Sungai-Sungai Mengalir
Sungai-sungai mengalir ke udara
aku saksikan dalam diriku
membawa dzikir perahu
sampai ke seberang waktu
aku mendengar lagi suara arus
mencari suaramu sepanjang musim:
Allah Allah Allah
Hujan dan matahari memberi kota-kota
dalam diriku
sungai airmata manusia
sebelum engkau memahami udara dalam mimpi sunyi
Betapa luas kerinduan sungai-sungai padamu
kubayangkan waktu mengayuh irama batu
tapi segala bayangan telah menjadi batang-batang cahaya
yang membagi matamu dengan gelap jalan
aku baca sungai-sungai dalam diriku
menambatkan kesetiaan kekasih waktu
seperti perahu yang berdzikir
menyempurnakan tarian batu!
Banjarbaru, Maret 1996
Sumber: Salawat Laut (Pustaka Banua, 2013)
Analisis Puisi:
Puisi "Sungai-Sungai Mengalir" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi religius yang memadukan simbol alam dengan pengalaman spiritual manusia. Sungai dalam puisi ini tidak hanya dipahami sebagai aliran air, melainkan sebagai lambang perjalanan jiwa menuju Tuhan. Melalui diksi yang puitis, penyair menghadirkan perpaduan antara alam, dzikir, waktu, dan kerinduan kepada Sang Pencipta.
Puisi ini memperlihatkan bahwa setiap unsur kehidupan dapat menjadi jalan untuk mengingat Allah. Sungai, perahu, batu, hujan, matahari, hingga air mata manusia semuanya menjadi simbol perjalanan batin yang membawa manusia menuju kesadaran spiritual.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjalanan spiritual manusia menuju Tuhan melalui simbol-simbol alam dan dzikir. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kerinduan kepada Allah, pencarian makna hidup, kesetiaan dalam beribadah, serta penyucian jiwa.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merasakan bahwa sungai-sungai tidak hanya mengalir di alam, tetapi juga mengalir di dalam dirinya. Aliran tersebut membawa dzikir dan menghubungkannya dengan perjalanan menuju keabadian.
Dalam perjalanan batin itu, penyair mendengar suara arus yang terus mengingatkan nama Allah. Alam menjadi media yang memperkuat kesadaran bahwa seluruh kehidupan bergerak menuju Sang Pencipta.
Selanjutnya, penyair menggambarkan hujan, matahari, air mata, dan waktu sebagai bagian dari perjalanan rohani manusia. Pada akhirnya, sungai-sungai yang mengalir dalam dirinya bermuara pada kesetiaan dan ketundukan kepada Allah, sebagaimana perahu yang terus berdzikir sepanjang perjalanan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa perjalanan menuju Tuhan berlangsung di dalam hati manusia. Alam hanyalah cermin yang membantu manusia mengenali kebesaran Allah.
Sungai yang mengalir menjadi simbol kesinambungan dzikir dan kehidupan. Sebagaimana air terus mengalir tanpa henti, demikian pula hati manusia seharusnya terus mengingat Allah dalam setiap keadaan.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa kerinduan kepada Tuhan merupakan fitrah manusia. Cahaya yang disebutkan dalam puisi melambangkan hidayah yang mampu menerangi jalan kehidupan di tengah gelapnya dunia.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
- Jadikan setiap peristiwa dalam kehidupan sebagai jalan untuk mengingat Allah.
- Alam merupakan tanda kebesaran Tuhan yang patut direnungkan.
- Dzikir adalah bekal yang menuntun manusia dalam perjalanan hidup.
- Kesetiaan kepada Tuhan akan membawa ketenangan batin.
- Kehidupan sejati adalah perjalanan menuju kedekatan dengan Sang Pencipta.
Puisi "Sungai-Sungai Mengalir" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi religius yang mengajak pembaca merenungkan perjalanan hidup sebagai perjalanan menuju Allah. Dengan memanfaatkan simbol sungai, perahu, cahaya, dan dzikir, penyair menggambarkan bahwa seluruh alam semesta senantiasa mengingat dan mengagungkan Sang Pencipta.
Puisi ini mengingatkan bahwa hati manusia akan menemukan ketenangan ketika hidup dijalani dengan kesetiaan, dzikir, dan kerinduan yang tulus kepada Allah.
Karya: Ariffin Noor Hasby
Biodata Ariffin Noor Hasby:
- Ariffin Noor Hasby lahir pada tanggal 20 Februari 1964 di Marabahan, Kabupaten Batola, Kalimantan Selatan.