Tebesaya, Gadis Berputih Kebaya
— "di tebesaya,
aku gadis berputih-kebaya. telinga
berselip bunga kamboja, yang putik-sarinya
dapat kau lihat ranum di mataku." —
tetapi, di tebesaya,
aku hanya lelaki-tualang dan kau berkebaya
ketat bersulam bunga mawar sehalus kulitmu
dengan songket hijau-merak melilit pinggulmu.
depan kedai tarot, saat aku
melintas lewat, kau sodorkan sebuah kartu.
"page of swords!" katamu.
aku tergagap bingung, kau tersenyum senang.
tahu apa aku
tentang kartu tarot? aku bahkan tak mampu
bedakan, gambar penyihir dengan penyair. lagi
pula, tak akan ada ramalan menarik dari
nasibku.
di tebesaya,
aku terkesima pura
kecil tepi persawahan, lengkung penjor,
uap harum dupa sesajen, suara dekur tekukur
dari rimbun dahan beringin.
tetapi sungguh,
wahai gadis berputih-kebaya,
tak akan ada ramalan menarik dari nasibku.
bahkan hingga sejauh tebesaya,
selain putik-sari yang ranum di matamu,
aku masih saja pendatang asing bagi jiwaku.
Ubud-Makassar, 2004-2008
Sumber: Bagian Paling Perih dari Mencintai (Kepustakaan Populer Gramedia, 2021)
Catatan:
Page of swords, simbol dalam kartu tarot yang mengacu ke anak muda (perempuan-lelaki) terpelajar.
Analisis Puisi:
Puisi "Tebesaya, Gadis Berputih Kebaya" karya Aslan Abidin merupakan puisi liris yang memadukan keindahan budaya Bali dengan perenungan identitas diri. Melalui perjumpaan antara seorang pengembara dan seorang gadis berkebaya putih di Tebesaya, penyair menghadirkan kisah yang tidak sekadar berbicara tentang ketertarikan terhadap seseorang, tetapi juga tentang pencarian makna hidup dan pergulatan batin manusia.
Keindahan alam, simbol-simbol budaya, dan nuansa spiritual dalam puisi ini berpadu dengan perasaan asing terhadap diri sendiri, sehingga menghasilkan pengalaman puitik yang mendalam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pencarian jati diri yang dibalut dalam pengalaman perjumpaan, keindahan, dan keterasingan batin. Tema pendukung yang juga tampak dalam puisi ini antara lain:
- Kekaguman terhadap seseorang.
- Keindahan budaya dan tradisi lokal.
- Perjalanan seorang pengembara.
- Ketidakpastian nasib manusia.
- Refleksi tentang identitas diri.
Puisi ini bercerita tentang seorang lelaki pengembara yang bertemu dengan seorang gadis berkebaya putih di Tebesaya. Gadis tersebut digambarkan begitu memesona, dengan bunga kamboja yang terselip di telinga, songket hijau-merak yang melilit pinggang, serta tatapan mata yang memikat.
Dalam pertemuan itu, sang gadis memberikan sebuah kartu tarot bertuliskan "Page of Swords". Namun, penyair mengaku tidak memahami dunia tarot maupun ramalan nasib. Ia justru lebih terpesona oleh suasana Tebesaya yang penuh keindahan budaya: pura kecil di tepi sawah, penjor yang melengkung, harum dupa, dan suara tekukur.
Meski demikian, di balik kekaguman tersebut, penyair menyadari bahwa dirinya masih merasa asing terhadap dirinya sendiri. Ia belum menemukan jawaban atas pencarian batinnya.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa perjalanan fisik ke tempat-tempat indah tidak selalu sejalan dengan perjalanan batin menuju pemahaman diri.
Gadis berkebaya dapat dimaknai sebagai simbol keindahan, misteri, atau bahkan petunjuk hidup yang muncul dalam perjalanan seseorang. Sementara kartu tarot melambangkan usaha manusia untuk mengetahui masa depan.
Namun, penyair menunjukkan bahwa persoalan terbesar bukanlah mengetahui masa depan, melainkan memahami diri sendiri. Kalimat:
"aku masih saja pendatang asing bagi jiwaku"
menjadi inti makna puisi ini, yaitu perasaan terasing dari diri sendiri meskipun telah melakukan perjalanan jauh.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Perjalanan hidup bukan hanya tentang menjelajahi tempat baru, tetapi juga mengenali diri sendiri.
- Keindahan dunia luar tidak selalu mampu menghilangkan kegelisahan batin.
- Jangan terlalu bergantung pada ramalan atau prediksi masa depan.
- Proses memahami diri adalah perjalanan yang panjang dan mendalam.
- Hargailah keindahan budaya dan tradisi sebagai bagian dari pengalaman hidup.
Puisi "Tebesaya, Gadis Berputih Kebaya" karya Aslan Abidin merupakan puisi yang memadukan keindahan budaya, pesona perjumpaan, dan pencarian jati diri. Melalui sosok gadis berkebaya putih dan latar Tebesaya yang eksotis, penyair menghadirkan pengalaman yang tidak hanya memanjakan indra, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan makna perjalanan hidup.
Puisi ini menyampaikan bahwa perjalanan terjauh manusia bukanlah menuju tempat yang asing, melainkan menuju pemahaman terhadap dirinya sendiri.
Puisi: Tebesaya, Gadis Berputih Kebaya
Karya: Aslan Abidin
Biodata Aslan Abidin:
- Aslan Abidin lahir pada tanggal 31 Mei 1972 di Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan.