Mata Pelajaran Sanu, Sang Guru
Tentang Adam Adam
sejak mula sejak awal Adam diajarkan diajarkan diajarkan
sejak mula diajarkan nama nama benda
sejak pertama Adam lebih pandai sejak mula lebih pandai
sejak mula lebih pandai dari malaikat malaikat
sejak mula sejak awal Adam jatuh cinta pada benda benda
sejak mula adam adam berbunuhan sejak mula
karena benda hanya karena benda benda
sejak mula adam adam menimbun benda benda
sejak mula benda-benda menimbun adam-adam
sejak mula adam sesak nafasnya sesak
sejak mula adam telah mati bersama kami telah mati
Karena adam adam adalah Sanu
Dan Sanu itu aku Sanu itu kamu
Bukankah kita telah lama dalam kontrak pembunuhan ini?
Karena itu dengarlah Aku, karena itu
Kita telah lama mati telah lama mati telah lama
Sumber: Horison (April, 1985)
Analisis Puisi:
Puisi "Tentang Adam Adam" karya Motinggo Boesje merupakan puisi filosofis dan kritis yang membahas hakikat manusia, hubungan manusia dengan benda-benda material, serta dampak keserakahan terhadap kehidupan. Melalui simbol "Adam" dan "Sanu", penyair mengajak pembaca melakukan refleksi mendalam terhadap kondisi manusia modern yang semakin terikat pada kepemilikan dan materialisme.
Puisi ini tidak hanya berbicara tentang kisah Adam sebagai manusia pertama, tetapi juga tentang seluruh umat manusia yang terus mengulangi kesalahan yang sama sejak awal peradaban.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kritik terhadap materialisme dan keserakahan manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema:
- Hakikat kemanusiaan.
- Kehilangan nilai spiritual.
- Konflik antarmanusia.
- Kesadaran diri.
- Kehidupan dan kematian batin.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan manusia sejak awal penciptaannya. Penyair mengingatkan bahwa sejak awal Adam telah diajarkan pengetahuan dan bahkan memiliki kelebihan dibandingkan para malaikat karena kemampuannya mengenali nama-nama benda.
Namun, kemampuan tersebut justru membuat manusia semakin terikat pada benda-benda duniawi. Kecintaan yang berlebihan terhadap harta dan kepemilikan melahirkan persaingan, pertikaian, bahkan pembunuhan antarsesama manusia.
Seiring waktu, manusia terus menimbun benda-benda. Ironisnya, bukan manusia yang menguasai benda, melainkan benda-benda yang akhirnya menguasai manusia. Akibatnya, manusia kehilangan kebebasan, kehilangan makna hidup, dan mengalami "kematian" secara batiniah.
Pada bagian akhir, penyair menyatakan bahwa Adam adalah Sanu, dan Sanu adalah aku serta kamu. Dengan kata lain, persoalan yang dibicarakan dalam puisi ini bukan hanya tentang tokoh tertentu, melainkan tentang seluruh manusia.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa keserakahan dan keterikatan berlebihan terhadap materi dapat membuat manusia kehilangan kemanusiaannya.
Adam dalam puisi ini menjadi simbol seluruh umat manusia. Sementara benda-benda melambangkan kekayaan, kekuasaan, dan berbagai bentuk kepemilikan duniawi yang sering menjadi tujuan utama kehidupan manusia.
Ungkapan bahwa manusia telah lama mati bukan berarti kematian fisik, melainkan kematian moral, spiritual, dan nurani. Manusia masih hidup secara jasmani, tetapi kehilangan kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa konflik, perang, dan ketidakadilan sering kali berakar pada perebutan benda-benda duniawi.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
- Jangan menjadikan harta dan benda sebagai tujuan utama kehidupan.
- Gunakan pengetahuan untuk kebaikan, bukan untuk memuaskan keserakahan.
- Sadari bahwa konflik sering muncul karena perebutan kepentingan material.
- Peliharalah nilai kemanusiaan dan spiritualitas dalam kehidupan.
- Lakukan introspeksi agar tidak menjadi "mati" secara moral dan batin.
Puisi ini mengajak manusia untuk kembali pada nilai-nilai kemanusiaan yang lebih luhur daripada sekadar kepemilikan materi.
Puisi "Tentang Adam Adam" karya Motinggo Boesje merupakan puisi filosofis yang mengkritik kecenderungan manusia untuk terlalu mencintai benda-benda material. Melalui simbol Adam dan Sanu, penyair menunjukkan bahwa keserakahan telah melahirkan konflik, penderitaan, dan kematian batin sejak awal sejarah manusia. Dengan gaya yang reflektif dan penuh simbol, puisi ini mengajak pembaca untuk melakukan introspeksi, menyadari keterbatasan dunia material, serta kembali menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari.
Karya: Motinggo Boesje
Biodata Motinggo Boesje:
- Motinggo Boesje (Motinggo Busye) lahir di Kupang Kota, pada tanggal 21 November 1937.
- Motinggo Boesje meninggal dunia di Jakarta, pada tanggal 18 Juni 1999 (pada usia 61 tahun).
- Nama lahir Motinggo Boesje adalah Bustami Djalid.
