Puisi: Tanggal Merah Meratus (Karya Ariffin Noor Hasby)

Puisi "Tanggal Merah Meratus" karya Ariffin Noor Hasby menyiratkan kekhawatiran terhadap perubahan zaman yang dapat membuat masyarakat kehilangan ...

Tanggal Merah Meratus


Sehari dalam kalender meratus
tandailah tanggal merah untuk mencari jazirah
sungai yang penuh misteri
dimana kau pernah mengbentangkan jiwa rakit
bambu, membaca bisu perahu, menjahit tebing-
tebing batu

Pada pendakian beribu kaki
yang tak ingat lagi alamat telaga api
mestikah kita berselisih tentang peta perjalanan ke
bawah tanah purba
yang memisahkan suara kepak pedalaman
dengan garis wajah bumi moyangmu yang
memeram batu cadas kehidupan

lalu dimanakah kita singgah
untuk menghamparkan mimpi dusun-dusun sepi
yang kehilangan alas kaki di kilometer masa depan

Banjarbaru, Agustus 2017

Sumber: Radar Banjarmasin (4 Februari 2018)

Analisis Puisi:

Puisi "Tanggal Merah Meratus" karya Ariffin Noor Hasby menghadirkan refleksi puitis tentang hubungan manusia dengan alam, sejarah, dan identitas budaya. Dengan menjadikan Pegunungan Meratus sebagai latar simbolik, penyair mengajak pembaca menyusuri sungai, tebing, telaga, hingga dusun-dusun yang menyimpan jejak kehidupan masa lampau sekaligus menghadapi tantangan masa depan.

Puisi ini tidak hanya menggambarkan bentang alam Meratus secara fisik, tetapi juga menghadirkan perjalanan batin untuk memahami akar budaya dan arah kehidupan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah hubungan manusia dengan alam, sejarah, dan identitas budaya. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang perjalanan hidup, pelestarian warisan leluhur, serta pencarian jati diri di tengah perubahan zaman.

Puisi ini bercerita tentang sebuah perjalanan menyusuri kawasan Meratus yang dipenuhi kenangan, misteri, dan nilai-nilai kehidupan.

Pada awal puisi, penyair mengajak pembaca menandai "tanggal merah" sebagai waktu khusus untuk kembali mencari makna di sebuah jazirah dan sungai yang penuh misteri.

"tandailah tanggal merah untuk mencari jazirah
sungai yang penuh misteri"

Perjalanan tersebut tidak hanya bersifat geografis, tetapi juga batiniah. Penyair mengenang bagaimana seseorang pernah "membentangkan jiwa rakit", "membaca bisu perahu", dan "menjahit tebing-tebing batu". Semua ungkapan itu menggambarkan kedekatan manusia dengan alam.

Pada bait berikutnya, perjalanan berlanjut ke pegunungan, telaga api, dan tanah purba. Penyair mempertanyakan apakah perbedaan pandangan harus memisahkan manusia dari akar sejarah dan budaya yang diwariskan oleh para leluhur.

Di bagian akhir, muncul pertanyaan tentang tempat persinggahan untuk membangun kembali harapan bagi dusun-dusun yang tertinggal di tengah laju perkembangan zaman.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa alam bukan sekadar ruang fisik, melainkan tempat tersimpan sejarah, identitas, dan kebijaksanaan yang membentuk kehidupan manusia.

Penyair juga menyiratkan kekhawatiran terhadap perubahan zaman yang dapat membuat masyarakat kehilangan hubungan dengan akar budayanya. Ungkapan tentang "dusun-dusun sepi" dan "kilometer masa depan" menggambarkan tantangan yang dihadapi masyarakat lokal ketika berhadapan dengan modernisasi.

Melalui perjalanan menuju Meratus, penyair mengajak pembaca untuk tidak melupakan nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhur.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Hargailah alam sebagai bagian dari identitas dan sejarah kehidupan manusia.
  • Jangan melupakan warisan budaya serta nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhur.
  • Perbedaan pandangan seharusnya tidak memutus hubungan dengan akar sejarah dan kebersamaan.
  • Pembangunan masa depan perlu tetap memperhatikan kehidupan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
  • Jadikan perjalanan hidup sebagai sarana untuk memahami diri, alam, dan asal-usul.
Puisi "Tanggal Merah Meratus" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi yang memadukan keindahan alam dengan refleksi tentang sejarah, budaya, dan masa depan. Melalui perjalanan simbolis menyusuri Meratus, penyair mengajak pembaca memahami bahwa alam menyimpan identitas dan nilai-nilai kehidupan yang tidak boleh dilupakan.

Ariffin Noor Hasby
Puisi: Tanggal Merah Meratus
Karya: Ariffin Noor Hasby

Biodata Ariffin Noor Hasby:
  • Ariffin Noor Hasby lahir pada tanggal 20 Februari 1964 di Marabahan, Kabupaten Batola, Kalimantan Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.