Sungguhlah Besar
Menggelombang Rinduku
Membelah Hidupku
Berapakah lagi syairku di rindumu
hingga tak selesai tidurku melepas tanganmu
Berapakah lagi menyisa mawarku di lubukmu
hingga tersayat-sayat dua belah matamu
Berapakah lagi kau benamkan benang mimpimu
hingga koyak kenanganku
Pernahkah engkau merasa
setelah senja semakin senja
dan lautan kian menjadi jingga
retak telagaku
memikul seluruh rindumu
tumpah ke samudera hidupku
Pabila nanti di jendela kamarmu
masih menyala purnama tempat kesunyianku
ingin rasanya kuantar kau sekali lagi
menyaksikan angin
yang sedang menggoyang-goyangkan daun
pada tangkai bungamu
di ladang kesedihanku
Pabila di tepian telukmu
masih saja ada senja yang menyisa
ingin rasanya untukmu kubawakan ombak
mengayuh samudera
yang pernah menggelombangkan perahuku.
2016
Sumber: Untukmu Aku Bernyanyi (2018)
Analisis Puisi:
Puisi "Sungguhlah Besar Menggelombang Rinduku Membelah Hidupku" karya Handrawan Nadesul merupakan ungkapan puitis tentang kerinduan yang begitu mendalam hingga memenuhi seluruh ruang batin penyair. Penyair menghadirkan pengalaman emosional yang kuat mengenai cinta, kehilangan, dan harapan untuk kembali mengenang masa lalu.
Pilihan diksi yang lembut namun sarat makna membuat puisi ini terasa melankolis sekaligus reflektif. Setiap bait mengalir seperti gelombang yang membawa pembaca menyelami kedalaman rasa rindu yang tak kunjung usai.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerinduan, cinta, dan kenangan. Penyair menggambarkan seseorang yang masih menyimpan rasa cinta kepada sosok yang telah jauh darinya. Rindu yang digambarkan bukan sekadar keinginan untuk bertemu, melainkan kerinduan yang telah menyatu dengan perjalanan hidup sehingga memengaruhi pikiran, perasaan, bahkan cara memandang dunia.
Di balik tema tersebut juga tersirat tema tentang kehilangan dan penerimaan terhadap kenyataan bahwa tidak semua kenangan dapat diulang kembali.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang terus mengenang orang yang dicintainya. Kerinduan itu hadir melalui berbagai pertanyaan retoris yang menunjukkan bahwa perasaan tersebut belum menemukan jawaban maupun akhir.
Penyair kemudian menggambarkan senja, lautan, purnama, angin, dan ombak sebagai saksi perjalanan cinta yang pernah mereka lalui bersama. Meski waktu terus berjalan, keinginan untuk kembali menemani sosok yang dirindukan masih tetap hidup dalam hati penyair.
Puisi ini memperlihatkan bahwa kenangan dapat bertahan lebih lama daripada kehadiran seseorang secara fisik.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kerinduan merupakan bagian dari pengalaman hidup yang tidak mudah dihapus oleh waktu. Semakin seseorang berusaha melupakan, semakin kuat kenangan itu hadir dalam berbagai bentuk.
Ungkapan "rinduku membelah hidupku" menyiratkan bahwa rasa rindu telah menjadi luka emosional yang memengaruhi seluruh perjalanan hidup penyair. Lautan, ombak, dan senja menjadi simbol luasnya perasaan yang sulit dibendung.
Selain itu, puisi ini juga mengajarkan bahwa cinta sejati sering kali tetap hidup meskipun hubungan telah berakhir. Yang tertinggal bukan hanya kenangan, tetapi juga harapan yang diam-diam terus menyala.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Amanat atau pesan yang disampaikan dalam puisi ini antara lain:
- Hargailah kebersamaan selagi masih memiliki kesempatan.
- Kenangan indah akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup seseorang.
- Kerinduan adalah perasaan yang wajar dan dapat menjadi bentuk penghargaan terhadap cinta yang pernah hadir.
- Belajarlah menerima bahwa tidak semua keinginan dapat diwujudkan, tetapi kenangan tetap dapat menjadi sumber kekuatan.
- Jadikan pengalaman cinta sebagai pembelajaran untuk menjalani kehidupan dengan lebih dewasa.
Puisi "Sungguhlah Besar Menggelombang Rinduku Membelah Hidupku" karya Handrawan Nadesul merupakan puisi liris yang mengangkat tema kerinduan, cinta, dan kenangan dengan bahasa yang kaya metafora. Penyair memanfaatkan simbol-simbol alam seperti senja, purnama, ombak, samudera, dan angin untuk menggambarkan besarnya gejolak batin akibat kehilangan seseorang yang dicintai.
Puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa rindu adalah bagian dari kehidupan yang dapat menjadi luka sekaligus bukti bahwa cinta pernah tumbuh dengan begitu berarti.
Karya: Handrawan Nadesul
Biodata Handrawan Nadesul:
- Dr. Handrawan Nadesul (Gouw Han Goan) lahir pada tanggal 31 Desember 1948 di Karawang, Jawa Barat.
