Tembang Alam Meratus
Hutan meratus itu tubuh peradaban orang-orang
pedalaman:
dunia yang tumbuh dari amis biji dan baut batu
yang kau kawinkan dalam tungku matahari
hingga waktu memeramnya di rahim alam
lalu hidup yang perih membebat perutnya
menjadi kabel-kabel keterasingan, tabel-tabel ke
miskinan dan ketapel-ketapel perlawanan
mantera-mantera jiwa yang dibusurkan dalam
panah beracun, melesatlah!
sebagai genta peperangan pada siapa saja yang
mengganggu tanah air nenek moyang kami, kata
orang-orang yang menyimpan api dalam
hujan tropis
menyimpan kesabaran dalam air bah penderitaan
sehabis suara-suara satwa menuakan hidup per
kampungan
sebelum kaki-kaki kayu pegunungan menyimpuh
diam di antara cahaya logam kekuasaan dan karat
legam kemerdekaan!
Banjarbaru, Agustus 2017
Sumber: Radar Banjarmasin (4 Februari 2018)
Analisis Puisi:
Puisi "Tembang Alam Meratus" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi yang mengangkat hubungan erat antara masyarakat pedalaman dengan alam, khususnya Pegunungan Meratus. Penyair memotret hutan bukan sekadar bentang geografis, melainkan ruang kehidupan yang melahirkan sejarah, budaya, identitas, sekaligus perjuangan masyarakat adat dalam mempertahankan tanah leluhur mereka.
Melalui simbol-simbol seperti hutan, api, hujan, panah, dan logam, puisi ini juga menyampaikan kritik terhadap eksploitasi alam dan ketimpangan sosial yang mengancam kehidupan masyarakat pedalaman. Penyair mengajak pembaca memahami bahwa alam dan manusia merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah hubungan manusia dengan alam serta perjuangan masyarakat adat dalam mempertahankan tanah leluhur dan identitas budaya. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang perlawanan terhadap ketidakadilan, pelestarian lingkungan, kemiskinan struktural, serta keteguhan masyarakat pedalaman menghadapi perubahan zaman.
Puisi ini bercerita tentang kehidupan masyarakat pedalaman yang menjadikan Hutan Meratus sebagai bagian dari tubuh dan peradaban mereka. Hutan menjadi tempat lahirnya kehidupan, tradisi, serta hubungan spiritual dengan alam.
Namun, kehidupan tersebut tidak lepas dari berbagai penderitaan. Masyarakat menghadapi keterasingan, kemiskinan, dan ancaman terhadap tanah leluhur mereka. Meski demikian, mereka tetap menyimpan semangat perlawanan yang digambarkan melalui mantra, panah beracun, dan api yang tetap menyala meskipun berada di tengah hujan tropis.
Pada bagian akhir, penyair menggambarkan benturan antara alam yang damai dengan kekuatan kekuasaan yang diwakili oleh "cahaya logam". Gambaran ini menjadi simbol ancaman modernisasi dan eksploitasi yang dapat merusak keseimbangan alam serta kehidupan masyarakat adat.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa menjaga alam berarti menjaga kehidupan, sejarah, dan identitas suatu masyarakat.
Hutan Meratus bukan sekadar sumber daya alam, melainkan ruang yang menyimpan nilai budaya, spiritualitas, dan keberlangsungan hidup masyarakat pedalaman. Ketika alam dirusak demi kepentingan ekonomi atau kekuasaan, yang hilang bukan hanya pepohonan, tetapi juga peradaban dan jati diri manusia.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa masyarakat adat memiliki kekuatan batin yang lahir dari kesabaran dan kecintaan terhadap tanah leluhur. Perlawanan mereka bukan semata-mata bersifat fisik, melainkan juga perjuangan mempertahankan nilai-nilai kehidupan.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Amanat atau pesan yang disampaikan dalam puisi ini antara lain:
- Jagalah alam karena alam merupakan sumber kehidupan dan identitas masyarakat.
- Hormatilah hak-hak masyarakat adat atas tanah leluhur mereka.
- Jangan mengejar kemajuan dengan mengorbankan kelestarian lingkungan.
- Kesabaran dan persatuan menjadi kekuatan dalam menghadapi ketidakadilan.
- Perjuangan mempertahankan budaya dan alam merupakan tanggung jawab bersama.
Puisi "Tembang Alam Meratus" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi yang memadukan refleksi ekologis, budaya, dan sosial. Penyair menggambarkan Hutan Meratus sebagai ruang kehidupan yang tidak hanya menyediakan sumber penghidupan, tetapi juga membentuk identitas, sejarah, dan semangat perjuangan masyarakat pedalaman.
Puisi ini menghadirkan kritik yang kuat terhadap ancaman terhadap alam dan masyarakat adat, sekaligus mengingatkan bahwa melindungi alam berarti menjaga keberlangsungan budaya, kemanusiaan, dan warisan leluhur agar tetap hidup bagi generasi yang akan datang.
Karya: Ariffin Noor Hasby
Biodata Ariffin Noor Hasby:
- Ariffin Noor Hasby lahir pada tanggal 20 Februari 1964 di Marabahan, Kabupaten Batola, Kalimantan Selatan.