Puisi: Syair Pohon yang Terbakar (Karya Mardi Luhung)

Puisi “Syair Pohon yang Terbakar” karya Mardi Luhung menggambarkan kehancuran, trauma, dan pergulatan batin manusia melalui citraan api dan kebakaran.

Syair Pohon yang Terbakar

Pohon yang terbakar
mengingatkan aku pada
gedung-gaib yang juga

terbakar di tempat
bukan ini

warnanya-api, api-aneh
seperti keanehan-lidah
saat ingin menjilat

seluruh rasa yang tertempel
di udara dan kabut: "kabut
yang penuh gas,"

lihat di batang dagingnya
yang hangus itu, ada lentik,
ada desis, desis apa?

gosok mata:
"Raksasa-melata pun meringkuk
seperti matahari-retak,"

"Matahari-retak,"

tapi, kenapa tak gentar?
kengerian yang nikmat
untuk ditelankan ke dalam perutnya

ke dalam kamar-kamarnya,
ruang-ruangnya, gelas-gelasnya,
yang terisi oleh sekian

sembab yang pernah terlupa
atas tumpukan yang tersebar
dalam kutuk dan pinta

pinta dan kata, kata dan
data: "Pemadam, pemadam, pemadam,"

tapi, di asap, arang dan abu
pohon yang terbakar itu
terus saja terbakar

terbakar dalam hening,
hening yang lenyap, lenyap
yang pengap

dan di pusar pengap
aku (setelah hari ini ke depan)
pun dituntun lengannya


lengan yang terbalut kelembutan
dan ketersatupun, dan seperti
hasrat-nyali-seekor-kucing

yang berlompatan
pusar-pengap itu mengulumkan
penampangnya ke mulut

mulut-yang-kerak, mulut yang sedia
menyajikan lubangnya ke sekujur
organ yang terahasia:

"Organ yang juga terbakar"
akh, awasi raksasa-melata yang
terus saja meringkuk itu!

Gresik, 2001

Sumber: Dari Amerika ke Catatan Langit (2005)

Analisis Puisi:

Puisi “Syair Pohon yang Terbakar” karya Mardi Luhung merupakan puisi yang sarat simbolisme dan menghadirkan suasana surealis. Melalui citraan api, asap, arang, serta berbagai metafora yang tidak lazim, penyair mengajak pembaca memasuki ruang refleksi tentang kehancuran, ingatan, trauma, dan kondisi batin manusia. Puisi ini tidak menawarkan makna yang tunggal, melainkan membuka berbagai kemungkinan tafsir yang kaya dan mendalam.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehancuran dan pergulatan batin manusia dalam menghadapi trauma, kengerian, serta perubahan yang sulit dipahami. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang ingatan, kematian, kehilangan, dan misteri kehidupan yang terus membekas dalam kesadaran manusia.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menyaksikan sebuah pohon terbakar. Namun, pohon tersebut bukan sekadar objek fisik. Kebakaran itu membangkitkan ingatan terhadap sebuah "gedung-gaib" yang juga pernah terbakar di tempat lain.

Seiring perkembangan puisi, api tidak hanya membakar pohon, tetapi juga menjadi simbol kehancuran yang menjalar ke berbagai ruang kehidupan. Penyair melihat berbagai gambaran aneh seperti "raksasa-melata", "matahari-retak", dan "organ yang juga terbakar". Semua gambaran tersebut menciptakan suasana mimpi yang mengandung kecemasan dan ketidakpastian.

Pada bagian akhir, penyair seolah terseret ke dalam pusaran pengap yang lahir dari kebakaran tersebut. Kehancuran tidak lagi berada di luar dirinya, melainkan menjadi bagian dari pengalaman batin yang harus dihadapi.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini dapat dipahami sebagai gambaran tentang trauma yang terus menyala dalam ingatan manusia. Pohon yang terbakar dapat dimaknai sebagai simbol kehidupan, sejarah, atau kesadaran yang mengalami kerusakan.

"Gedung-gaib" yang disebutkan dalam puisi bisa ditafsirkan sebagai peristiwa masa lalu yang masih menghantui ingatan kolektif. Api menjadi lambang kehancuran yang tidak pernah benar-benar padam.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa manusia sering kali hidup berdampingan dengan berbagai ketakutan dan luka yang tersembunyi. Meski kehancuran telah terjadi, bekasnya tetap hidup dalam kesadaran dan membentuk cara seseorang memandang dunia.

Amanat atau Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Kehancuran dan penderitaan sering meninggalkan jejak panjang dalam kehidupan manusia.
  • Jangan mengabaikan luka atau trauma yang masih tersimpan dalam diri.
  • Manusia perlu berani menghadapi kenyataan pahit yang hadir dalam hidupnya.
  • Peristiwa besar yang menyakitkan dapat terus hidup dalam ingatan meskipun waktu telah berlalu.
  • Di balik setiap kehancuran terdapat pelajaran tentang ketahanan dan kesadaran diri.
Puisi “Syair Pohon yang Terbakar” karya Mardi Luhung merupakan puisi simbolik yang menggambarkan kehancuran, trauma, dan pergulatan batin manusia melalui citraan api dan kebakaran. Penyair menggunakan bahasa yang padat, surealis, dan penuh metafora sehingga pembaca diajak menafsirkan berbagai lapisan makna di dalamnya. Melalui suasana yang mencekam, misterius, dan kontemplatif, puisi ini mengingatkan bahwa luka dan kehancuran sering kali tidak benar-benar hilang, melainkan terus hidup dalam ingatan dan kesadaran manusia.

Mardi Luhung
Puisi: Syair Pohon yang Terbakar
Karya: Mardi Luhung

Biodata Mardi Luhung:
  • Mardi Luhung lahir pada tanggal pada 5 Maret 1965 di Gresik, Jawa Timur.
© Sepenuhnya. All rights reserved.