia perlu menghargai sejarah serta identitas daerahnya.
- Sungai bukan sekadar jalur transportasi, tetapi juga bagian dari kehidupan dan peradaban.
- Kepedulian terhadap lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
Puisi "Sungai Martapura" karya YS Agus Suseno merupakan refleksi puitis mengenai perubahan zaman yang berdampak pada lingkungan, budaya, dan kehidupan masyarakat sungai. Sungai Martapura tidak hanya menjadi latar, tetapi juga simbol sejarah, identitas, dan harapan yang kini menghadapi ancaman akibat pencemaran dan modernisasi.
Penyair berhasil menghadirkan puisi yang menyentuh sekaligus menggugah kesadaran. Puisi ini mengajak pembaca untuk menjaga kelestarian alam dan menghargai warisan budaya agar tidak hilang ditelan perubahan zaman.
Karya: YS Agus Suseno
Biodata YS Agus Suseno:
- Yusran Salman Agus Suseno (atau dikenal dengan nama YS Agus Suseno) lahir pada tanggal 23 Agustus 1964 di Banjarmasin.
- YS Agus Suseno meninggal dunia pada tanggal 12 September 2024 di Banjarmasin.