Tembang Senja Barito
Inilah sungai sedingin kata-kata yang mengalir
dari lidahmu yang keruh:
alam perahu yang dilayarkan masa lalu dari balik
batu-batu yang membusuk
melintasi lanting-lanting jiwa menghilirkan mimpi
purnama kampung-kampung tak bernama
entah sampai kemana
Hanya asin jiwamu yang kurasakan
menjadi garam perjalanan zaman yang
menyimpan igauan kota-kota di muara
yang kehilangan perut sungai ketika tulang
belulang ikan yang mati keracunan
ditinggalkan manusia
yang telah mencium misteri perahu nelayan
dari suara air yang terusik oleh limbah kemajuan
Banjarbaru, Agustus 2017
Sumber: Radar Banjarmasin (4 Februari 2018)
Analisis Puisi:
Puisi "Tembang Senja Barito" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi yang memadukan keindahan alam dengan kritik ekologis. Sungai Barito, yang menjadi salah satu sungai terbesar di Kalimantan, dihadirkan bukan hanya sebagai bentang alam, tetapi juga sebagai simbol sejarah, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat yang kini menghadapi ancaman akibat perubahan zaman.
Melalui bahasa yang puitis dan penuh simbol, penyair memperlihatkan bagaimana sungai menyimpan kenangan masa lalu sekaligus menjadi saksi kerusakan lingkungan. Puisi ini mengajak pembaca merenungkan hubungan manusia dengan alam serta konsekuensi dari pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekosistem.
Tema
Tema utama puisi ini adalah hubungan antara manusia, sungai, dan perubahan zaman yang memengaruhi kelestarian alam serta kehidupan masyarakat. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kenangan, identitas budaya sungai, kerusakan lingkungan, dan kritik terhadap modernisasi yang tidak ramah alam.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kemajuan tidak selalu membawa kebaikan apabila mengorbankan lingkungan. Sungai Barito menjadi lambang kehidupan yang perlahan kehilangan jati dirinya akibat pencemaran dan eksploitasi.
Penyair juga menyiratkan bahwa sejarah dan budaya masyarakat sungai tidak dapat dipisahkan dari kelestarian alam. Jika sungai rusak, maka bukan hanya ekosistem yang hilang, tetapi juga identitas budaya yang telah tumbuh selama berabad-abad.
Selain itu, puisi ini mengingatkan bahwa manusia sering kali terlena oleh kemajuan hingga lupa menjaga sumber kehidupan yang sesungguhnya.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
- Jagalah sungai sebagai sumber kehidupan dan warisan budaya.
- Kemajuan hendaknya berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan.
- Jangan mengorbankan alam demi kepentingan sesaat.
- Belajarlah menghargai sejarah yang tersimpan dalam bentang alam.
- Kesadaran manusia sangat menentukan masa depan lingkungan.
Puisi "Tembang Senja Barito" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi reflektif yang memadukan keindahan alam Sungai Barito dengan kritik terhadap kerusakan lingkungan akibat modernisasi. Sungai tidak hanya digambarkan sebagai bentang alam, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Kalimantan.
Puisi ini mengingatkan bahwa kemajuan seharusnya tidak menghilangkan keseimbangan alam, karena sungai bukan sekadar aliran air, melainkan denyut kehidupan dan identitas sebuah peradaban.
Karya: Ariffin Noor Hasby
Biodata Ariffin Noor Hasby:
- Ariffin Noor Hasby lahir pada tanggal 20 Februari 1964 di Marabahan, Kabupaten Batola, Kalimantan Selatan.